January 07, 2015

Book of Innocence and Sincerity

So there you are!
A little-innocent girl's book full of words she can't say. She can't say. She will never say.

It's funny how this book bumped up in front of me after a long-long-long time.
Gue bergidik, sedikit tersenyum mengira-ngira tulisan apa yang gue buat dulu. Gue bahkan lupa apa yang telah gue tulis. Sebanyak itu, bahkan masih ada lagi. Mungkin karena setelah menulis, gue merasa lega, sehingga apa yang gue rasakan sebelum menuliskannya, hilang begitu saja. Meski tidak semuanya.

Satu lembar pertama. Gue bangga dengan tulisan gue yang dulu memang rapi. Dulu gue senang menulis, apapun gue tulis. Ya, dengan pena di atas kertas. Tugas sebanyak apapun gue tulis, catatan apapun gue salin, perasaan apapun gue tulis. Gue juga suka berganti-ganti gaya tulisan (baca: font). Gue pernah menganggap itu adalah sebuah keahlian, tapi akhirnya gue sadar, itu nggak terlalu pantas untuk dibangga-banggakan. Moody.

The Thinker Bell one was the better >.<


Satu lembar pertama sungguh tulisan yang bodoh. Lalu ke lembar berikutnya hingga terus ke lembar terakhir. Gue tersenyum nyinyir. Dalam hati menertawakan diri sendiri. Bagaimana gue bisa sebodoh dan senaif dan sepolos itu menuliskannya? Apa sebenarnya yang dulu gue pikirkan? Haha. Lagi-lagi gue tersenyum nyinyir.

Sedetik kemudian, saat menutup lembar terakhir, tiba-tiba saja langit di pandangan gue menjadi hal yang menarik. Awan kumulus kah yang menarik perhatian gue? Atau guratan asap pesawat yang melintas? Entah. Tapi gue tidak memperhatikan itu. Scene-scene masa lalu muncul bergantian.

Itu bukan tulisan bodoh. Banyak ketulusan di dalamnya. Banyak dongeng yang lahir. Banyak harapan. Banyak pikiran-pikiran positif. Banyak sekali keoptimisan. Banyak inspirasi.

How admiring someone secretly can be that beautiful...

How someone who doesn't notice you can be so inspiring...

How someone you don't even talk to you can help you build your own fairy tale...

Build hopes, positive minds, optimisms, sincerity...

It once crossed my mind to make it happen, to confess it. But, I think, it's better this way. Better be a secret. Better be a fairy tale forever that I would thank for.

So I thank for the fairy tale
for the hopes
for the optimisms
for the inspirations
...that born from

Now it's all different. Mungkin kisah yang sekarang ngga seperti dongeng yang gue inginkan dulu. Tapi semuanya sudah berbeda.

But I never away from fairy tale
because I'm a dreamer
I don't care if it's idiot
Dream is a beautiful thing
It has a lot of hopes and positive thoughts

And I found that, not all positive thinker is a dreamer, but all dreamer must be a positive thinker. Positive mind. It's all that mattered.

No comments:

Post a Comment