Showing posts with label cerita. Show all posts
Showing posts with label cerita. Show all posts

July 26, 2016

JOGJAMETS - Heading Back Home

24 April, 2015
 
Hari terakhir di Jogja...
Hari ini udah harus pulang

Harus banget, ya?

Bangun tidur, dengan tirai terbuka dan mempertontonkan langit luas, gue duduk di samping tempat tidur, memandangi langit, terdiam. Udah harus pulang ya, hari ini? Rasanya ngga mau pulang. Enak banget di sini. Tapi, baiklah, kapan-kapan ke sini lagi, ya...

Semua barang sudah rapi dan packed di tas masing-masing. Waktunya check out.

Hari kepulangan ini, kami ngga nyewa mobil lagi. Engga. Kami keluar hotel dan jalan kaki menuju halte bus transJogja. Yup, dengan bawaan yang rasanya tambah berat, kami memutuskan naik transJogja. Tujuannya tentu saja stasiun Tugu. Karena pemberhentian yang paling dekat dengan stasiun Tugu adalah Jalan Malioboro, kami pun singgah di sana sebentar. Iya, kami transit dulu untuk ganti bus. Capek mulai terasa gara-gara barang bawaan.

Sampai di kawasan Malioboro, kami makan siang di restoran cepat saji Mc Donald's. Menghabiskan waktu dengan bersenda gurau dan random-randoman.

Tato-tatoan
Mengantisipasi kehujanan, dan di saat mendekati waktu keberangkatan, kami memutuskan untuk jalan saja ke stasiun dan menunggu di sana. Backpackernya berasa banget saat harus jalan kaki dengan bawaan yang banyak.

Random-randoman lagi

Ngemil Malam


Train is Coming!

Masuk gerbong, kaget, karena banyak banget penumpangnya. Hampir penuh malah. Kaget, karena waktu berangkat ngga kayak gini ramenya. Kami udah males aja bawaannya, haha. Tapi mau gimana lagi, ya udah, being normal untuk sementara, hingga akhirnya...

"Eh, pindah gerbong, yuk."
"Emang boleh?"
"Ah, boleh kali. Kan suka ada gerbong kosong di paling belakang."
"Emang boleh?"
"Coba aja..."
"Ya udah nanti di stasiun berikutnya, kita pindah."

Jadi, saat kereta berenti di satu stasiun, kami siap-siap dengan barang bawaan, seolah-olah hendak turun di stasiun tersebut. Waktu itu kami pindah saat kereta sedang berhenti di stasiun Kroya.

"Eh udah sampe Korea, nih. Ayo turun."
"KROYA, jamet!"

Orang-orang sekitar kami pun agak bingung sepertinya. Ngapain bocah-bocah ini turun di Kroya???





Yang dilakukan selama di kereta kalo udah capek dan bosen ngobrol ya... serius dengan dunianya masing-masing. Dingin banget juga, by the way, di kereta malam waktu itu. Mungkin karena gerbongnya kosong kali, ya. Soalnya di gerbong normal sebelumnya, ngga berasa dinginnya.

Main hp
Tidur-tiduran
Ngemil
Ngobrol
Repeat, hingga akhirnya, semua tertidur walau dengan kaki ditekuk-tekuk. Masih lumayan, bisa duduk kursinya masing-masing, sih, dibanding kalo tetap bertahan di gerbong sebelumnya. Mungkin kami bakal kepegelan di punggung karena harus tidur sambil duduk. Tapi, pindah gerbong kayak gini bukan untuk ditiru ya... Hehehe...

Jam 3 pagi kereta berhenti di stasiun Bekasi. Gue dan Risma memutuskan untuk turun di sana. Gue sebenernya bingung, nanti pulangnya gimana, karena rumah gue dan Risma berlawanan arah. Agak takut juga pulang sendiri. Tapi akhirnya, gue beraniin aja deh, naik taksi.

Di taksi, bapak drivernya ngajakin ngobrol...
"Mbaknya dari mana?"
"Dari Jogja, pak."
"Oh, kuliah ya?"
Gue dikira kuliah lagi... Bodo ah. Ini pertanyaan ke sekian kalinya yang ditanyakan ke gue. Waktu di Jogja, semua driver rent car waktu itu menanyakan ini. Gue tergelitik untuk menanggapinya dengan jawaban yang berbeda.
"Hehe, iya pak." jawab gue
"Ooh... lagi bisa pulang ini ya? Jurusan apa mbak kuliahnya?"
"Arsitektur, pak." I'm so over it, but I can't help. Hahaha. Gue semakin tergelitik untuk respon selanjutnya.
"Wah, sibuk dong ya berarti. Tapi ini kok, bisa pulang ya?"
"Iya pak, disempetin aja ini. Ini juga cuma sebentar, nanti balik lagi ke Jogja." gue ngakak dalam hati. Kebetulan, gue sampe rumah itu hari Sabtu pagi dini hari. Jadi mungkin gue dikiranya lagi pulang pas weekend. Hahaha.
"Ooh, wah, bolak-balik dong, ya."
"Iya... Eh pak pak, belokannya udah kelewat tadi pak."
"Wah, sampe kelewat ini jalannya. Haha."

Turun dari taksi, gue senyum-senyum sendiri, dalam hati ketawa ngakak. HAHAHAHA. Anak arsitektur... WKWKWKWKWWK.... Maafkan saya bapak driver, hahahaha.

So that was an epic closing for this trip
I'm so sorry if there was any thing inappropiate and irrelevant and sorry for a very very late posting

Anyway, thank you so so much for visiting this blog
XOXO

JOGJAMETS, closed



April 22, 2016

JOGJAMETS - Mantai

JAMET! Jalan-Jalan, Met!

22 April, 2015

Cari makan siang! Setelah lelah dan seru ber-tubing riang. Mas Deni bilang, di dekat sini ada restoran ayam geprek yang enak, namanya Gudeg Yu Tum. Kami ngga ada yang mesen gudeg. Hahaha. Tapi emang bener, enak ayam gepreknya. Sambelnya, pedese rek! Gue ngga sanggup menghabiskannya. Gue kasih ke Risma. Hehehe. Selesai makan siang, lanjut lagi jalan. Pantai-pantai di Gunung Kidul pengen banget dikunjungi kayaknya. Udah mulai sore, jadi ngga bisa mengunjungi semua pantai, deh. Pantai pertama, pantai Indrayanti (nama aslinya itu pantai Pulang Syawal, tau). Rame! Iya, karena pantai ini merupakan salah satu pantai yang paling terkenal.


Foto kaki

Foto kaki lagi...

Minta tolong fotoin
Pantai Indrayanti ramai


Wefie

Wefie 2

Beralih ke pantai selanjutnya, pantai Krakal. Di sini sepi, sepi banget malah. Di pantai ini kami menghabiskan waktu agak banyak, terutama untuk foto-foto.

Kelakuan jamet


Tetua JAMET sedang memberi mandat


JAMET! Jalan-Jalan, Met!

Yeay!
Ngga tau semua pantai di Gunung Kidul sama atau ngga, tapi kalo gue perhatiin, pantai Krakal dan Indrayanti itu di tepinya banyak sekali batu karang. Jadi, ngga bisa langsung berenang buat yang mau berenang. Lihat, kan, 2 foto kaki yang gue posting di atas? Banyak karangnya. By the way, kami mau ke Pok Tunggal, tapi mas Deni bilang, jalanannya sedang dalam perbaikan, jadi ngga bisa dilewati, lagipula, sudah terlalu sore untuk ke Pok Tunggal. Yah...

Jadilah kami menghabiskan sore ke Nglanggeran. Naik sedikit ke waduk kecil, Embung Nglanggeran. Kalau langit cerah, kami bisa lihat sunset yang epic banget di sana.

Ini horizon yang katanya sunset-nya epic banget

Embung Nglanggeran

Kenapa gue bisa bilang epic? Karena dari Embung Nglanggeran, garis horizon terlihat sangat jelas, dan gue yakin banget sunset bakal keliatan epic dari sini.. Sayang, cuaca lagi mendung dan sudah maghrib. Yang didapat adalah pemandangan kabut. By the way, Embung Nglanggeran itu semacam waduk kecil. Embung, artinya waduk. Lumayan banyak juga yang dateng ke sini. Tempat parkirnya pun luas dan rapi. Hanya, jalan menuju ke tempatnya saja yang agak sedikit menyeramkan. Banyak tikungan tajam dan jalanannya ngga terlalu bagus. Ya, walaupun dipisahin satu arah, sih, untuk masuk dan keluarnya. Embung Nglanggeran dingin banget, rek. Jadi sebelum lebih kedinginan lagi, kami turun dan pulang...

Tapi ngga, sih. Kami belok dulu sebentar untuk dinner. Jogja hujan lagi, deras. Gue sampe nandain, pasti kalo sore, Jogja hujan. Kami dinner di The House of Raminten. Ruameee sekali, kakak. Tapi alhamdulillah, kami dapat tempat. Ngga tau emang begini atau bukan, makanan di Jogja itu murah-murah, dan rasanya juga enak. Ini nilai plus banget. Ngga mau pulang...

Nunggu makanan

Malemnya di hotel, berabsurd-absurd-an lagi. Fasilitas wifi gratis bikin kami asik di dunia masing-masing. Pas gue scroll-scroll foto, tiba-tiba gue teringat sesuatu. Deg! Hari ini... tanggal hari ini... Oh my God! Gue lupa banget. Asli, gue ngga inget sama sekali. Baru kali ini gue lupa banget. Paraaah hahahaha. Lebay. Langsung gue whatsapp Ai. Karena kalo telepon, dia pasti lagi kerja.

Happy Earth Day, Ai. Hahahaha

By the way, malamnya, pada ngga bisa tidur. Akhirnya memutuskan untuk telepon McD, pesan delivery, jam 00.30 WIB. Setelah sekitar jam 2 pagi, udah kenyang lagi, baru pada bisa tidur. Namanya juga Jamet...

Tiap masuk pantai, bayar retribusi sebesar Rp 10ribu
Makan siang Rp 20-25ribu/orang (lupa)
Makan malam Rp lupa hahaha

April 21, 2016

JOGJAMETS - Jalan-Jalan Ke Jogja

JAMET! Jalan-Jalan, Met!

21 April, 2015

Jadi sebenernya ide untuk liburan bareng ini udah dibikin dari jauuuuuuuh-jauh hari sebelum wisuda. Penat. Setelah banyak hal dilalui untuk menyelesaikan skripsi dan harus wisuda secepatnya. Pokoknya, abis wisuda, harus liburan! Ga pake ditawar.

Semua orang (di Whatsapp group kelas) kayaknya udah kami ajakin buat ikut liburan. Tapi dengan kesibukkan masing-masing, dari 20 sekian orang, yang akhirnya fix ikut adalah 4 orang. So here we are, JAMET. Bukan, bukan Jawa Metal, tapi Jalan-Jalan Met. Nggak kreatif abis. Itu bikinannya si Zara yang waktu itu entah kenapa, kalo manggil temen-temennya suka dengan ‘met’, kayak, “woy, jamet, sini lo”, atau “ya elah gimana sih lo, met?”, atau kalo dia diisengin, dia bakal bales dengan “yeeee jamet!”. Nggak tau tuh dia bergaul sama siapa.

Awalnya gue nggak yakin bisa ikut apa nggak. Tapi, kehausan gue akan liburan sudah sangat memuncak. Dehidrasi parah. Apalagi ke Jogja! Gue harus ikut! So, kami pun langsung pesan tiket 2 minggu sebelum hari H. Trip yang sudah lama direncanakan, agar tidak berakhir hanya sebagai wacana, akhirnya kami berangkat juga. Walaupun ujung-ujungnya cuma berempat, dari sekian orang. Tapi ngga papa. Semakin sedikit, semakin gampang diatur. Masa??

Malam sebelum keberangkatan, gue ngga bisa tidur dengan nyenyak. Seperti... seperti anak SD yang besoknya mau piknik. Iya, kayak gitu kira-kira perasaannya. Juga, gue kebingungan, siapa yang besok mau nganterin gue pagi-pagi buta ke stasiun, ya? Walaupun gue udah bilang, sih, sama sebongkah teman gue yang waktu itu berangkat pagi juga untuk kerja, Wahyu. Akhirnya gue berangkat diantar bapak gue. Awalnya gue bilang dianter sampai halte 'situ' aja, tempat gue janjian sama si Wahyu. Tapi, kayak-kayaknya bapak gue mau nih kalo diminta anter sampai tujuan sebenarnya. Hehe. Akhirnya gue langsung dianter sampai rumah Zara, untuk nebeng sampai stasiun Senen. And Wahyu...?

Telepon
Gue: Way, sorry Way, gue udah sampe Cempaka Putih, nih. Sorry bangeeeet
Wahyu: Iya, Cha.
Gue merasa ngga enak sekali.

Ya udah, kami berempat kumpul dan siap untuk berangkaaaaaaat! Yeay!

Zara, Risma, Gue, Atha

Tiket Kereta Gajahwong PSE - YK




Yang paling seru dari liburan itu nggak melulu tempat yang dituju, tapi perjalanannya. Perjalanan darat menggunakan kereta butuh waktu sekitar 10 jam dari Jakarta ke Jogja. Entah kenapa sepanjang perjalanan rasanya excited melulu (apa itu hanya perasaanku saja?). Kami pergi bukan pada saat musim liburan, dan itu asyik banget. Keretanya sepiii. Kalo udah bosen, kami berpencar ke dunia masing-masing, nyari tempat sendiri-sendiri. Kayak gini...






See? Kayak satu gerbong, cuma buat kami berempat. Ngobrol sana, ngobrol sini. Selonjoran sana, selonjoran sini. Tidur di sana, tidur di sini. Nge-charge di sana, nge-charge di sini. Ehehehe...


Trus akhirnya sampai di stasiun Tugu, Jogja. Cuaca mendung dan petir menyambut kami di Jogja sore itu. Seriously, petir. Jadi pas kami lagi kebingungan nyari pintu keluar (bingungnya nggak cerdas banget emang), kami dikagetkan oleh suara petir yang sangat membahana seantero nusantara alam raya. Gue kira stasiunnya dibom! Tapi gue nggak liat ada yang lari atau teriak. Bahkan pada nyantai-nyantai aja. Kok nggak ada yang kaget gitu ya. Nggak tau lah.


Setelah booking tiket untuk pulang, kami berangkat menuju hotel ditemani hujan sore Jogja.

This is my first rain in Jogja. Ya, karena emang lagi musim hujan juga, sih...


Malemnya, kami kulineran di sekitaran hotel tempat kami menginap. Kami niatnya cari angkringan-angkringan khas Jogja di sini, tapi ternyata nggak terlalu banyak. Setelah jalan terus hampir sepanjang jalan Cokroaminoto, ada satu tempat yang di depannya ramai terparkir sepeda motor. Kayaknya rame hits gitu buat orang-orang sana. Kami pun memutuskan untuk belok dan makan di situ. Ternyata itu restoran seafood. Ternyata harganya murah-murah! Ternyata rasanya enaaaak!!!!!

Kami pun tidur dengan perut kenyang.

A night in restoran seafood pinggir jalan di Jogja...
Gue seneng banget dengar percakapan di mana-mana pakai bahasa Jawa. Gue seneng, sampai senyum-senyum sendiri, walaupun gue orang Jawa yang ngga bisa bahasa Jawa, hehe. But, it feels like, I'm coming home... (si Icha kampungnya di Purworejo, 2 jam dari Jogja, tapi jarang ke Jogja. Trip ke Jogja ini bikin dia seneng banget, karena terakhir ke Jogja, Icha masih kecil.)

Yang gue inget, waktu itu gue ngga merasakan gundah ataupun sedih
Yang gue inget, gue ngga merasa galau
Yang ada di kepala gue dan perasaan gue waktu itu, cuma satu
SE-NANG
Yes, I'm happy
No, gue ngga merasa sebel karena kehujanan
Ngga, gue ngga merasa takut
Ngga, ngga ada perasaan negatif apapun
Everything seems perfect

Yes, liburan...

January 22, 2013

Booboo, We Love You...

Booboo umurnya 4 bulan dari hari pertama dibeli dan dibawa ke rumah. Kucing jenis persia ini punya bulu berwarna putih dan gampang banget rontok. Siapapun yang liat, pecinta kucing khususnya, pasti langsung gemes dan pengen bawa pulang. Booboo ini kucing kesayangannya adek gue, Adit. Dia yang udah lama banget pengen kucing, akhirnya kesampaian juga setelah sebelumnya miara hamster dan bosen.

Di rumah, Booboo emang jadi temen main sekaligus mainan yang cepet banget ngilangin stres. Cuma ngeliatnya aja, udah bisa bikin rasa capek dan kesel yang biasa datang tiap selesai beraktivitas di luar rumah, hilang seketika. Bukan cuma gue aja yang ngerasain, semua orang rumah juga ngerasain. Tiap buka pintu rumah, yang dipanggil langsung Booboo, dan Booboo langsung nyamperin. Kalo lagi ngga ada kerjaan, bosen, panggil aja Booboo, isengin dia dengan mengguncang-guncangkan toples berisi makanannya sampe dia datang, ngira bakalan dikasih makan padahal cuma iseng doang. Atau ngerjain dia pake lampu laser yang disinarkan ke arah manapun, ke tembok, lantai, bolak-balik, sinarnya yang berupa titik kecil pasti menarik perhatiaannya, sampe dia kecapekan sendiri (karena badannya gendut juga) dan ngga mau ngejar-ngejar lagi, hahaha.

Tapi, Booboo memang harus singgah sebentar saja di rumah gue. Bapake dari awal udah ngga suka ada hewan peliharaan di dalam rumah, yang faktor utamanya adalah udara di dalam rumah makin kurang sedap. Orang rumah lainnya terutama adek gue, tentu aja ngga setuju banget kalo Booboo harus dijual. Lha wong dia yang kepengen banget-banget-banget miara. Kalo gue sih, bukannya ngga suka, cuma males aja sama bulunya yang rontok ke mana-mana. Sampai akhirnya Booboo harus pergi...

Ini adalah foto Booboo sehari sebelum pergi. Booboo lagi nungguin adek gue keluar dari kamarnya. Waktu itu adek gue entah kenapa jadi nyuekin Booboo, dan mungkin Booboo ngerasa, soalnya Booboo selalu ngikutin adek gue terus ke mana-mana kalo lagi di rumah.




Adek gue akhirnya memutuskan untuk menitipkan Booboo di rumah temennya, bukan dijual. Di sana Booboo ada temen mainnya, kucing persia juga. Sampe sekarang, adek gue dan Booboo masih suka main kok, dan Booboo jadi lupa sama rumah gue. Ngeliat foto di atas jadi kangen juga. Apalagi si Billah, adek gue yang paling kecil, sering sedih dia waktu Booboo baru pergi. Hahaha. Kerasa kehilangan banget kalo tiap pulang, masuk rumah, ngga ada yang bisa iseng dipanggil-panggil, 'Booboo...! Puss, ckckckck.' trus langsung disamperin.

Booboo, we love youuu...!!!
Ah tapi sekarang mah dia udah seneng-seneng sama kucing persia betina temen barunya.


January 31, 2012

A Day in Bandung

Wuuussh. Suara angin berhembus memecah keheningan malam. Udara menjadi semakin dingin dan menusuk. Lampu jalanan berpendar di atas aspal yang basah habis hujan. "meong...", terdengar suara kucing. "brrrm...", suara motor. "petok petok", suara ayam. Sebenernya gue mau nulls apa, sih?

Oke oke. Jadi judulnya, Sehari di Bandung. Bandung? Tempat apa itu? *dibakar orang Bandung*.

Rencana gue ke Bandung ini sebenernya udah lama banget dibikin. Seinget gue, pas UTS semester 3 lalu. Udah ngajak beberapa orang, tapi nggak ada yang mau ikut. Akhirnya cuma gue Dan Atha. Ya, emang kami berdua, sih, yang ngusulin. Sempet ragu juga ini bakalan jadi apa enggak, soalnya cuma berdua doang, mana seru. Tapi akhirnya, setelah UAS, semuanya diputuskan. Minta izin jauh-jauh hari (alhamdulillah diijinin), terus langsung pesen tiket kereta pulang-pergi. Terealisasilah jalan ke Bandung tanggal 28 Januari kemarin.

Jam 4 pagi weker gue bunyi. Berisik banget. Gue bangun, matiin weker, tidur lagi. Ya, gue emang tukang tidur. Ibu gue pun kewalahan. Tapi sudahlah nggak usah dibahas. Lalu setengah jam kemudian gue bangun lagi, sadar kalo hari ini gue bakalan ke Bandung. Lo pasti ngiranya gue belom pernah jalan-jalan ke Bandung deh, abis ginian aja diceritain. Ya emang bener sih. Hahah.

Ah, enggak kok. Gue pernah ke Bandung. Tapi kan itu acara sekolah. Udah udah, mau lanjut nggak?

Jam 5.10 gue berangkat dianter adek gue ke stasiun. Sengaja milih pagi soalnya nggak pake nginep. Sorenya pulang. Biar lamaan dikit juga di sananya. Sebenernya sih, sehari sebelum berangkat pengennya nginep, tapi pas dicari-cari, nggak dapet tempat. Ya udahlah ya, nggak usah maksain. Jam 5.36 sampe di stasiun. Lebih cepet dari perkiraan ternyata. Di sana, Atha udah lebih dulu sampe. Ngobrol sebentar sambil nungguin kereta, nggak lama kereta dateng. Perjalanan dimulai.

Ini pertama kalinya gue naik kereta. Iya nggak papa, ketawain aja. Di kereta gue kelaperan, belom sarapan. Mana dingin kan, pake AC. Gue ngiranya nggak ada yang jual makanan. Gue udah berencana, nyampe sana hal pertama yang gue cari adalah makanan. Tapi gue berubah pikiran setelah ada petugas kereta yang lalu lalang menawarkan nasi goreng. Mahal dikit nggak papa lah, yang penting makan. Setelah nasi goreng di tangan, gue memangkunya dengan tas gue sebagai alas. "pake meja aja, Cha." kata Atha.
"mana mejanya, Tha?"
"tuh, kayak gitu tuh." Atha nunjuk ke seorang bapak yang duduk di kanan depan, makan nasi goreng juga. Pake meja.
"itu gimana ya, Tha?" tanya gue, blo'on.
"nggak tau, Cha. Hahaha." jawab Atha, sama blo'onnya.
Karena misteri meja belom terpecahkan sementara perut udah keroncongan, jadi bodo amat lah mau pake meja apa nggak, yang penting makan, meskipun sedikit terguncang-guncang. Abis makan, ngantuk, tidur. Tipikal.

Bangun tidur masih penasaran, itu dari mana mejanya dikeluarin? Dicepetin aja deh. Akhirnya misteri meja dipecahkan setelah hampir sampai stasiun Bandung. Agak lama juga ya. Ya, seenggaknya udah nggak penasaran lagi. Keluar dari kereta, hawa dingin tetap terasa. Gue udah nyampe Bandung.

Di sana gue sama Atha nggak langsung jalan. Kami duduk dulu nungguin orang. Orang ini yang bakalan ngasih tau jalan. Orang yang notabene-nya adalah tujuan gue dateng ke sini. Hehehe. Setelah orangnya dateng, kami berkendara ke salah satu tempat rekreasi di Bandung. Nggak ketebak banget kalo pemeriksaannya bakal nggak ngebolehin bawa makanan. Atha yang isi tasnya makanan semua, akhirnya harus rela bekal makanannya nggak dibawa masuk.

Di sana kami nyoba macem-macem wahana, walaupun nggak semua. Ternyata tempatnya lebih kecil dari yang gue kira. Tapi enak sih, nggak panas dan bersih. Antrian wahana-wahananya juga nggak terlalu panjang dan lama. Well, lepas dari itu semua, nggak penting tempatnya kayak gimana, buat gue waktu itu yang penting adalah sama siapa gue menghabiskan waktu. Walaupun cuma sebentar...

Ya, emang sebentar banget. Di sana cuma dari jam 10 pagi sampe jam setengah 4 sore. Kami harus ngejar kereta yang dateng jam setengah 5 sore. Sebenernya sih ada kereta yang agak maleman lagi, tapi ntar mau nyampe Jakarta jam berapa? Tengah malem gitu? Hiii...

Di stasiun, sambil nungguin kereta dateng, gue ngobrol-ngobrol sama orang yang baru aja ketemu, udah mau ditinggal lagi. Ngomong dari hati ke hati. Gue bakalan kangen banget sama orang ini.

Tapi ternyata nggak begini ceritanya.

Kami (gue dan Atha) hampir aja ketinggalan kereta. Bener-bener kalo telat dikit lagi aja, kami pasti ketinggalan. Itu udah sambil lari.
Lari, mengejar kereta yang udah mau jalan.
Lari, sambil menahan sakit perut.
Lari, masuk ke kereta tapi ternyata salah gerbong.
Lari, nanya siapa pun yang bisa ditanyain.
Lari, sempet keluar gerbong lagi.
Panik, denger peluit udah dibunyiin tanda kereta udah harus jalan.
Lari, masuk lagi ke gerbong.
Lari, melewati dapur kereta.
Lari, akhirnya duduk juga.
Romantis banget kan pamitannya begitu. Iya, romantis banget. Aaaaaargh!

Selama perjalanan pulang gue tidur, menahan sakit perut yang gue nggak tau apa sebabnya. Semoga Atha nggak foto gue pas tidur. Gue bangun pas seperempat perjalanan lagi dan dihabiskan dengan pembicaraan tentang gimana kereta bisa muter balik.

Ternyata nggak seharian penuh juga ya.
Sekian.