June 08, 2021

A Strike From The Past: Questioning

Why keep coming to my dream? 

Why took a very good and gentle care of me? 

Are you still thinking of me? 

Or

Is it just me who really miss a very good and gentle kind of care?

Because it felt so good

And so pure

And so real


I felt

Loved


It takes me

To the last time you, yourself, directly met me

Said that you'd borrowed my math book

I didn't think I'd said "yes, you can come."

Because I was so afraid back then

I don't know why I'm always afraid of you

But I said "yes, you can come."


Then you came

Parked your car in front of my house

I welcomed you

Even made you a cup of tea

Grabbed my math book and gave it to you

And we were talking

And talking

Four eyes

Face to face

For the very first time to us

And pretty sure it was for the last time too


I was really sure that there wasn't any thing except you borrowed my math book

And you would use it for learning

Because you said you will face a test

You talked about you're going to college abroad

Cool, I said


And that was it

You didn't say any thing anymore

And then the time was going late and you got to go home

Still remember you and your car went away


And that was it


Actually, what you wanted to say? 

Actually, what you really wanted to ask? 

Was it really just a math book? 

With that effort and guts? 

With that finally-you can-asked-me-then-I-allowed-you-to-come-and-visit-me-directly-to-my-house, did the math book really matter?

IT WAS A FUCKING MATH BOOK


Well

It was just for a math book, right? 


Or

I was the one too naive? 

Too dumb? 


Well

It was just for a math book

Yes, for sure

Let's end it there



April 28, 2021

Labor & Delivery Story 2: Menggigil

Alhamdulillah akhirnya gue masuk ruang operasi juga. Kesan pertama, beda banget sama waktu operasi sesar anak pertama. Beda rumah sakit, beda standarnya kali ya. Hmmm. 

Disuntik anastesi

Yang pertama: ngga berasa pas disuntiknya, tau-tau udah numb aja. 

Yang kedua: berasa pas disuntiknya. Sakit dikit, abis itu pelan-pelan kesemutan, lalu numb. 

Dipasang kateter

Disuruh tiduran

Ya udah, dioperasi deh

Ngga lama, anak aku lahir. Beneran cepet banget. Dan gue terharu banget. Di kehamilan ke-dua ini gue bener-bener santuy, ngga pantang apa-apa kayak waktu hamil pertama. Dan waktu tau anak gue lahir dengan sehat dan normal tuh rasanya masya Allah banget. Terharu.

Dokter Widi: ibu, selamat ya, anaknya perempuan, sehat, normal semua. Alhamdulillah. 

Gue menangis terharu. 

Setelah itu, operasi masih lanjut untuk menutup jahitan. Proses ini yang memakan waktu lebih lama. Tapi gue merasa lega banget rasanya. Alhamdulillah. Daaan, menggigil! Brrrr! 

Di meja operasi itu kita sama sekali ngga pakai baju. Cuma ditutupin kain-kain hijau. Ruang operasi itu diiingiiiin banget. Gue menggigil. Ini juga sih, yang ngebedain sama yang pertama. Yang pertama gue ngga menggigil sama sekali. Kali ini, gue menggigil sampe tangan gue gerak-gerak. 

Alhamdulillah operasinya selesai. Gue balik lagi ke ruang tunggu operasi. Masih menggigil. Pas gue perhatiin keadaan sekitar, ternyata ngga gue doang yang kedinginan. Pasien-pasien lain yang selesai operasi juga sama. Eh apa itu, ada selang besar di samping tempat tidur pasien di seberang gue. Apa itu pemanas? 

Gue: sus, dingin banget sus.

Kata gue sambil getar-getar. Gue bener-bener menggigil sampe gigi gue bergemeretak. Efek obat bius kan cuma dari perut ke bawah. Atasnya mah berasa. Tapi ini tangan gue agak numb karena kedinginan. Gue tidak bisa merasakan jari jemari gue asli. Menggigil parah deh. 

Suster: iya bu, sabar ya bu.

Walaupun nunggu dulu, tapi akhirnya gue dikasih pemanas juga. Aaah, hangatnyaa... Gue pun tertidur sebentar. 

Alhamdulillah, tangan gue udah berasa normal lagi. Dan akhirnya gue bisa pindah ke ruang rawat inap. Pas dianter keluar dan suster manggil pendamping, kok ngga ada yang nyaut. Ke mana ini suami guee??? Suster pun inisiatif untuk nelpon. Tapi ngga diangkat-angkat. Duh, ke mana sih?

Jadilah gue dianter pak satpam sampe kamar rawat inap. Abis itu baru deh datang si bapak suami. Ternyata abis ngurus administrasi bayi.

Lalu gue akan menghabiskan 2 hari satu malam di sini.

Long story short, gue merasa legaaaaa banget. Dan karena ini pengalaman ke-dua gue, gue merasa lebih prepared dan ngga bingung. Gue lebih berani latihan miring kanan-kiri, latihan duduk, latihan jalan, latihan-latihan yang harus dilakukan pasca operasi.

Gue merasa santai banget juga karena lega banget ngga harus nerima tamu. Satu-satunya hal yang gue sukai dari pandemi ini adalah ngga perlu nerima tamu. Yes! No more fake smiles, no annoying questions, no toxic conversations! 

Labor & Delivery Story 1: Jadi Gini Rasanya Kontraksi??

Gue sedang dalam keadaan tidur pulas waktu itu. Kalau ngga salah, sudah menjelang subuh. Gue tiba-tiba merasakan suatu gelombang yang rasanya agak kurang mengenakan. Kayak mulas, tapi bukan mulas mau buang air besar. Rasanya menjalar dari pinggang hingga ke paha. Tapi masih bisa gue tahan. Gue kenapa ini ya?

Dah tuh, seharian ga ngerasain gelombang mulas itu lagi sampeee... sore harinya. Kira-kira terasa di saat gue masih kriyep-kriyep bangun tidur siang. Rasanya masih sama, menjalar dari pinggang hingga ke paha. Waduh, jangan-jangan ini nih yang namanya mulas kontraksi. Mana kontrol berikutnya masih lusa. Gue coba tanya-tanya dan searching. Katanya sih masih ngga papa, kalau ketuban belum pecah, dan masih bisa ditahan. Gue yang di kehamilan sebelumnya lahiran ngga ada mules-mulesnya sama sekali, bingung dong sama yg sekarang. Ini kondisinya adalah, gue sudah punya jadwal SC (yg masih seminggu lagi), tapi kok malah mules. Bukannya ngga perlu nunggu mulas ya kalo mau SC? 

Keesokan harinya, mulas makin menjadi. Frekuensinya jadi semakin sering dan makin bikin meringis. Sama sekali ngga bisa tidur malam. Meskipun gitu, gue masih bisa tahan. Sampai akhirnya gue ke rumah sakit sesuai jadwal kontrol dan ketemu dokter. Pagi itu, kayaknya gue jadi pasien pertama deh, yang visit ke poli kebidanan dan kandungan. Jadi, sambil menahan-nahan sakit karena mulas kontraksi, gue datang ke meja suster untuk daftar ulang dan bilang kalau gue mules-mules, tapi jadwal SC masih akhir bulan, HPL juga masih awal bulan depan. Susternya gercep langsung telpon Dr Widi dan ngasih tahu kondisi gue. Ngga menunggu lama, kayaknya cuma sekitar 15-30menit, Dr Widi datang. Padahal belum masuk jam prakteknya. Seketika merasa bersalah karena bikin repot orang (lah??). 

Setelah dicek, di-USG, posisi bayi ternyata masih melintang. Selanjutnya dokter Widi meminta suster bawa gue untuk CTG, periksa detak jantung bayi. Padahal cuma 20 menit, tapi rasanya lamaa banget. Mulas masih terus datang pastinya. 

Suster: aduh bu, kok bisa sih, nahan mules hampir 3 hari? Ibu-ibu lain langsung ke RS loh bu kalo udah berasa mules... 

Selesai CTG, gue pun lanjut diperiksa bukaan. Hadeh, ini nih yang paling ngga gue suka. Tapi ya gimana, emang udah prosedurnya. Pasti bakal keulang.

Hasilnya, udah bukaan 3, tapi tetep, bayinya melintang. Kondisinya juga gue udah ngeflek. Mau dilanjut lahiran normal bisa bahaya. Alhasil, gue didaftarin untuk SC hari itu juga.

Dokter Widi: SC ya bu. Kita ketemu lagi nanti siang.

Karena pandemi, sesuai SOP rumah sakit, sebelum gue operasi, gue harus PCR dulu. Ini nih yang dibikin buyar. Kalau operasinya sesuai jadwal, gue harusnya tes H-3. Tapi karena ini darurat, jadilah hari itu juga dites semuanya. Walaupun PCR hasilnya baru ada keesokan harinya, gue tetap swab. Bedanya, ditambah rapid test juga. Jadi gue tes 2x tuh. Suami gue, sebagai pendamping, tentunya dites juga. Hanya rapid tes aja.

Anehnya, hari itu gue benar-benar tenang. Ngga tau kenapa. Swab? Ayok. Disuntik berkali-kali? Ngga masalah. Padahal gue tuh takut banget jarum suntik. Ya, walaupun sambil nahan mulas yang hilang timbul. 

Setelah covid tests selesai, gue dibawa ke ruang isolasi. Di sini gue sendirian. Ngga boleh ditemenin pendamping. Cuma suster-suster doang yang bolak-balik pasang infus, suntik tes antibiotik, dan prosedur sebelum operasi lainnya. Sebenarnya ini ruang tunggu sebelum operasi. Tapi karena pandemi, dan sambil nunggu hasil tes juga, mungkin dibikin khusus ruangannya, just in case.

Ngga lama, tapi berasanya lama, hasil tes gue keluar (yang rapid test tentunya). Alhamdulillah non reaktif. Selanjutnya gue tinggal menunggu untuk dipindahin ke ruang pre-op, untuk siap-siap operasi. Sama seperti sebelumnya, rasanya kayak lamaa banget. Mana mules makin-makin. 

Eh suster masuk katanya mau periksa bukaan. Duh, males banget deh. Tapi ya udah. Dan ternyata bukaannya nambah jadi bukaan 6. Nah lho.

Suster: udah bukaan 6 lagi, bu. Tapi masih melintang bayinya. Berdoa aja ya bu, semoga masih tahan sampe nanti operasi.

Lalu gue dipindah ke ruang pre-op. Nunggu istirahat siang, rasanya lamaa banget. Ya Allah, semoga ngga papa.




Preggo Story - Labor And Delivery Story

Mendekati lahiran, gue nginep di rumah orang tua di Bekasi. Ini karena biar ada yang jagain Rey. Gue berencana lahiran di RS Hermina Bekasi. Kontrol waktu itu sama dokter Widiyati SPOG. Dokter Widi orangnya ngga banyak omong, tapi pembawaannya ramah. Setiap kontrol, tanya aja semua yang mau ditanyain, beliau bakal jawab dengan to the point tapi ramah. Biasanya yg to the point tuh cuek kan, orangnya? Nah ini ramah. Selow banget deh orangnya. Karena to the point nya ini, kalau kontrol sama beliau juga jadi cepet banget. Yah, 5-10 menit aja lah kira-kira. Karena ternyata beliau juga sibuk banget. Abis dari poli, langsung pindah tempat karena ada tindakan operasi, dsb. Bahkan kadang, ke polinya belakangan karena ada operasi dulu.

Inget banget, pertama kali kontrol sama beliau, gue langsung dibikinin jadwal untuk SC di akhir bulan (waktu itu gue kontrol awal bulan).

"SC ya! Mau tanggal brp? Hmm, tanggal 30 masih bisa lah ya, kalau HPLnya awal bulan depan. Kontrol berikutnya seminggu lagi, oke?"

To the point banget. Di saat gue galau bisa lahiran pervaginam atau SC, di saat gue buntu akan pikiran scene-scene gue lahiran bakal gimana karena ada bocah yang mesti dijagain, Allah ngasih jawabannya lewat dokter Widi. Seketika gue merasa agak lega. 

Oke, jadi, gue tanya dong pastinya kenapa langsung SC. Dijawab lagi dengan intinya, jaraknya masih terlalu dekat untuk bisa melahirkan pervaginam, karena ada bekas SC pertama. Jadi yang bisa gue saranin untuk buibuk yang lahiran pertamanya SC trus berikutnya mau lahiran pervaginam, jarak anak pertamanya harus jauh dulu. Minimal banget 3 tahun lah. Itu dengan catatan, kondisi si ibu dan janin harus baik semua ya.

Kontrol-kontrol gue datangi dengan rajin tanpa skip seharipun. Vitamin juga tetap gue minum. Alhamdulillah keadaan si adik bayi di dalam perut baik-baik aja, ngga ada masalah sedikitpun. Dokter Widi malah udah bolehin operasi katanya, udah cukup umurnya dan beratnya. Tiap kontrol selalu ditanya mau lahiran kapan, meskipun beliau udah bikin jadwalnya. Tapi entah kenapa tiap ditanya begitu, gue selalu terdiam. Kayak belum siap aja gitu, dan ngerasa, masa iya gue milih sendiri tanggal lahirannya, walaupun ya iya sih, gue ada kepinginan gitu, misal, tanggal 25 Nov, maksudnya biar tanggalnya sama kayak tanggal lahir gue, ehehehe. Tapi ngga pernah gue utarakan. Apakah adik bayi yang akan menentukan tanggal lahirnya sendiri? Entahlah... 

January 02, 2021

Preggo Story 3: Fun Facts And Chit Chats

Berikut adalah hal-hal yang gue temukan dan rasakan saat hamil yang ke-2 ini. 

1. Perasaannya jadi lebih sensitif parah. 

2. Mitos bentuk perut saat hamil anak perempuan dan laki-laki kayaknya berlaku benar di gue. Perut gue yang hamil ke-2 lebih bulat dan letaknya di atas, pusar rata dengan perut, gue hamil anak perempuan. Dibanding perut hamil pertama yang cenderung lonjong dan letaknya agak di bawah, pusar menonjol, hamil anak laki-laki. 

3. Ngga terlalu bisa makan makanan pedas

4. Maunya makan yang manis-manis melulu. Es krim, kue, biskuit, roti cokelat, donat gula, dan sebagainya. 

5. Senang juga sama yang asam-asam manis seperti yogurt, lemon tea, dan asinan. 

6. Cenderung lapar sekali di pagi hari, terutama di trimester 2, jadi lahap makannya. Jadi lebih gampang lapar juga. 

7. Walaupun gitu, kalo nimbang, naiknya tetep sedikit-sedikit. Hadehh. 

8. Diresepin penambah darah dari dokter yang rasanya blackcurrant. Jadi malah doyan. 

9. Lebih sering minum kopi. Terutama di bulan ke-5 dan 6. Sehari 1 cangkir. 

10. Awal kehamilan bener-bener ngga bisa ngapa-ngapain karena gampang pusing dan mual, eneg bau masakan, eneg bau kamar mandi, eneg terus. Masuk trimester 2, malah pengennya bebenah terus, meskipun ngga bisa total karena jadi gampang capek. 

11. Trimester 2 jadi rajin mandi dan skin care-an. Pulas lipcream setiap abis mandi walaupun di rumah aja, pake warna yg sama kayak warna bibir. Ternyata kayak gini bisa bangun mood jadi lebih baik tiap ngaca loh, hehe. 

12. Cenderung lebih nyaman tidur menghadap kanan dibanding kiri. Tapi dokter bilang harus sering-sering tidur miring ke kiri. Jadilah gue kalo tidur sering grasa-grusu ganti posisi kanan kiri. 

13. Karena jadi agak sensitif, mau ngga mau, enak ngga enak jadi mempelajari banyak hal, terutama mengenai mental dalam berumah tangga. Seriously. Selama 4 tahun menikah, kayaknya baru kali ini gue ngerasa amat sangat sensitif dan seolah-olah gue tidak bisa deny dengan kenyataan-kenyataan yg selama ini gue anggap sepele. 

14. Gampaaang banget capek di trimester 3. Padahal hamil sebelumnya kayaknya ngga secapek ini. 

15. Gampang banget gerah! Asli. Padahal AC udah dingin banget. 


Kehamilan ke-2 ini sebenarnya tidak terlalu direncanakan, tapi bukan karena kebobolan juga. Sebelumnya, memang gue pernah sekilas-sekilas berdoa dalam hati, kalau, kayaknya enak juga ya kalo punya anak bedanya 2 tahun, kayak gue dan adik gue. Jadi bisa grow up together, gap nya ngga terlalu jauh. Gue memang ngga KB karena berpikir begitu. Waktu itu pun kondisinya gue sedang baru memulai bisnis lagi di SWEETREAT. Udah nyetok bahan, beli loyang dan beberapa alat baking baru, uji resep, sampai dekor ruang baking sendiri biar mood bakingnya dapet. Sempat berjalan beberapa orderan, tapi rejeki untuk punya anak lagi ternyata datang lagi. Hehe. Sebelum tahu positif hamil, pas lagi curiga kalo kali ini bakal beneran hamil lagi, pernah bilang ke suami. Ai, awal tahun ini, yang manapun yang bakal kita dapatin, kayak misal aku punya rencana bikin kue lagi nih, tapi kalo misalkan aku positif hamil, aku harus pilih salah satu untuk difokusin terlebih dulu. Kalau ternyata aku positif hamil, kayaknya aku bakal relain bisnis aku tutup lagi dulu. Tapi kalo ternyata negatif, aku baru lanjut lagi.


Dan ternyata gue hamil lagi. 


Bukan apa-apa. I can say, the most fragile time of my life is when I'm pregnant. Memang kepayahan banget gue kalo soal bagi-bagi energi. Ditambah kalau sedang hamil. Gue tuh ngga jarang berdoa, kalo aja gue punya tenaga yang banyak, kayaknya gue bisa aja ngelakuin banyak hal. Tapi tetep sih, multitasking tuh sulit buat gue, karena jadi ngga ada yg bener. Dan gue, maunya total. Nailed to the max. Terlebih, gue ngga mau memaksa dan malah jadi masalah. Awalnya gue ragu, hamil lagi dengan toddler yang aktif banget. Tapi, bismillah. Dan ya, gue tetap menjalaninya, meskipun kadang harus berhenti sejenak, dan sempat harus bedrest. Gue bersyukur banget, masih banyak yang bisa bantuin gue, terutama bantu jagain Rey di saat gue harus bedrest dan ngga boleh capek-capek. Gue salut banget sama mommies yang juga lagi berjuang di kondisi apapun itu di kehamilannya.


Banyak yang bilang.. 

"Ih, kok udah hamil lagi? Emang anaknya udah bisa apa aja?"

Tapi ada juga yang bilang.. 

"Wah, masya Allah, Icha udah hamil lagi. Selamat ya. Doain dong, biar gue juga hamil lagi."


Ada yang heran

Ada yang senang, bahkan minta didoakan


Gue sendiri pernah juga berpikir, apaan sih, kok gue udah hamil lagi. Karena merasa belum siap di banyak hal. Realistis lah. Tapi, ruwet banget kepala ini jadinya. Trus nanti mikir lagi, yang positif-positif. Cha, banyak yang struggling untuk hamil. Lo harusnya bersyukur sudah dimudahkan, dan fokus aja deh ke kehamilan lo. Insya Allah, kalau ikhlas, semuanya bisa jadi berkah. 


Yah, namanya juga hidup... 


Ngebayangin gimana rempongnya nanti kalo baby nya udah lahir aja kadang gue ngga sanggup. Udah lah, jalanin aja. Nanti juga ketemu selanya. Toh persiapan juga udah dibikin kan, ngga yang bodo amat pasrah gitu. 


Selama ini Rey selalu rewel kalo ngga liat ibunya. Sekarang gue lagi banyak banget berdoa biar Rey mau ditinggal sama iyang dan tantenya kalo nanti ibunya lahiran. Aamiin. 


(Selesai ditulis pada 31 Oktober 2020)