January 21, 2024

Dear Sister

 


One day, the day you left for college and about to go student exchange in another island we've been never before, you asked me if I wanna change our 'shoes' or not. Nervous, huh?

My mind is flashing back like a fast train to my high school and college life. When I have dreams. I dreamed about going far, going abroad exactly. When I feel like I have a chance that I can go whenever I want. Learn as much as I want, without fearing anything. Ya know, freedom of everything in the name of 'it's a learning' or 'it's college/school thing'. I didn't take more advantages back then. Idk it's just like there's something that keeps holding me back, so I often pull my intentions to do more. Now it's just, 'oh if only I could be more rebel one', or, 'oh if only I could be brave enough', so I could get the (in this case) subject that I really wanted, things I wanted to learn and enjoy the most. But I always listen to people. I always mind what people think about and it's the problem. Cuz now I learned that once they heard, they never get enough. Whose life is falling apart now? Mine. I wasted my time in my life fulfilling other people's mind. And failed. They doubt with what they made me listen to them. Feels so unfair and it's a bitter truth for me. I always listen to them and I failed. I never reach their expectations. Whose life is falling apart now? My life. I wasted my time in my life fulfilling other people's mind. And failed. And now they never get proud of me. And I think I'm done, listening to people.

So, in my age now, if you ask as if I wanna change our shoes or not, it's absolutely a yes. I'm always about to runaway from my life right now actually (don't tell anyone 🤭). Cuz it seems like, I fail in so many ways. Because I always feel like I'm not done with myself. There is nothing that worked well. Idk maybe it's just like my life cycle is rolling down right now 🤷🏻‍♀️ But this is my reality. I have to face my reality, though. And I want to make it right.

So then I tell you not to give up. You know this things are what you ever wanted. I wanted it too though. It's so heart-breaking to see if you stop. Because you have the privilege to chose this and you got all of it; the courage, the blessings, the permissions. You even told to not be worry of anything, just focus on your study and manage it well. You'll face this, experience this, and done this. These are dreams of many people. My dreams too, of course I wanna walk in your shoes. So do everything while you can. Remember being this young is art. Keep the boundaries. Don't mind what other people say. Live your life to the fullest. Dating a boy is highly not recommended from me though, as you'll be forced to get married as soon as possible 🤣 (of course there'll be 'unless' with terms and conditions, but, still I don't recommend it) Don't be like me. You can be waaaay better. You have to. Learn as much as you can. I'll tell everything if you ask, especially what's not to do. You're doing great so far. So don't stop.

Because I envy you, and it's heart-breaking if you don't learn and enjoy these priviliges.

Even at some part I wanna change mine into yours, at the other part, still, I want to keeping mine. Best believe I'm still bejeweled, though 😁

Remember...

You

Got

This


With love,

L

October 18, 2023

'Bring Me Back The Memories'

 "Bring me back the memories", you said

Then I said, "Srsly"


Which I wanted to mean with...

Is this srsly you?

In this chaotic morning when my mind and my heart are not in the mood of anything

Is this the notification that has name of you?

Is this srsly really you who send me this?


Suddenly something brings me back to a morning from long time ago with the same name pop up in the notification on my phone and end up with it was a song that made my whole life and I still remember the feeling even until now


Again, are you really send me a message?

Out of the blue

When nothing ever happened or ever spoken again between us for quite a long time

I mean why

Even after all this time

Is this really you yourself?


And I open the notification with no doubt and exciting feeling, wondering WHAT DOES HE SEND ME OUT OF THE BLUE IN THIS KIND OF MORNING AND MOOD? BUT I CAN'T HELP I'M HAPPY REALLY HAPPY BUT I'M SACRED I DON'T WANNA RUIN THIS BUT IT'S SO WRONG BUT I'M HAPPY BUT JUST LET'S NOT RUIN EVERYTHING STAY STILL OK


(How bad you still are, oh dear self. Can't lie you still feeling butterfly)


So I open the message you sent

It's a video -I assume it's a piece of your daily basis- with the sound of song clip

It's Taylor Swift - You Belong With Me


~been here all along,

So why can't you see?

You belong with me~

With the caption 'bring me back the memories'


And just like that

How easy you made my morning


You said, "bring me back the memories"

I say, I live with those memories, every single day

You never know


Instead, I replied with another thing

Not to make it serious

Not to make it about it

Not to make it about us

Just like the old days

I tend to send the topics to another way

I lie to myself again, always

If it's about you

Even after all this time


But thank you

For still remember me

And for the memories

I hope it brings you all the good ones


September 07, 2023

Mommies with Special Needs Kids

Yang dihantui pertanyaan kenapa, bagaimana, kapan

Dari mulai anaknya lahir sampai mungkin, seumur hidupnya

Yang bersama anaknya 7hari seminggu, 24jam sehari, selama anaknya masih bernapas dan masih perlu bimbingannya

Lagi-lagi, sampai mungkin seumur hidupnya

Yang kerap jadi kambing hitam atas apapun yang terjadi pada anaknya, terlebih jika ada yang salah - padahal seringkali ia sudah merasa bersalah

Yang harus tetap tenang walau banyak sekali hal yang berkecamuk di dalam hati dan pikirannya - anak, pekerjaan rumah, belum lagi kalau sambil membantu suami cari-cari tambahan karena keharusan

Yang selalu diminta sabar dan semangat dari orang-orang yang ditemuinya, terkhusus, orang-orang yang tidak begitu mengenalnya, yang belum pernah tahu detil ceritanya, apalagi yang belum pernah mengalaminya

Sudah pasti

Tentu saja


Raganya mungkin sekuat baja

Namun jiwanya bagai ombak

Terkadang tenang

Tak jarang bak gelombang tinggi menerjang

Tangisan demi tangisan yang ditumpahkan di setiap sujudnya

Usaha demi usaha yang ia lakukan perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, yang ia lepaskan dan pasrahkan ekspektasinya - karena fakta bahwa anaknya tidak akan pernah bisa sama dengan anak lainnya

Doa demi doa yang ia panjatkan demi anaknya

Memohon anaknya untuk diberi kesembuhan, dinormalkan sebagaimana mestinya, dimudahkan prosesnya

Memohon untuk anaknya agar senantiasa dalam perlindungan, keselamatan, dan kelapangan hati jika kelak terjun ke dunia yang sesungguhnya

Terlebih, ke dunia, yang mungkin nanti ia tak bisa lagi membersamai anaknya, yang mungkin nanti ia tak ada lagi


--

Dunia ini banyak sekali tuntutan, nak

Seringkali terburu-buru

Ada yang aneh sedikit, jadi perhatian, tentunya

Ada yang bagus, ada yang kurang bagus

Yang bagus, mereka senang

Yang kurang bagus?

Seringkali inginnya sesegera mungkin diluruskan

Atau kalau perlu, dimusnahkan(?)

--


Hingga akhirnya muncul pertanyaan di benaknya

Sebenarnya, yang lebih butuh SABAR dan SEMANGAT dalam menghadapi anak-anak ini, itu siapa?

Ibunya kah? Atau dunia ini dan orang-orang di dalamnya yang mungkin hanya bertemu beberapa jam atau bahkan sekilas saja?


Bu, mungkin kata sabar dan semangat sudah bosan kau mendengarnya, hingga tak lagi ampuh mengusir gundah dan gelisahmu

Bahkan, kata-kata manis penyemangat yang katanya penuh keoptimisan itu sudah terdengar seperti omong kosong, karena yang kau butuh adalah tindakan nyata di saat kau merasa tidak berdaya dengan segala upaya maksimal yang sudah kau lakukan, namun tak kunjung cukup memenuhi ekspektasi orang-orang


Menangislah, Bu...

Silahkan, tidak perlu ditahan

Kau sudah cukup berjuang

Berhentilah sejenak untuk istirahat

Semuanya akan terasa lebih ringan dan lebih jernih berkali lipat dari sebelumnya, sehingga kau mempunyai kekuatan untuk melanjutkan perjuangan itu lagi dengan hati yang lebih baik dan senyum yang lebih merekah lagi


Untuk itu, di sini kuingin bersungguh-sungguh mendoakanmu tulus dari hati, Bu...

Agar engkau senantiasa dikuatkan sekaligus dilembutkan

Agar engkau senantiasa diluaskan dan dibesarkan hatinya

Agar engkau selalu sehat lahir dan batinnya

Agar kelak, saat tiba waktunya, anak istimewamu satu persatu berhasil

Agar engkau panjang umur hingga bisa melihat mereka mencapai cita-citanya


Sesungguhnya, bersama kesulitan itu ada kemudahan


Time, mystical time

Giving the blues and then purple pink skies

Were there clues I didn't see?

And isn't it just so pretty to think

All along there was some invisible string

Tying you to beautiful things you deserve all this time?


July 23, 2022

A Note

For these past 5 years I just realised that...

I just keep on denial

The crumbling

I deny the crumbling that happened and that's been happening even until now

Still

It's still crumbling

Falling

And keep falling


Just, where did I go wrong?

Somebody please tell me?



December 02, 2021

Bittersweet Hot Chocolate - The Short Story

 

"...ya udah, gimana kalo nanti sore? Jam 4?"
"Deal!"
"Okay, then. See you."

Percakapan pagi itu.

Lupa awalnya ngebahas apa sampe akhirnya janjian untuk ketemu. Cuma berdua.

Tunggu. Apa ini? Kenapa gue deg-degan? Ini kan, masih jam 9 pagi. Dan, kenapa gue merasa sangat excited?!

Kemudian gue merasa canggung dan bingung mau pakai baju apa.

Apa-apaan, sih? Kan, tiap weekend juga sering ketemu. Tapi kenapa kali ini bikin deg-degan dan bikin canggung banget? Dulu, waktu sekolah juga ketemu setiap hari. Tapi ini kok...??

Ah, gue sudah gila. Dah lah, ngga usah dipikirin.

Lalu waktu janjian pun tiba. Cepet banget gue udah sampe coffee shop ini duluan. Kayaknya tadi cuma 5 menit gue naik motor. Bahkan gue ingin cepat-cepat sampai? This is insane.

Dia belum datang. Tentu saja. Ah, tapi jarak dari rumah dia ke sini juga ngga jauh banget. Apalagi mengingat kebiasaan dia yang kalau bawa motor, ngebut. Paling lama juga 15 menit.

Lalu gue memesan hot chocolate ukuran besar untuk 2 orang.

Sudah 1 jam kok belum muncul ya orangnya. Hot chocolate-nya dingin, dong?

Udah 2 jam masih belum muncul juga. Chat-pun ngga dibales. Kok gue jadi sebel, ya. Hmm. Gue mulai berpikir yang ngga-ngga. Mulai kesal. Am I a joke for him??? Ngga tau deh.

"Lo jadi dateng apa ngga?" Cukup lama hingga akhirnya gue memutuskan untuk telepon aja langsung.
"Jadi dong! Sorry banget. Sebentar lagi gue sampe. Oke? Just wait."

Ah gila. Gue kok mau aja sih, nunggu lama-lama kayak gini?!

Walaupun agak kecewa, tapi gue tetep nunggu. Kalau bukan gue, mungkin udah pulang dari tadi kayaknya. Udah lebih dari ngaret ini namanya. Hari sudah mau gelap. Hot chocolate-nya? Tentu sudah dingin.

Lalu penantian itu berakhir ketika untuk yang kesekian kalinya gue memeriksa pintu masuk dan dia muncul.

What took you so long?

Tapi ngga tahu kenapa, semua kesal langsung hilang. Mau marah, ngga jadi. Kadang gue benci diri sendiri yang terlalu ngga papa ke orang lain.

Why you always make me be this way?

"Sorry banget, sorry. Gue ada urusan mendadak tadi."
"It's okay. Ini udah gue pesenin hot chocolate, tapi udah dingin."

Kemudian dia duduk di hadapan gue, dan mulai bercerita. Gue mendengarkannya dengan excited. Seperti biasanya. Selalu seru mendengarnya bercerita tentang apapun. Gue ngga pernah bosan. Dia punya banyak sekali ekspresi, dan selalu terlihat ceria.

Sampai tiba-tiba...  sebuah bunga mawar dihadirkannya di hadapan gue.

With that smile
And those eyes

And I feel
Happy
So happy
Because

Finally

Namun gue memilih diam. Membiarkan dia bicara lagi. Semuanya. Dia mengungkapkan semuanya.

Teruskan. Gue ingin mendengar semuanya.

Semuanya. Dia mengungkapkan semuanya.

Gue tetap terdiam

Semuanya
Semuanya benar-benar hal yang selama ini ingin gue dengar
Dari dia

Gue merasa sangat senang

Tapi
Apa yang menahan lo selama ini?
Kenapa... baru sekarang?

"Wow, thanks..."
Akhirnya gue bersuara

"Ah, akhirnya gue bisa mengungkapkannya juga Cha, ke lo. Sekarang gue udah lega."

Lalu, apakah gue juga harus bilang semuanya... sekarang juga?

Sepertinya tidak.

"Sorry sekali lagi ya, Cha. Tadi gue juga nyari-nyari tempat yang jual bunga, jadinya lama." katanya. Gue tersipu.

Gue benci sama diri gue yang gampang luluh sama hal-hal kayak ini.

"Tau ngga? Ini bunga mawar pertama gue." Gue bilang ke dia.

Iya, itu adalah bunga mawar yang pertama banget buat gue.

"Serius lo, Cha? Jadi pacar lo belom pernah sama sekali ngasih lo bunga?" Tanyanya, heran. Gue mengangguk.

Sebenarnya, I'm beyond happy right now. I'm dancing inside. Tapi, walaupun senang, gue tidak mau terlalu menunjukkannya.

"Well, makasih ya, atas pengungkapan perasaannya. Finally." Kata gue.

"Gue pikir, gue harus ngasih tau lo tentang  ini Cha, biar gue lega. Akhirnya sekarang gue merasa lega. Nothing to lose lagi gue sekarang. Ngga masalah, sekarang atau nanti lo akan sama siapa. Yang penting gue udah ngasih tau lo gimana perasaan gue ke lo selama ini, dan gue lega." Katanya dengan binar mata khasnya.

You really are my best friend
And I don't wanna change that
Because I don't wanna lose you
If this sounds so selfish
Then I am so sorry

"Makasih ya mawarnya. Why you do this? Gue jadi terharu."

Sebuah mawar dengan tulisan 'Happy Birthday' itu ngga akan gue lupain. My first rose of all time. Just like how I want it to be. So unexpected.

Now
I hope you find the love that suits you

If you and I are a story that never gets told
If what you are is a daydream I never get to  hold, at least you'll know
You're beautiful every little piece, love
And when you find anything you looked for
I hope your life leads you back to my front door
But if it don't, then, stay beautiful

Itu lagu yang lo kirim ke gue
Stay Beautiful by Taylor Swift
I wasn't aware about the song until you sent me

If it's true, if you think I'm beautiful, at least, for that time,
Then thank you
Thank you for telling me

And to you,
Please, stay beautiful too

June 12, 2021

'tis the damn season - Taylor Swift

If I wanted to know
Who you were hanging with
While I was gone
I would've asked you

It's the kind of cold
Fogs up windshield glass
But I felt it when I passed you

There's an ache in you
Put there by the ache in me
But if it's all the same to you
It's the same to me

We could call it even
You could call me 'babe' for the weekend
'Tis the damn season
Write this down
I'm staying at my parent's house
And the road not taken looks real good now

And it always leads to you
In my hometown

I parked my car
Right between the methodist
And the school that used to be ours
The holidays linger like bad perfume
You can run but only so far

I escaped it too
Remember how you watched me leave

But if it's okay with you
It's okay with me

Time flies
Messy as the mud on your truck tires
Now I'm missing your smile
Here me out
We could just ride around
And the road not taken looks real good now

And it always leads to you
In my hometown

Sleep in half the day
Just for old times' sake
I won't ask you to wait
If you don't ask me to stay

So I'll go back to LA
And the so-called friends who'll write books about me if I ever make it
And wonder about the only soul who can tell which smiles I'm faking

And the heart I know I'm breaking is my own
To leave the warmest bed I've ever known

We could call it even
Even though I'm leaving
And I'll be yours for the weekend
'Tis the damn season

We could call it even
You could call me 'babe' for the weekend
'Tis the damn season
Write this down
I'm staying at my parent's house
And the road not taken looks real good now

Time flies
Messy as the mud on your truck tires
Now I'm missing your smile
Here me out
We could just ride around
And the road not taken looks real good now

And it always leads to you
In my hometown

It always leads to you
In my hometown


June 08, 2021

Late Night Words: Tulisan Yang Bikin Overthink

Ada 2 buah pilihan

Orang yang menyayangimu

Atau

Orang yang kamu dan dia saling sayang


Bisakah kamu pilih salah satu? 


Pretty sure mayoritas pilihan jatuh pada pilihan ke-2

Memilih orang yg sayang kamu dan kamu juga sayang dia


Katanya dengan begitu, semua bisa saling

Saling melengkapi

Saling mengisi

Saling berbagi

Saling semuanya


Tapi


Karena sama-sama merasa dirinya disayangi satu sama lain

Apakah ada yang tahu kalau suatu saat

Salah satu pasti ada yang berharap? 

Berharap kebaikannya dibalas kebaikan juga

Berharap keikhlasannya dibalas keikhlasan juga

Berharap apapun yang salah satu diantaranya lakukan, yang lainnya juga melakukan exactly hal yang sama

Berharap

Adil


Apakah ada yang tahu kalau suatu saat

Semua 'saling' bisa jadi 'tidak saling'? 

Tidak saling sayang

Tidak saling mengisi

Tidak saling berbagi

Tidak saling melengkapi

Tidak saling semuanya

Lagi-lagi karena merasa biar adil


Sungguh skenario yang sangat jauh dari indah


Lalu pilihan tersebut membuat kita memikirkan pilihan pertama


Memilih orang yang menyayangi kita

Melihat usahanya

Melihat ketulusannya

Melihat kemampuannya


Will he do any thing for me? 

Most importantly, anything for my best? 

Take a good and gently care of us

Tidak mau membuat kita sedih

Tidak mau membuat kita susah

Tidak mau membuat kita merasa kurang

Tidak mau membuat kita terluka


Always keep their eyes on us

With heart full of love

Sincere effort

Everlast

Tidak berharap kebaikannya kembali


And never take us for granted once we accept and allowed him to stay


Sampai waktunya bunga dalam hati kita tumbuh

Perasaan sayang itu tumbuh

You feel loved

So loved

Karena usaha merawat yang selama ini kita dapatkan darinya


Until the time you can accept and love him back with pure and sincere heart with no buts and expectations

And you both live happily

You both live sincerely

You both loved


Good scenario, I guess


Look how now it seems like option 1 is blinded pick and option 2 is conscious pick, right? 


Really punny


But then you know that we can't see what future brings

Whatever you choose

Choose wisely

Be conscious


Every options have their own ups and downs

Every options have their good sides and bad sides


If it feels right, be grateful

If it feels wrong, it's okay to regret a bit

But then go on

Take a responsibility of it

We're only human too

Everything can change

Just make sure you enjoy the ride


You know that this last sentence is naive but, 

Keep seeing the beautiful in every thing

Be kind and honest

Kindness keeps the world afloat

Believe that kindness brings you to very much beautiful things in the end


Kebaikan akan menyaring semuanya hingga akhirnya kebaikan pula yang akan kamu terima

Bahkan kalau itu harus menyingkirkan orang-orang yang kamu pikir sayang kamu padahal hatinya tidak

Karena semesta tau, itu tidak baik untukmu

Universe will make sure you get the kindness that you deserve


A Strike From The Past: Questioning

Why keep coming to my dream? 

Why took a very good and gentle care of me? 

Are you still thinking of me? 

Or

Is it just me who really miss a very good and gentle kind of care?

Because it felt so good

And so pure

And so real


I felt

Loved


It takes me

To the last time you, yourself, directly met me

Said that you'd borrowed my math book

I didn't think I'd said "yes, you can come."

Because I was so afraid back then

I don't know why I'm always afraid of you

But I said "yes, you can come."


Then you came

Parked your car in front of my house

I welcomed you

Even made you a cup of tea

Grabbed my math book and gave it to you

And we were talking

And talking

Four eyes

Face to face

For the very first time to us

And pretty sure it was for the last time too


I was really sure that there wasn't any thing except you borrowed my math book

And you would use it for learning

Because you said you will face a test

You talked about you're going to college abroad

Cool, I said


And that was it

You didn't say any thing anymore

And then the time was going late and you got to go home

Still remember you and your car went away


And that was it


Actually, what you wanted to say? 

Actually, what you really wanted to ask? 

Was it really just a math book? 

With that effort and guts? 

With that finally-you can-asked-me-then-I-allowed-you-to-come-and-visit-me-directly-to-my-house, did the math book really matter?

IT WAS A FUCKING MATH BOOK


Well

It was just for a math book, right? 


Or

I was the one too naive? 

Too dumb? 


Well

It was just for a math book

Yes, for sure

Let's end it there



April 28, 2021

Labor & Delivery Story 2: Menggigil

Alhamdulillah akhirnya gue masuk ruang operasi juga. Kesan pertama, beda banget sama waktu operasi sesar anak pertama. Beda rumah sakit, beda standarnya kali ya. Hmmm. 

Disuntik anastesi

Yang pertama: ngga berasa pas disuntiknya, tau-tau udah numb aja. 

Yang kedua: berasa pas disuntiknya. Sakit dikit, abis itu pelan-pelan kesemutan, lalu numb. 

Dipasang kateter

Disuruh tiduran

Ya udah, dioperasi deh

Ngga lama, anak aku lahir. Beneran cepet banget. Dan gue terharu banget. Di kehamilan ke-dua ini gue bener-bener santuy, ngga pantang apa-apa kayak waktu hamil pertama. Dan waktu tau anak gue lahir dengan sehat dan normal tuh rasanya masya Allah banget. Terharu.

Dokter Widi: ibu, selamat ya, anaknya perempuan, sehat, normal semua. Alhamdulillah. 

Gue menangis terharu. 

Setelah itu, operasi masih lanjut untuk menutup jahitan. Proses ini yang memakan waktu lebih lama. Tapi gue merasa lega banget rasanya. Alhamdulillah. Daaan, menggigil! Brrrr! 

Di meja operasi itu kita sama sekali ngga pakai baju. Cuma ditutupin kain-kain hijau. Ruang operasi itu diiingiiiin banget. Gue menggigil. Ini juga sih, yang ngebedain sama yang pertama. Yang pertama gue ngga menggigil sama sekali. Kali ini, gue menggigil sampe tangan gue gerak-gerak. 

Alhamdulillah operasinya selesai. Gue balik lagi ke ruang tunggu operasi. Masih menggigil. Pas gue perhatiin keadaan sekitar, ternyata ngga gue doang yang kedinginan. Pasien-pasien lain yang selesai operasi juga sama. Eh apa itu, ada selang besar di samping tempat tidur pasien di seberang gue. Apa itu pemanas? 

Gue: sus, dingin banget sus.

Kata gue sambil getar-getar. Gue bener-bener menggigil sampe gigi gue bergemeretak. Efek obat bius kan cuma dari perut ke bawah. Atasnya mah berasa. Tapi ini tangan gue agak numb karena kedinginan. Gue tidak bisa merasakan jari jemari gue asli. Menggigil parah deh. 

Suster: iya bu, sabar ya bu.

Walaupun nunggu dulu, tapi akhirnya gue dikasih pemanas juga. Aaah, hangatnyaa... Gue pun tertidur sebentar. 

Alhamdulillah, tangan gue udah berasa normal lagi. Dan akhirnya gue bisa pindah ke ruang rawat inap. Pas dianter keluar dan suster manggil pendamping, kok ngga ada yang nyaut. Ke mana ini suami guee??? Suster pun inisiatif untuk nelpon. Tapi ngga diangkat-angkat. Duh, ke mana sih?

Jadilah gue dianter pak satpam sampe kamar rawat inap. Abis itu baru deh datang si bapak suami. Ternyata abis ngurus administrasi bayi.

Lalu gue akan menghabiskan 2 hari satu malam di sini.

Long story short, gue merasa legaaaaa banget. Dan karena ini pengalaman ke-dua gue, gue merasa lebih prepared dan ngga bingung. Gue lebih berani latihan miring kanan-kiri, latihan duduk, latihan jalan, latihan-latihan yang harus dilakukan pasca operasi.

Gue merasa santai banget juga karena lega banget ngga harus nerima tamu. Satu-satunya hal yang gue sukai dari pandemi ini adalah ngga perlu nerima tamu. Yes! No more fake smiles, no annoying questions, no toxic conversations! 

Labor & Delivery Story 1: Jadi Gini Rasanya Kontraksi??

Gue sedang dalam keadaan tidur pulas waktu itu. Kalau ngga salah, sudah menjelang subuh. Gue tiba-tiba merasakan suatu gelombang yang rasanya agak kurang mengenakan. Kayak mulas, tapi bukan mulas mau buang air besar. Rasanya menjalar dari pinggang hingga ke paha. Tapi masih bisa gue tahan. Gue kenapa ini ya?

Dah tuh, seharian ga ngerasain gelombang mulas itu lagi sampeee... sore harinya. Kira-kira terasa di saat gue masih kriyep-kriyep bangun tidur siang. Rasanya masih sama, menjalar dari pinggang hingga ke paha. Waduh, jangan-jangan ini nih yang namanya mulas kontraksi. Mana kontrol berikutnya masih lusa. Gue coba tanya-tanya dan searching. Katanya sih masih ngga papa, kalau ketuban belum pecah, dan masih bisa ditahan. Gue yang di kehamilan sebelumnya lahiran ngga ada mules-mulesnya sama sekali, bingung dong sama yg sekarang. Ini kondisinya adalah, gue sudah punya jadwal SC (yg masih seminggu lagi), tapi kok malah mules. Bukannya ngga perlu nunggu mulas ya kalo mau SC? 

Keesokan harinya, mulas makin menjadi. Frekuensinya jadi semakin sering dan makin bikin meringis. Sama sekali ngga bisa tidur malam. Meskipun gitu, gue masih bisa tahan. Sampai akhirnya gue ke rumah sakit sesuai jadwal kontrol dan ketemu dokter. Pagi itu, kayaknya gue jadi pasien pertama deh, yang visit ke poli kebidanan dan kandungan. Jadi, sambil menahan-nahan sakit karena mulas kontraksi, gue datang ke meja suster untuk daftar ulang dan bilang kalau gue mules-mules, tapi jadwal SC masih akhir bulan, HPL juga masih awal bulan depan. Susternya gercep langsung telpon Dr Widi dan ngasih tahu kondisi gue. Ngga menunggu lama, kayaknya cuma sekitar 15-30menit, Dr Widi datang. Padahal belum masuk jam prakteknya. Seketika merasa bersalah karena bikin repot orang (lah??). 

Setelah dicek, di-USG, posisi bayi ternyata masih melintang. Selanjutnya dokter Widi meminta suster bawa gue untuk CTG, periksa detak jantung bayi. Padahal cuma 20 menit, tapi rasanya lamaa banget. Mulas masih terus datang pastinya. 

Suster: aduh bu, kok bisa sih, nahan mules hampir 3 hari? Ibu-ibu lain langsung ke RS loh bu kalo udah berasa mules... 

Selesai CTG, gue pun lanjut diperiksa bukaan. Hadeh, ini nih yang paling ngga gue suka. Tapi ya gimana, emang udah prosedurnya. Pasti bakal keulang.

Hasilnya, udah bukaan 3, tapi tetep, bayinya melintang. Kondisinya juga gue udah ngeflek. Mau dilanjut lahiran normal bisa bahaya. Alhasil, gue didaftarin untuk SC hari itu juga.

Dokter Widi: SC ya bu. Kita ketemu lagi nanti siang.

Karena pandemi, sesuai SOP rumah sakit, sebelum gue operasi, gue harus PCR dulu. Ini nih yang dibikin buyar. Kalau operasinya sesuai jadwal, gue harusnya tes H-3. Tapi karena ini darurat, jadilah hari itu juga dites semuanya. Walaupun PCR hasilnya baru ada keesokan harinya, gue tetap swab. Bedanya, ditambah rapid test juga. Jadi gue tes 2x tuh. Suami gue, sebagai pendamping, tentunya dites juga. Hanya rapid tes aja.

Anehnya, hari itu gue benar-benar tenang. Ngga tau kenapa. Swab? Ayok. Disuntik berkali-kali? Ngga masalah. Padahal gue tuh takut banget jarum suntik. Ya, walaupun sambil nahan mulas yang hilang timbul. 

Setelah covid tests selesai, gue dibawa ke ruang isolasi. Di sini gue sendirian. Ngga boleh ditemenin pendamping. Cuma suster-suster doang yang bolak-balik pasang infus, suntik tes antibiotik, dan prosedur sebelum operasi lainnya. Sebenarnya ini ruang tunggu sebelum operasi. Tapi karena pandemi, dan sambil nunggu hasil tes juga, mungkin dibikin khusus ruangannya, just in case.

Ngga lama, tapi berasanya lama, hasil tes gue keluar (yang rapid test tentunya). Alhamdulillah non reaktif. Selanjutnya gue tinggal menunggu untuk dipindahin ke ruang pre-op, untuk siap-siap operasi. Sama seperti sebelumnya, rasanya kayak lamaa banget. Mana mules makin-makin. 

Eh suster masuk katanya mau periksa bukaan. Duh, males banget deh. Tapi ya udah. Dan ternyata bukaannya nambah jadi bukaan 6. Nah lho.

Suster: udah bukaan 6 lagi, bu. Tapi masih melintang bayinya. Berdoa aja ya bu, semoga masih tahan sampe nanti operasi.

Lalu gue dipindah ke ruang pre-op. Nunggu istirahat siang, rasanya lamaa banget. Ya Allah, semoga ngga papa.




Preggo Story - Labor And Delivery Story

Mendekati lahiran, gue nginep di rumah orang tua di Bekasi. Ini karena biar ada yang jagain Rey. Gue berencana lahiran di RS Hermina Bekasi. Kontrol waktu itu sama dokter Widiyati SPOG. Dokter Widi orangnya ngga banyak omong, tapi pembawaannya ramah. Setiap kontrol, tanya aja semua yang mau ditanyain, beliau bakal jawab dengan to the point tapi ramah. Biasanya yg to the point tuh cuek kan, orangnya? Nah ini ramah. Selow banget deh orangnya. Karena to the point nya ini, kalau kontrol sama beliau juga jadi cepet banget. Yah, 5-10 menit aja lah kira-kira. Karena ternyata beliau juga sibuk banget. Abis dari poli, langsung pindah tempat karena ada tindakan operasi, dsb. Bahkan kadang, ke polinya belakangan karena ada operasi dulu.

Inget banget, pertama kali kontrol sama beliau, gue langsung dibikinin jadwal untuk SC di akhir bulan (waktu itu gue kontrol awal bulan).

"SC ya! Mau tanggal brp? Hmm, tanggal 30 masih bisa lah ya, kalau HPLnya awal bulan depan. Kontrol berikutnya seminggu lagi, oke?"

To the point banget. Di saat gue galau bisa lahiran pervaginam atau SC, di saat gue buntu akan pikiran scene-scene gue lahiran bakal gimana karena ada bocah yang mesti dijagain, Allah ngasih jawabannya lewat dokter Widi. Seketika gue merasa agak lega. 

Oke, jadi, gue tanya dong pastinya kenapa langsung SC. Dijawab lagi dengan intinya, jaraknya masih terlalu dekat untuk bisa melahirkan pervaginam, karena ada bekas SC pertama. Jadi yang bisa gue saranin untuk buibuk yang lahiran pertamanya SC trus berikutnya mau lahiran pervaginam, jarak anak pertamanya harus jauh dulu. Minimal banget 3 tahun lah. Itu dengan catatan, kondisi si ibu dan janin harus baik semua ya.

Kontrol-kontrol gue datangi dengan rajin tanpa skip seharipun. Vitamin juga tetap gue minum. Alhamdulillah keadaan si adik bayi di dalam perut baik-baik aja, ngga ada masalah sedikitpun. Dokter Widi malah udah bolehin operasi katanya, udah cukup umurnya dan beratnya. Tiap kontrol selalu ditanya mau lahiran kapan, meskipun beliau udah bikin jadwalnya. Tapi entah kenapa tiap ditanya begitu, gue selalu terdiam. Kayak belum siap aja gitu, dan ngerasa, masa iya gue milih sendiri tanggal lahirannya, walaupun ya iya sih, gue ada kepinginan gitu, misal, tanggal 25 Nov, maksudnya biar tanggalnya sama kayak tanggal lahir gue, ehehehe. Tapi ngga pernah gue utarakan. Apakah adik bayi yang akan menentukan tanggal lahirnya sendiri? Entahlah... 

January 02, 2021

Preggo Story 3: Fun Facts And Chit Chats

Berikut adalah hal-hal yang gue temukan dan rasakan saat hamil yang ke-2 ini. 

1. Perasaannya jadi lebih sensitif parah. 

2. Mitos bentuk perut saat hamil anak perempuan dan laki-laki kayaknya berlaku benar di gue. Perut gue yang hamil ke-2 lebih bulat dan letaknya di atas, pusar rata dengan perut, gue hamil anak perempuan. Dibanding perut hamil pertama yang cenderung lonjong dan letaknya agak di bawah, pusar menonjol, hamil anak laki-laki. 

3. Ngga terlalu bisa makan makanan pedas

4. Maunya makan yang manis-manis melulu. Es krim, kue, biskuit, roti cokelat, donat gula, dan sebagainya. 

5. Senang juga sama yang asam-asam manis seperti yogurt, lemon tea, dan asinan. 

6. Cenderung lapar sekali di pagi hari, terutama di trimester 2, jadi lahap makannya. Jadi lebih gampang lapar juga. 

7. Walaupun gitu, kalo nimbang, naiknya tetep sedikit-sedikit. Hadehh. 

8. Diresepin penambah darah dari dokter yang rasanya blackcurrant. Jadi malah doyan. 

9. Lebih sering minum kopi. Terutama di bulan ke-5 dan 6. Sehari 1 cangkir. 

10. Awal kehamilan bener-bener ngga bisa ngapa-ngapain karena gampang pusing dan mual, eneg bau masakan, eneg bau kamar mandi, eneg terus. Masuk trimester 2, malah pengennya bebenah terus, meskipun ngga bisa total karena jadi gampang capek. 

11. Trimester 2 jadi rajin mandi dan skin care-an. Pulas lipcream setiap abis mandi walaupun di rumah aja, pake warna yg sama kayak warna bibir. Ternyata kayak gini bisa bangun mood jadi lebih baik tiap ngaca loh, hehe. 

12. Cenderung lebih nyaman tidur menghadap kanan dibanding kiri. Tapi dokter bilang harus sering-sering tidur miring ke kiri. Jadilah gue kalo tidur sering grasa-grusu ganti posisi kanan kiri. 

13. Karena jadi agak sensitif, mau ngga mau, enak ngga enak jadi mempelajari banyak hal, terutama mengenai mental dalam berumah tangga. Seriously. Selama 4 tahun menikah, kayaknya baru kali ini gue ngerasa amat sangat sensitif dan seolah-olah gue tidak bisa deny dengan kenyataan-kenyataan yg selama ini gue anggap sepele. 

14. Gampaaang banget capek di trimester 3. Padahal hamil sebelumnya kayaknya ngga secapek ini. 

15. Gampang banget gerah! Asli. Padahal AC udah dingin banget. 


Kehamilan ke-2 ini sebenarnya tidak terlalu direncanakan, tapi bukan karena kebobolan juga. Sebelumnya, memang gue pernah sekilas-sekilas berdoa dalam hati, kalau, kayaknya enak juga ya kalo punya anak bedanya 2 tahun, kayak gue dan adik gue. Jadi bisa grow up together, gap nya ngga terlalu jauh. Gue memang ngga KB karena berpikir begitu. Waktu itu pun kondisinya gue sedang baru memulai bisnis lagi di SWEETREAT. Udah nyetok bahan, beli loyang dan beberapa alat baking baru, uji resep, sampai dekor ruang baking sendiri biar mood bakingnya dapet. Sempat berjalan beberapa orderan, tapi rejeki untuk punya anak lagi ternyata datang lagi. Hehe. Sebelum tahu positif hamil, pas lagi curiga kalo kali ini bakal beneran hamil lagi, pernah bilang ke suami. Ai, awal tahun ini, yang manapun yang bakal kita dapatin, kayak misal aku punya rencana bikin kue lagi nih, tapi kalo misalkan aku positif hamil, aku harus pilih salah satu untuk difokusin terlebih dulu. Kalau ternyata aku positif hamil, kayaknya aku bakal relain bisnis aku tutup lagi dulu. Tapi kalo ternyata negatif, aku baru lanjut lagi.


Dan ternyata gue hamil lagi. 


Bukan apa-apa. I can say, the most fragile time of my life is when I'm pregnant. Memang kepayahan banget gue kalo soal bagi-bagi energi. Ditambah kalau sedang hamil. Gue tuh ngga jarang berdoa, kalo aja gue punya tenaga yang banyak, kayaknya gue bisa aja ngelakuin banyak hal. Tapi tetep sih, multitasking tuh sulit buat gue, karena jadi ngga ada yg bener. Dan gue, maunya total. Nailed to the max. Terlebih, gue ngga mau memaksa dan malah jadi masalah. Awalnya gue ragu, hamil lagi dengan toddler yang aktif banget. Tapi, bismillah. Dan ya, gue tetap menjalaninya, meskipun kadang harus berhenti sejenak, dan sempat harus bedrest. Gue bersyukur banget, masih banyak yang bisa bantuin gue, terutama bantu jagain Rey di saat gue harus bedrest dan ngga boleh capek-capek. Gue salut banget sama mommies yang juga lagi berjuang di kondisi apapun itu di kehamilannya.


Banyak yang bilang.. 

"Ih, kok udah hamil lagi? Emang anaknya udah bisa apa aja?"

Tapi ada juga yang bilang.. 

"Wah, masya Allah, Icha udah hamil lagi. Selamat ya. Doain dong, biar gue juga hamil lagi."


Ada yang heran

Ada yang senang, bahkan minta didoakan


Gue sendiri pernah juga berpikir, apaan sih, kok gue udah hamil lagi. Karena merasa belum siap di banyak hal. Realistis lah. Tapi, ruwet banget kepala ini jadinya. Trus nanti mikir lagi, yang positif-positif. Cha, banyak yang struggling untuk hamil. Lo harusnya bersyukur sudah dimudahkan, dan fokus aja deh ke kehamilan lo. Insya Allah, kalau ikhlas, semuanya bisa jadi berkah. 


Yah, namanya juga hidup... 


Ngebayangin gimana rempongnya nanti kalo baby nya udah lahir aja kadang gue ngga sanggup. Udah lah, jalanin aja. Nanti juga ketemu selanya. Toh persiapan juga udah dibikin kan, ngga yang bodo amat pasrah gitu. 


Selama ini Rey selalu rewel kalo ngga liat ibunya. Sekarang gue lagi banyak banget berdoa biar Rey mau ditinggal sama iyang dan tantenya kalo nanti ibunya lahiran. Aamiin. 


(Selesai ditulis pada 31 Oktober 2020) 




September 22, 2020

Preggo Story 2: Pregnancy Highlight

Covid-19 membuat gue ragu untuk keluar periksa kehamilan. Sempat bingung mau periksa di mana dan nunda periksa 1 bulan. Gue prefer periksa di rumah sakit sebenernya, biar lebih lengkap vitamin dan konsultasinya. Tapi kondisi begini, jadi serem sama rumah sakit. Gue sempat konsultasi online pakai aplikasi halodoc. Bayar 25rb pakai gopay untuk bisa konsul. Gue lupa konsulnya sama dokter siapa. Dari situ gue dikasih resep folavit. Oke, sama nih sama waktu gue hamil yang pertama. Vitaminnya diresepin untuk 30 hari. Karena ngga mungkin konsultasi online terus, gue cari-cari lagi di mana gue akan kontrol kehamilan. Setelah tanya-tanya dan survey, di bulan berikutnya, akhirnya gue memutuskan untuk periksa di bidan deket rumah.

Gue kontrol di Bidan Ira Setianingrum. Ternyata enak juga. Bidannya ramah dan cukup komunikatif, jadi enak konsultasinya. USG juga cukup lengkap, ada yg 2D dan 3D. Dikasih vitamin 2 jenis. Kalsium sama penambah darah. Sebenernya agak kurang banyak nih gue rasa vitaminnya. Tapi ya udah untuk sementara, gapapa. Selebihnya, gue mengikuti pola hamil sebelumnya. Minum susu ibu hamil, dan makan makanan yang tinggi protein. 

Gue kontrol di bidan dapat beberapa kali. Minggu ke-9, minggu ke-18, dan minggu ke-23. Semua alhamdulillah berjalan dengan baik-baik saja. Hanya aja, hasil lab menunjukkan hemoglobin gue rendah. Ini emang udah jadi hal yang langganan deh kayaknya buat gue. Dari kehamilan pertama juga ini masalahnya. Oh iya, dan berat janin yang selalu di bawah angka aman. Ya udah jadilah gue minum susu tinggi protein lagi dan minum penambah darah jadi 2x sehari, ditambah harus makan telur sehari minimal 3, dan makanan tinggi protein lainnya. Eneg, eneg dah. 

Tapi, terlepas dari segala kondisi medis si ibu dan janin, ada hal dalam kehamilan kali ini, yang bisa dibilang, cukup menjadi highlight of pregnancy. 

Gue jadi sensitif banget. Parah. Tapi sensitifnya tuh ngga yang bisa diungkapkan gitu. Nulis ngga bisa, ngomong apalagi. Tiba-tiba bisa nangis sendiri diem-diem. Susah untuk berpikir positif. Sering dan jadi gampang banget kena anxiety attack. Bisa sembuh, tapi ngga lama. Pokoknya, denger bad news atau bahkan omongan yang slightly offensive sedikit aja tuh langsung worry dan kebawa perasaan dan pikiran. Gue wondering, ini hormonal apa bukan ya? Kondisinya adalah keadaan lagi pandemi, lockdown, ngga boleh ke mana-mana, gue terjebak di rumah. Ngerasa, ni gue di rumah sendiri tapi kok kayak bukan rumah gue sendiri ya. Gue merasa muak banget di rumah. Bahkan pernah gue lagi kontrol, dibilang berat badan kurang, ditanya ada masalah apa sama dokternya, eh gue malah meneteskan air mata. Apa iya karena ngga bisa refreshing?

Pokoknya, 4 bulan pertama hamil yang ini, bener-bener beraat banget rasanya. Mental breakdown, banyak uji kesabaran, banyak sekali kepura-puraan. Seperti mimpi buruk. Gue ngga mau lagi mengulanginya.

Gue kangen keluarga gue. Dan memang waktu itu gue sempat bisa nginep di Bekasi. Gue ngerasa legaaaaa banget hati dan pikiran. Tapi karena adek gue sakit, biar aman, gue disuruh pulang lagi dulu. Rasanya berat. Belum mau pulang tapi udah harus pulang. Lagi-lagi gue harus membesarkan hati untuk menerima keadaan. Gue cuma bisa berdoa untuk dikuatkan dan lebih disabarkan, dan tentu aja, berdoa agar kehamilan ini baik-baik saja,  meskipun rasanya mental ini sedang ditempa. 

It's hard to think positive these days. I don't know why. It's just full of effort. Is it because pregnancy hormone? I'm wondering. Because it's just like not me at all. So hard to think about good and positive things. 

Sekarang gue sudah memasuki bulan ke-7 kehamilan (30weeks preggo). Gue pindah kontrol ke rumah sakit, untuk persiapan lahiran. Gue juga udah nginep lagi di rumah orang tua gue. Selepas bolak-balik pindah itu, setelah 4 bulan ga bisa ke mana-mana (rumah ortu - rumah sendiri 1 bulan - rumah ortu), gue sempat mengalami beberapa hal yang mengharuskan gue untuk bedrest. Ya ngeflek, ya sempet ngira ketuban netes. Tapi alhamdulillah sekarang sudah ngga papa dan baby di dalam perut juga baik-baik aja. Malahan bisa dibilang, baby yang ini, di dalam perut lebih aktif dibanding waktu hamil pertama. Gue benar-benar harus bersyukur sebanyak-banyaknya. 

Sebenernya tuh enak, hidup dengan keluarga kecil gue sendiri di rumah terpisah orang tua. Gue optimis banget gue bisa handle semua. Tapi kadang ada masa di mana semuanya tuh kayak capek, berasa monoton, dan jadi ngga kepegang. Sementara gue kepayahan banget. Suami yang capek kerja, anak batita yang lagi aktif-aktifnya, gue yang tenaganya limited parah terlebih lagi hamil. Suami pernah nawarin untuk hire ART aja. Tapi entah kenapa gue selalu merasa ngga sepenuhnya setuju. Entah. Kayak ngga mau ada siapa-siapa lagi aja gitu di rumah. Ujung-ujungnya ya capek sendiri. Karena capek, jadi gampang ketrigger. Ketrigger, jadi marah-marah. Bener lho ternyata, kalo gue lagi ngga mood, rumah kayak hampa, ngga ceria. Ternyata gue beneran jadi seorang ibu.

Beneran banyak banget latihan-latihan kesabaran di setiap harinya. Latihan mengatur perasaan dan pikiran. Latihan mengeluarkan emosi tanpa ter-trigger maupun men-trigger pasangan/orang lain. Latihan berbesar hati menerima kenyataan yang tidak sesuai ekspektasi. 

So much to learn

Sepertinya akan selamanya jadi pembelajaran

Seumur hidup

Dan semua itu sangat butuh energi yang banyak

Memikirkan tentang bagaimana effort-nya gue untuk berpikir positif dan yang baik-baik. Memikirkan tentang bagaimana struggle-nya  waktu awal kehamilan sampe sekarang dan insya Allah sampai nanti baby lahir dan seterusnya.

Sepertinya, calon bayi ibuk yang satu ini, bakalan jadi anak yang strong and tough. Yang pantang menyerah menghadapi tantangan sampai berhasil mencapai tujuan. I'm sure of that. 

Insya Allah. 

Can't wait to see you and meet you in a healthy and perfect shape but, for now, please stay happy and healthy in my tummy, my lovely baby. 




September 18, 2020

Preggo Story: Baby Number 2

Tahun 2020 memang rasanya dari awal sudah nano-nano. Awal tahun, gue lagi nginep di rumah orang tua gue di Bekasi, karena ada jadwal kontrol ke dokter gigi. Hujan deras, sampai bikin banjir area perumahan. Alhamdulillahnya, ngga sampe masuk rumah. Kontrol ke dokter sempat tertunda, karena daerah rumah dokternya juga banjir. Ternyata banjirnya di mana-mana. Jakarta? Apalagi. Akhirnya kontrol diundur 2 hari. Setelah beres urusan kontrol ke dokter gigi, gue pulang lagi ke rumah. 

Awal tahun memang masuknya musim hujan. Beberapa kali hujan deras bikin jalan depan rumah sering banjir. Alhamdulillah, ngga masuk rumah. Gue pikir aman akan terus begitu sampai musim hujan berakhir, karena rumah gue juga udah agak ditinggiin dari sebelumnya. Tapi kenyataannya, enggak. Tepat tanggal 25 Februari, air banjir masuk rumah dari subuh. Gue dan Ai udah bangun dari sebelum subuh karena ngerasa worry, hujan ngga berhenti dari malam. Bangun-bangun air udah masuk teras. Itupun hujan belum berhenti. Kami pun memutuskan untuk evakuasi barang-barang ke tempat yg lebih tinggi. Rey, gue taro di baby chair-nya. Meskipun agak rewel karena bingung, tapi lumayan bisa anteng juga dia. Benar aja, air masuk rumah juga. Sedih banget gue liat air masuk, dah kayak di film Titanic. 

Pertanda apa ini, ulang tahun yang ke-28 dikasih banjir masuk ke dalam rumah... 

Baiklah, ngga apa-apa. Toh kami ngga sendirian kebanjirannya.

Alhamdulillah menjelang sore, air di dalam rumah mulai surut. Udah mulai bisa bersih-bersih buangin air ke luar. Selama bersih-bersih, Rey anteng tidur. Ini adalah salah satu yg gue syukurin banget. Karena bersih-bersihnya jadi bisa cepat selesai. Makasih ya, anak ibuk yang pinter. Menjelang maghrib, rumah sudah bersih. Kami menyalakan lilin karena memang listrik masih mati. Hmm, lilin ulang tahun ke-28 nih yaaa.


Dari banjir ini, gue mempelajari sesuatu. Kalau, hmm, ternyata kami bertiga bisa juga ya kerjasama dengan tenang dan happy (malah banyak ketawa-tawanya lagi) nyelesein masalah kayak gini. Dah lah batre hp low, ngga pegang uang cash, ATM jauh dan ga tau nyala apa ngga. Hahahah. Malah lebih asyik karena ngga ada interupsi dari orang lain. Coba ngebayangin kalau ada uti atau iyang, pasti kebanyakan paniknya daripada kerjanya. Semoga seterusnya, masalah yg ada di keluarga kecil kita, bisa diselesaikan dengan begini ya, Ai, Rey... 

Lalu gue ke kamar mandi buat bersih-bersih. Lah kok celana gue ada bercaknya. Apakah karena gue kecapekan abis tadi beres-beres? Ya, itulah hal yang pertama kali gue pikirkan waktu gue melihat ada bercak flek di celana dalam gue. 

Bulan berikutnya, ternyata jadwal mens gue mundur lagi. Gue sempat santai, karena memang beberapa bulan terakhir ini jadwal mens gue ngga teratur. Hingga akhirnya gue kepikiran untuk test pack. Apa jangan-jangan gue hamil? Semenjak menikah dan punya anak, itu hampir tiap bulan kayaknya gue beli test pack. Seringnya kalau gue curiga aja. Takut-takut positif, eh seringnya kalo negatif ya sedih sedih juga. Heran. Tapi kali ini, hasilnya positif!



Serius nih? Garisnya 2 tapi yg satunya masih samar. Ni gue hamil kaga ya?

Ooh, jadi flek bulan lalu itu bisa jadi tanda-tanda implantasi, mungkin yaa.

Jadilah gue tunggu 3 hari lagi untuk coba tes lagi. Tapi gue ngga sabar, jadinya gue majuin 1 hari, 2 hari kemudian gue tes lagi.

Oke, 2 garis lagi, yang satunya udah lumayan jelas. Fix, we are expecting baby number 2, insya Allah. 

Wow, can't believe I write another preggo story in 2 years. Masya Allah. 




September 07, 2019

Bahas Taylor Swift

Kali ini gue mau ceritain awal mulanya gue jadi suka sama Taylor Swift.

Well!

Sebenarnya sebelum suka (atau bisa dibilang mulai sering mengikuti perkembangannya) Taylor, gue lebih dulu dengerin lagu-lagunya Britney Spears dan Avril Lavigne. Mohon jangan diketawain yaa. Mereka keren-keren lho. Hahaha. Iya, dulu. Pas gue masih SMP. Gue sampe punya kaset-kasetnya. Kaset yang roll itu ya. Dulu kan masih banyak tuh toko kaset, dan kaset-kaset mereka juga banyak di mana-mana. Gue inget banget waktu minta beliin kaset Britney Spears (yang gue lupa judul albumnya apa) sama bapak gue, dan seolah-olah bapak gue ngga yakin begitu melihat cover albumnya Britney yang 'gitu' deh. Bapak gue dengan tampang ragu kayak, 'yakin kamu anak SMP bau kencur mau beli kaset kayak ginian, bergaul di mana anak ini??', tapi tetep beliin. Trus gue sampe hapal satu album. Begitu juga lagu-lagunya Avril Lavigne. Album terbarunya sekaligus yang terakhir gue punya itu judulnya The Best Damn Thing kalo ga salah. Yang lagu hits-nya Girlfriend 'Hey hey you you, I don't like your girlfriend!' Gitu... Trus di album itu gue suka banget sama lagu judulnya Innocent. Yak ampun, dari situ aja gue sampe dapet inspirasi banyak banget sampe bisa bikin novel (yang ada di laptop, dan hilang karna laptopnya dijual, itu novel belum gue back up).

Albumnya Avril Lavigne

Albumnya Britney Spears yang dulu gue punya

Trus masuk lah masa-masa SMA. Seinget gue, gue baru denger pertama kali lagunya Taylor itu yang You Belong With Me. Kok kayaknya teman-teman gue selalu ada lagu itu di musik player di hp mereka. Jujur aja, waktu itu gue belum terlalu suka. Itu pertama kali gue tau Taylor Swift.


Long story short, gue mulai tertarik mengikuti Taylor itu pas denger lagu Innocent kalo ga salah, yang dia perform di acara apa yaa, VMA atau AMA atau Grammy's ya, gue juga lupaa. Nah udah gitu gue ngikutin pas banget dia mau ngeluarin album RED. Dari situ gue mulai ikutin terus perkembangan lagu-lagunya. Menarik sekali ternyata Taylor ini, terlebih, dia nulis lagu dari hasil dia nulis diary. Gue, juga suka nulis diary. Juga, lirik-lirik lagunya dia tuh suka pas banget gitu sama keadaan, yang gue pun sulit untuk menuliskannya. RED masih country waktu itu, ya, walaupun ada pop pop nya sedikit, yang bahkan gue sama sekali tidak memperhatikan itu, karena gue lebih tertarik ke lirik-lirik lagu yang dia tulis. Hampir semua sih, lagu-lagu di album RED gue suka. Terutama Red, State Of Grace, sama Treacherous dan All Too Well.



Tahun 2014, dia ngadain tour pula di Jakarta, dan untuk pertama kalinya gue datang ke konser musisi yang gue suka. REDTour Jakarta! Aah! Seneng banget gue waktu itu! Dari situ, dimulailah gue menggali lebih dalam lagi lagu-lagunya Taylor yang belum gue dengar sebelumnya. Dan yak ampuuun! Banyak banget ternyata yang relateable dan enak didenger. Love Story, Invisible, If This Was A Movie, Never Grow Up, dan banyaaak. Oke, walaupun agak telat, tapi ngga papa..

Nunggu Konser Mulai
Sebelum Konser Mulai


Kemudian, album 1989 yang udah pernah gue review di blog ini. Lalu album REPUTATION yang dark abisss tapi kerenn paraaah! Dan sekarang, sing anyar, yang paling baru, LOVER!


Bahas REPUTATION dulu deh..

Gue INGET BANGET! Waktu single pertamanya release, Look What You Made Me Do, itu gue lagi dalam masa awal kehamilan. Penuh dengan mual dan pusing dan sensitif parah. Sampe sekarang, kalo denger lagu LWYMMD tuh kadang keinget mualnya. Hahaha. But anyway, REPUTATION tuh parah banget sih kerennya. Walaupun pas awal keluar, rasanya ngga Taylor banget. But HEY! Inilah how amazing SHE IS! Kalo dipikir-pikir, setiap dia ngeluarin album baru, gue selalu mikir, ih kok kayak bukan Taylor?? Tapi the more gue dengerin, the more gue suka. Dan ternyata di situlaaaaaah letak ke-amazing-annya, teman-teman! Dia selalu berani bermain yang belum pernah dia mainkan. Selalu ada yang baru, yang di luar comfort zone-nya dia (maybe), sehingga yang disajikan lebih bervariasi. Gue ngerasain banget itu. Bahkan sampe album yang terbaru sekarang ini! Lagu-lagu yang paling gue suka di REPUTATION itu diantaranya Gorgeous, Delicate, End Game, Call It What You Want, sama Dress. Well, literally, gue suka semua lagunya di REPUTATION.

Lalu LOVER! Lagi-lagi, pas Taylor ngeluarin single pertamanya yang ME! gue berpikir, apakah ini Taylor??


Dan oh iya! Sejak album REPUTATION, senang kali rasanya aku waktu liat appearance nya dia, Taylor jadi keliatan lebih segar dan berisi. Sepertinya dia work-out dan gain-weight yaa.

Balik lagi ke LOVER. Gue sangat menikmati single ME! featuring Brendon Urie. Sepanjang vclip tuh bawaannya senyuuum terus karena emang sangat ceria dan berwarna-warni. Beda banget kan, sama album REPUTATION sebelumnya! Lalu menyusul lagu You Need To Calm Down, The Archer (my favorite), Lover (my favorite too), sampai akhirnya whole albumnya release. Wooooaaaah, lagunya bagus-bagus bangeeeet!!! Gue suka Miss Americana And The Heartbreak Prince, Daylight, London Boy, I Think He Knows, Cruel Summer, Afterglow. OMG, literally, semuaaaanyaaa!!!


Tapi, semenjak itu, gue merasa overrated gituuu. Trus gue merasa sudah tidak sepersonal itu lagi hubungan gue dengan lagu-lagunya Taylor yang di LOVER. Gue sampe kangen sama lagu-lagu di album yg sebelum-sebelumnya, dan gue dengerin balik, untuk menetralkan perasaan. Haaaahhh.


Gue merasa setiap lagunya, ngasih kesan yang berbeda-beda. Tergantung suasana pas gue lagi dengerinnya juga. Kayak yang gue bilang tadi pas gue dengerin LWYMMD di awal masa kehamilan yang lagi sering mual dan pusing dan sensitif. Hahaha. Mungkin gue butuh waktu dulu untuk dengerin LOVER supaya kesan yang diingat pas dengerin itu ngga overrated lagi.


Well, still, Taylor Swift menurut gue adalah artist/seniman yang amat jenius. Gue masih akan terus ngikutin perkembangannya sih. Kalo diliat-liat, fase hidup gue (halah!) sama Taylor tuh mirip-mirip karena emang perbedaan usia gue dan Taylor ga terlalu jauh. Dia kakak kelas gue. Makanya gue merasa mostly related. Cuma emang yaa BEDA BANGET juga, secara, dia american singer songwriter yang amat sangat terkenal (dan gue apaan??). Terlebih, penasaran, lagu seperti apa yaa yang bakal dia ciptakan setelah dia menikah dan menjalani kehidupan pernikahan?? Hahahah. I'm really on that! Keep up the good work, girl!

August 02, 2019

Dilema Ibuk

Tahun 2019 sudah berjalan setengahnya. Sejak punya anak, entah kenapa hidup gue terasa cepat banget berputarnya. Waktu terasa cepat berlalu tapi gue tidak merasa live in it. Gue menjalani waktu gue, membiarkannya berputar, tanpa bisa merasakan seutuhnya setiap moment di dalamnya. Contoh sederhananya gue rasakan ketika hari-hari besar, Idul Fitri, Ramadhan, Tahun Baru, entah kenapa sulit untuk bisa gue rasakan esensinya. Kenapa ya?

Akhir-akhir ini pula, gue mulai kepikiran lagi untuk akan-melakukan-apa-agar-gue-tidak-diam-saja-dan-tetap-menghasilkan. Sedikit banyak, gue rindu melakukan uji coba resep, merancang konsep, gue rindu baca buku dengan tenang, rindu ketika gue terinspirasi dan dari inspirasi-inspirasi itu gue bisa membuat sesuatu, entahlah, sebuah karya, mungkin?

Tapi gue juga merasa, berpikir untuk diri sendiri seperti itu untuk sekarang ini, kok, seperinya kurang wise, mengingat gue punya tanggung jawab yang harus banget difokuskan...

Sebenarnya, dari situ sudah jelas banget sih, mana yang harus menjadi prioritas hidup gue untuk saat ini. Tapi melihat sekeliling gue yang sudah mulai 'hidup' lagi, mulai baking lagi, mulai berkreasi lagi, gue jadi ter-trigger lagi untuk, wey gue juga bisa kayak gitu, or even better, maybe. Hal-hal yang bikin gue trigger itu ends up bikin gue ter-distract. Hilang fokus. Ujung-ujungnya membanding-bandingkan, mengeluh, dan jadinya tidak ada satupun yang dikerjakan dengan baik.

Maybe they're toxic. No, they're not, actually. Even toxic sounds so harsh for them yang bahkan ngga melakukan hal yang merugikan gue. But, when I feel distracted, I think it is me yang harus sejenak memberi jarak. Set up my mind. Focus on the most matter and important things.

It's not like I'm not trying. Look, I've been trying. Tapi ujung-ujungnya, yang tumbang adalah gue sendiri. So, YEAH!

I don't go directly with...
It's okay, cha
or
Sabar aja lah
or
Tenang aja, cha

Sebelum itu, gue pasti memaki-maki diri sendiri dulu, galau-galau dulu, nangis-nangis dulu. Karena gue ngga bisa deny kalau gue sedih dan malu dan merasa ketinggalan dan sebagainya dan sebagainya. I took my times for pity-ing myself, then, okay, it's okay. Now close your eyes, heart, and mind from all the things that distracted your focus, then start again.

Life is simpler now, for me, by being focus and be happy with what I have now.

Menurut gue, bukan menyerah namanya untuk sejenak berhenti melakukan apa yang diinginkan. Gue menentukan prioritas. Pun semoga ini bukan pembenaran semata. Dan gue juga selalu berdoa untuk bisa mengikhlaskan semua yang saat ini belum bisa gue lakukan demi agar gue bisa menjadi ibu yang baik dan ngga lalai sama anak dan suami.

Lalu gue memutuskan untuk berhenti sejenak dari instagram...
Lalu gue memutuskan untuk mengatur bermain sosial media jadi seminggu sekali, hanya tiap weekend. Since then, my days feel lighter and lighter...