Showing posts with label notes. Show all posts
Showing posts with label notes. Show all posts

August 02, 2019

Dilema Ibuk

Tahun 2019 sudah berjalan setengahnya. Sejak punya anak, entah kenapa hidup gue terasa cepat banget berputarnya. Waktu terasa cepat berlalu tapi gue tidak merasa live in it. Gue menjalani waktu gue, membiarkannya berputar, tanpa bisa merasakan seutuhnya setiap moment di dalamnya. Contoh sederhananya gue rasakan ketika hari-hari besar, Idul Fitri, Ramadhan, Tahun Baru, entah kenapa sulit untuk bisa gue rasakan esensinya. Kenapa ya?

Akhir-akhir ini pula, gue mulai kepikiran lagi untuk akan-melakukan-apa-agar-gue-tidak-diam-saja-dan-tetap-menghasilkan. Sedikit banyak, gue rindu melakukan uji coba resep, merancang konsep, gue rindu baca buku dengan tenang, rindu ketika gue terinspirasi dan dari inspirasi-inspirasi itu gue bisa membuat sesuatu, entahlah, sebuah karya, mungkin?

Tapi gue juga merasa, berpikir untuk diri sendiri seperti itu untuk sekarang ini, kok, seperinya kurang wise, mengingat gue punya tanggung jawab yang harus banget difokuskan...

Sebenarnya, dari situ sudah jelas banget sih, mana yang harus menjadi prioritas hidup gue untuk saat ini. Tapi melihat sekeliling gue yang sudah mulai 'hidup' lagi, mulai baking lagi, mulai berkreasi lagi, gue jadi ter-trigger lagi untuk, wey gue juga bisa kayak gitu, or even better, maybe. Hal-hal yang bikin gue trigger itu ends up bikin gue ter-distract. Hilang fokus. Ujung-ujungnya membanding-bandingkan, mengeluh, dan jadinya tidak ada satupun yang dikerjakan dengan baik.

Maybe they're toxic. No, they're not, actually. Even toxic sounds so harsh for them yang bahkan ngga melakukan hal yang merugikan gue. But, when I feel distracted, I think it is me yang harus sejenak memberi jarak. Set up my mind. Focus on the most matter and important things.

It's not like I'm not trying. Look, I've been trying. Tapi ujung-ujungnya, yang tumbang adalah gue sendiri. So, YEAH!

I don't go directly with...
It's okay, cha
or
Sabar aja lah
or
Tenang aja, cha

Sebelum itu, gue pasti memaki-maki diri sendiri dulu, galau-galau dulu, nangis-nangis dulu. Karena gue ngga bisa deny kalau gue sedih dan malu dan merasa ketinggalan dan sebagainya dan sebagainya. I took my times for pity-ing myself, then, okay, it's okay. Now close your eyes, heart, and mind from all the things that distracted your focus, then start again.

Life is simpler now, for me, by being focus and be happy with what I have now.

Menurut gue, bukan menyerah namanya untuk sejenak berhenti melakukan apa yang diinginkan. Gue menentukan prioritas. Pun semoga ini bukan pembenaran semata. Dan gue juga selalu berdoa untuk bisa mengikhlaskan semua yang saat ini belum bisa gue lakukan demi agar gue bisa menjadi ibu yang baik dan ngga lalai sama anak dan suami.

Lalu gue memutuskan untuk berhenti sejenak dari instagram...
Lalu gue memutuskan untuk mengatur bermain sosial media jadi seminggu sekali, hanya tiap weekend. Since then, my days feel lighter and lighter...

July 19, 2018

Life Sucks (?)


Akhir-akhir ini gue…

Tunggu, bukan akhir-akhir ini, tapi beberapa tahun terakhir ini, gue merasakan roda kehidupan gue sedang berputar ke bawah. Ya, setidaknya begitulah yang gue rasakan. Dimana semua keadaan gue dulu bisa dibilang baik, seketika semuanya terbalik. Jungkir balik, tapi syukurlah, belum nyungsep.

Gue merasa gamang. Bisa dibilang tidak bisa fokus dan hilang arah. Gue yang dulu yakin bisa melakukan sesuatu dan berhasil, sekarang, seberapa keras pun gue coba, gue selalu terjatuh. You know, kayak waktu Spiderman (yang diperanin Tobey Maguire) ngga yakin sama dirinya sendiri, sampe ngga bisa ngeluarin jaring dan lompat tinggi lagi, meskipun sudah dicoba berkali-kali tetap jatuh, tetap nggak keluar jaringnya. Iya, kayak gitu. Gue ngga tau siapa diri gue. Gue kehilangan faith, kehilangan kekuatan, kehilangan kepercaya-dirian, kehilangan pegangan, walaupun gue terus keep on trying, doing, and having faith. Sementara di luar sana, teman-teman gue sudah menjadi seseorang, punya pegangan, berada jauh di depan. Gue merasa gue sangat menyedihkan.

Akan seperti apa masa depan gue?

Apa yang harus gue lakukan?

Hidup sangat menyebalkan…

Gue, yang selama ini hidupnya lurus-lurus aja, gamang menghadapi fase yang seperti ini. I never think I can be this lame. After all this time, ternyata gue belum bisa apa-apa, ngga ada apa-apanya, sangat lemah.

But to blame anyone or anything…? Sangat tidak bijak, kan?
Belum, gue belum menemukan titik balik dari kehidupan gue. Akan sampai mana diri gue ini? Apa tujuan gue hidup di dunia ini? Gue belum menemukan itu.

Life sucks?

Begini…

Kalau kau merasa hidup ini mengecewakanmu, mungkin bukan kehidupannya yang salah. Mungkin caramu yang payah dalam membuat keputusan? Sehingga kau harus menjalani kehidupan yang seperti sekarang sedang kau jalani ini…

Because, there’s no one or thing deserves to be blamed

But, still life is a choice. You make a decision and you should not regret it whatever the return is. In life, there’s a learning in everything. Everything you do has been written, though. Don’t point your finger, stand tall. You have been won this life since birth.

Yaaaa, kalimat-kalimat di atas memang gue yang bikin dari waktu yang gue habiskan untuk merenung di sela-sela aktivitas gue. Tapi, tetap saja, kadang gue merasa kehilangan semangat kalau ingat-ingat hal yang menyedihkan dan betapa bodoh dan naifnya gue dalam memutuskan sesuatu.

Sounds ungrateful, right?

No worry, walaupun gue sering merasa sedih karena udah ketinggalan jauh banget kayanya dari yang lain, deep inside of my heart, gue amat sangat bersyukur dengan semua yang gue dapatkan di hidup gue.

Keluarga yang sayang banget sama gue

Hubby yang baiiiiiiik banget sama gue, sabar sama omelan-omelan gue, sabar sama ke-nggakjelas-an gue, yang nerima-an banget orangnya.

Saudara-saudara yang baik sama gue

Teman-teman yang baik sama gue

What else for me to not be grateful enough? Lagipula, mungkin ini saatnya buat gue untuk nggak melulu lihat ke atas. Sesekali harus lihat ke bawah. Dengerin omongan orang nggak akan ada habisnya. Harus bisa fokus sama apa yang bisa gue lakukan, dan lakukan itu dengan maksimal. Bukankah harusnya begitu? Gue nggak mau stuck begini-begini aja. Bagaimana dengan mimpi-mimpi tinggi yang gue buat? Gue harus berani.

P.S. Ini adalah catatan dari 13 Juli 2017, dan sepertinya, postingan sebelumnya adalah jawabannya.

June 29, 2018

A Note

Lupa tepatnya sejak kapan, gue mulai menjalani apa yang menjadi jalan hidup gue dengan apa adanya. Tanpa bayangan, tanpa analisis yang detail, tanpa berpikir terlalu panjang tentang apa yang akan terjadi di depan gue nantinya.

Seperti contoh sederhananya, gue tidak sedia payung, tapi hujan turun. Untuk melewatinya, gue mencari cara lain untuk tidak terkena hujan tanpa menggunakan payung.

Apa itu namanya? Improvisasi? Spontanitas?

Ya. Entah kenapa gue merasa lelah dengan melakukan analisa atau berpikir jauh-jauh. Ada perasaan dimana gue ingin benar-benar merasakan hari ini, saat ini, tanpa kegelisahan akan apa yang nantinya bakal terjadi atas keputusan/pilihan yang gue tetapkan sekarang.

Lalu gue mulai menjalani hari-hari gue dengan mengalir dan kadang terkejut dengan kejadian-kejadian yang tidak terduga. Kemudian menghadapinya dengan spontanitas-spontanitas serta kemungkinan-kemungkinan yang bisa gue lakukan.

Pada akhirnya gue merasa takjub dengan apa yg sudah gue lakukan.

Bagaimana gue bisa melakukan itu padahal sebelumnya gue pernah berpikir kalo gue tidak akan berani dan tidak akan bisa melakukannya...?

Seperti saat gue hamil dan melahirkan.

Saat gue hamil, gue selalu tidak bisa membayangkan bagaimana nanti waktu lahiran. Sakit banget kah? Sanggup kah gue? Apa gue bisa? Lalu gue lebih memilih untuk nggak mikirin lebih jauh lagi. Selalu begitu setiap gue ingat lahiran. Pada saat tiba waktunya lahiran, gue masih mengira kalau gue tidak lahiran hari itu, padahal kondisinya gue sudah berbaring di rumah sakit karena air ketuban gue sudah pecah. Gue pasrah, terlebih saat dokter datang dan bilang kalau gue harus melahirkan dengan cara sesar. Bahkan pada saat itu gue masih ngga percaya kalau bayi gue akan benar-benar akan bertemu gue hari itu juga. Namun dalam hati gue ngga berhenti berdoa. Mencoba bayangin gimana nanti prosesnya, gue ngga bisa. Bener-bener ngga ada bayangan sama sekali. Terlebih, pada waktu itu gue ngga merasakan sakit apapun sama sekali. Kontraksi seperti ibu-ibu lain yang hendak melahirkan pun, gue ngga merasakannya. Bahkan lagi, gue yang biasanya takut sama jarum suntik, pada saat itu harus berhadapan secara tiba-tiba dengan 3x suntikan. Infus, cek darah, dan cek alergi. Gue hanya takut sebentar dan pasrah. Mau gimana lagi. Hanya itu satu-satunya jalan. Hingga gue akhirnya benar-benar mengalami sendiri hal yang paling besar yang pernah terjadi di hidup gue, operasi sesar. Tanpa gue kelamaan mikir. Tanpa analisis yang detail. Memang sebelumnya gue pernah baca-baca tentang operasi sesar, tapi tidak pernah gue coba membayangkan yang jauh-jauh lagi. Selama prosesnya berlangsung, dengan keyakinan kalau dokternya sudah profesional dengan hal ini, gue pasrah dan berdoa. Hingga akhirnya gue berhasil melewatinya.

Atau agak mundur lagi ke waktu gue nikahan. Tidak ada bayangan sama sekali nanti di meja akad, di pelaminan rasanya akan kayak gimana. Deg-degan? Malu? Cuma kepikiran dikit aja, gue ngga mau mikirin lama-lama. Bahkan untuk kehidupan setelah menikah, sama sekali ngga ada bayangan akan bagaimana. Hingga (lagi), gue berhasil melewati hari besar itu, dan menjalani kehidupan setelahnya seperti biasa.

Ternyata, ngga terlalu buruk juga. Banyak hal terjadi nggak seperti apa yang dikhawatirkan.

Ya, gue merasakan hidup jadi sedikit lebih sederhana dengan menjalaninya apa adanya tanpa mengkhawatirkan banyak hal akan apa yang bakal terjadi ke depannya.

Sudah gue bilang, gue ingin benar-benar merasakan hari ini, saat ini, detik ini, tanpa mengkhawatirkan apapun. Live by now. Feel the present time.

Walaupun sampai saat ini, gue masih belajar pelan-pelan juga untuk ber-mindset seperti itu.

Time is ticking, right? Why wasting it with worries dan analisa-analisa yg pada akhirnya bisa menjadi sugesti yg buruk? Lalu setelah kejadian, bilang, ‘tuh kan, bener kata gue.’ dengan kecewa padahal diri sendiri yg sudah bersugesti?

No offense
Untuk beberapa hal memang kita butuh mempersiapkan dan memikirkan hingga detail-detailnya

Namun, untuk beberapa hal juga, sepertinya lebih mudah kalau dibawa santai saja

December 27, 2016

Getting Out Of Cave!

Oh my God!
Hellooooooo, people!
*exciting in maximum level

Oke, tadi itu berlebihan. Tapi gue emang seneng banget. Akhirnya bisa ngetik di sini lagi dengan mood yang 'nggenah'. You know what I mean.

Ini udah akhir tahun, ya? Udah akhir tahun!!! Cepet banget, and so much things happened. Ya, that much!

Sekarang, coba gue rewind...
Terakhir gue update blog adalah di bulan april, gue bercerita tentang throwback ke acara liburan bareng Jamet di Jogja. Postingan setelah ini juga bakalan banyak throwback-nya. Kayaknya memang agak sulit buat gue untuk rutin menulis blog. Kalau diingat-ingat, setelah itu masuk bulan puasa ya? Gue sangat sibuk mengurus pesanan kue kering lebaran deh, jadinya gue ngga sempet nulis apa-apa. Kemudian Lebaran, dan liburan. Di bulan Agustus, gue juga ada acara jalan-jalan ke Dieng, ikutan Dieng Culture Festival bareng Ika dan teman-temannya Ika. Gue bahkan belum menulis tentang itu, haha. Gue harap gue masih bisa mengingat-ngingat detailnya biar bisa gue ceritain di sini. Lalu, di sela-sela itu semua, ada hal yang besar yang sedang dipersiapkan...

Apaan tuh?

Hey, gue bahkan bingung mau mulai cerita yang mana dulu. Kadang gue sedih karena merasa kayaknya kini semakin sulit buat gue untuk memulai sebuah tulisan. Ah, semoga bukan tanda-tanda yang buruk. As long as I have a sense to write something, sepertinya gue akan terusin aja, walaupun mulainya agak susah. Belakangan, gue menyadari, dari semua terapi yang ada, menulis adalah salah satu terapi yang ampuh buat gue. I used to write down the diary. Apapun gue tulis. Mau ada cerita ataupun ngga ada, semua gue tulis. Gue bahkan pernah cuma nyoret-nyoret satu atau dua halaman di diary gue, nyoret-nyoret kayak benang kusut gitu, dan I feel better after it. Ya, I AM, tipikal orang yang susaaah banget cerita panjang-panjang secara langsung lewat mulut. It isn't really me. It's really hard for me to ngomong atau cerita panjang-panjang secara langsung. I am not a good directly story teller (?)

Oh ya, sebenarnya, sudah ada beberapa postingan yang masih tersimpan rapi di dalam draft. Namun sepertinya, as my mood swing, tulisannya masih kurang sreg, so gue akan menulis ulang semuanya. Membuat tulisan kadang memang tidak bisa dipaksa...

By the time I got an internet and a laptop or PC to surf, I'm getting out of cave!
Hmmm...
K, see ya!

March 29, 2016

Ironi

Kau...

Mengapa bersedih?
Setelah kau tulis semua kepasrahan itu, nasihat-nasihat yang kau kutip itu, cerita-cerita yang seolah-olah meyakinkan orang-orang yang membaca akan mengira kau adalah orang yang kuat, yang tegar?
Mengapa hatimu masih gundah?
Mengapa kau masih merasa gelisah?
Mengapa kau masih merasa iri?
Mengapa kau masih memilih untuk kecewa?
Mengapa...?

Kau tahu?
Kau belum cukup ikhlas menerima semuanya
Kau belum cukup ikhlas dengan jalan hidupmu yang sedang berputar ke arah yang tak kau suka

Kau yang menuliskan 'aku yakin segalanya akan jadi lebih baik'

Tapi mengapa kau masih terlihat ragu?

Kau tahu?
Kau belum cukup yakin dengan apa yang kau yakini..

Kau sungguh adalah sebuah ironi

March 08, 2016

February 25th

Jadi postingan ini adalah tentang hari ulang tahunku. Yang sudah lewat. Tanggal 25 Februari lalu. Sebenarnya, aku menulis ini hanya karena aku ingin menulis, bukan karena aku punya sesuatu untuk ditulis. Menurutku, itu hal yang berbeda. Kau mengerti, kan, maksudku? Yaa seperti itu.

Well, tepat di tanggal 25 Februari kemarin, aku disibukkan dengan orderan toko kue online-ku. Sebenarnya hanya tinggal finishing-nya saja, tapi tetap menjadi hal yang banyak memakan waktu. 150 pcs cupcake harus selesai malam itu juga, untuk diantar pagi-pagi sekali keesokan harinya. Itu rekor terbanyak untukku sejauh ini, dan aku tidak boleh melakukan kesalahan, dan aku sangat bersyukur untuk rekor itu, alhamdulillah. Kalau kau ingin tahu, sebenarnya, satu hari itu aku sangat bingung memikirkan, bagaimana kalau malam harinya teman-temanku datang (seperti yang biasa kami lakukan kalau diantara kami ada yang berulang tahun), sedangkan aku masih mengerjakan pekerjaanku? Apa yang harus aku suguhkan, sementara aku tidak punya waktu untuk itu? Lalu, kau tahu? Malam hari tiba, dan alhamdulillah pekerjaanku selesai dengan baik. Teman-temanku, tidak seperti dugaanku, mereka tidak datang. Hah... Syukurlah, sepertinya mereka memahami batinanku ini. Hahaha. Tapi bukan berarti aku senang mereka tidak datang. Ya, memang aku senang, sih, karena pekerjaanku selesai dengan baik. Tapi, malam sebelum tidur, aku merasa sepi sekali. Sungguh, aku merasa seperti nenek-nenek yang kesepian saja kalau sedang merasa seperti itu. Ooof! Hari berikutnya, dugaanku meleset lagi, karena ternyata teman-temanku tidak datang lagi. Aku merasa sedikit lega, karena uang yang kusiapkan untuk mentraktir mereka, aman. Hahaha.

Kukira sudah benar-benar aman. Ternyata, hari berikutnya lagi, pagi-pagi sekali (tapi tidak juga sih), mereka datang dan aku baru bangun. Tadinya aku mau langsung mandi, tapi aku ngga tega kalau harus bikin teman-temanku menunggu. Jadi, ya sudahlah, aku pasrah menemui mereka dengan keadaan belum mandi.


Duh, aku malu sekali, tapi foto ini sayang kalau tidak dipajang.

Ya begitulah. Kemudian, setelah semua berkumpul, kutinggal saja untuk mandi. Kali ini, aku tidak peduli kalau mereka harus menunggu lama. Hahahaha.



To be called as a chef, kadang aku merasa, o my God, it's too much for me. Karena, to be a chef, masih panjang perjalanan yang harus dilalui, masih banyak ilmu yang harus dipelajari. Aku, aku merasa belum pantas untuk itu. You know, bahkan aku masih belum masuk ke tahap junior. Kadang aku merasa bersalah juga bila tidak melanjutkan ataupun menekuninya dengan serius, karena, jadi chef itu keren. Really.

Entahlah, aku sering merasa takut saja.

And by the waaaay, berapa umurku??? Ah, tidak. Aku selalu merasa aku tidak bertambah tua. Hahaha.

Well, aku bersyukur atas kesempatan dan semua hal yang masih Allah berikan untukku. Sesungguhnya, setiap tahunnya, umurku bukanlah bertambah, melainkan berkurang. Banyak sekali doa dan harapan baik akan cita-cita yang dapat terwujud dan berkah, baik untuk saat ini maupun yang akan datang. Dunya wal akhirah.

Semoga semua yang dicita-citakan, yang dijalankan dengan niat baik, dapat terwujud dengan penuh keberkahan. Aamiin.

Big big THANKS ngga lupa, buat KADICHAREVWAY. Hahahaha. 
Teman-teman yang baik juga rezeki, bukan?
Alhamdulillah...

March 03, 2016

Hening...

Apa kabar mimpi-mimpimu?
Apa kau tinggal begitu saja?
Apa kabar angan-anganmu?

Apa kata hati kecilmu?
Mengapa tak kau ikuti saja?
Apa isi dari benakmu?

---
Those lines from Jakarta Ramai by Maudy Ayunda really are dilemmatic
:'(

February 29, 2016

February Ended So Fast

February ended so fast...

Why time flies so fast...?
I don't think I'm ready yet
What have I achieved?
I don't think I've achieved anything yet
Why time flies so fast...?
O, why time flies so fast...?
Is there anything, that can slow it down?
O, why time flies so fast...?

February 07, 2016

Kegagalan Adalah

Pernah menghadapi ketakutan yang dulu pernah kau hindari atau kau gagal menghadapinya dan kini malah menjadi kekuatanmu? Atau, ya, setidaknya, menjadi hal yang justru bisa kau lakukan dengan baik?

Langit yang mendung di bulan Februari ini tak jarang memikatku untuk berlama-lama memandanginya. Setiap kulihat langit, baik mendung ataupun cerah, aku merasa semua yang kucita-citakan rasanya dekat, membuatku semakin yakin. Memandang langit selalu menjadi pegukir senyum dan kenyamanan yang instan, buatku.

Beruang lucu di karpet kamarku mengalihkan pandanganku. Hey, beruang, apa kau ingin aku menceritakan sesuatu? Aku punya cerita darimu.

Flashback ke masa aku sekolah dulu. Hari itu aku ada mata pelajaran Seni Rupa. Ada pekerjaan rumah, membuat karya 3 dimensi menggunakan lilin plastisin. Malam sebelumnya, kukerjakan tugas tersebut dengan beberapa kali aku tidak puas dengan hasilnya. Awalnya kupikir mudah. Hingga aku lelah dan meninggalkannya. Aku berangkat sekolah siang, jadi aku kembali mengerjakannya lagi di pagi hari. Sudah hampir tiba waktu untuk berangkat, dan aku masih mengerjakan tugasku. Aku melihat gambar beruang dengan berbagai pose di karpet kamarku. Bentuknya yang sederhana membuatku ingin membentuk lilin plastisin menyerupai beruang tersebut. Seperti semalam, awalnya kupikir mudah, tapi sepertinya tanganku tidak dapat mencetak sesuai langkah yang tersusun di pikiranku. Berkali-kali kucoba tetap tidak bisa. Aku menangis dan memaki beruang yang bahkan tidak berbentuk 3 dimensi dan tidak hidup itu. Aku menangis terus sambil memanggil ibuku. Aku mengeluh tidak bisa dan sebentar lagi aku harus berangkat. Aku takut kalau terlambat. Mandiku lama, dan sekarang masih mengerjakan tugas. Akhirnya ibuku turun tangan. Akhirnya pula, ibuku yang membuatkan karya 3 dimensi/semi 3D. Akhirnya ibuku yang mengerjakan tugasku. Aku pun berangkat dengan senang hati membawa karyaku--ibuku yang sangat memuaskan. Sederhana, hanya bentuk bunga dengan daun-daunnya, tapi sangat cantik dan bagus untukku, dulu. Sesampainya di sekolah, semua anak dipanggil satu persatu untuk dinilai hasil karyanya. Aku sangat percaya diri sekali akan mendapat nilai bagus, ya setidaknya, 8 atau 95. Hingga tiba giliranku, dan aku mendapat nilai 75. Nilai yang tidak buruk, tapi aku merasa karyaku--ibuku pantas mendapat nilai lebih dari itu. Terlebih, sejak aku sampai sekolah tadi, banyak teman-temanku yang memuji karya 3D yang kubawa. Aku kecewa. Sebelum kembali ke tempat duduk, aku melihat wajah guruku. Aku tidak percaya, wajahnya tidak enak sekali dilihat. Raut wajahnya seperti mengetahui sesuatu. Tanpa bicara apa-apa lagi, beliau menyuruhku duduk. Sepertinya, guruku tahu karya yang kubawa bukan hasil tanganku. Terlalu mencolok dibandingkan hasil karya yang teman-temanku bawa pada waktu itu. Sejak itu, aku selalu mengerjakan semua tugasku sendiri.

Sangat lucu bila mengingat kejadian itu sekarang. Tanganku sudah tidak seburuk waktu itu. Bahkan pekerjaan yang kulakukan sekarang melibatkan pembuatan karya 3D/semi 3D. Ya, aku membuat kue dan kue mangkuk yang hiasannya bisa dibuat sesuai permintaan dengan berbagai macam bentuk menggunakan fondant. Alhamdulillah, kini aku tidak menangis-nangis lagi karena tanganku sudah tahu celahnya. Walaupun kadang masih suka panik dan mata sedikit berkaca-kaca kalau sedang dikejar deadline karena pesanan harus segera diambil. And by the way, kadang aku masih bisa stuck dan benar-benar tidak punya ide untuk melanjutkan kegiatan menghiasnya, dimana tanganku kaku dan tidak bisa bekerja sesuai langkah-langkah yang tersusun di pikiranku. Kalau sudah begitu, kutinggalkan dulu sebentar untuk makan atau minum, karena ternyata aku lapar. Lalu kulanjutkan setelahnya, hehehe. Kalau sudah benar-benar stuck, aku belajar untuk membiarkannya seperti yang aku bisa. Lagipula aku sudah berusaha semampuku, kan? Don't be so hard on yourself.

Well, what is your biggest fear and failure? Did it change into something you do well?

January 09, 2016

Welcome 2016?

Hi, 2016! Well, actually, 9 January 2016. Baru saja di postingan yang terakhir, aku bilang akan rutin memposting tulisan di blog.

Ya, jadi malam tahun baru dan memasuki akhir pekan tahun baru kemarin, aku benar-benar sibuk mengurus pesanan. Memang tidak banyak, tapi cukup menyita waktu. Aku jadi tidak bisa bermalam tahun baru bersama teman-temanku. Sedih. Tapi, kalau aku tidak menyelesaikan kue pesanan, habislah aku.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya kalau tidak bermalam tahun baru bersama KADICHAREVWAY, tidak terlalu masalah. Beberapa malam tahun baru terakhir kami selalu menghabiskan waktu bersama. Sudah biasa. Terkadang malah ingin tahu, bagaimana rasanya bermalam tahun baru di rumah. Menonton film-film layar lebar yang banyak ditayangkan di televisi, melihat berita tentang betapa ramainya orang-orang menyambut tahun baru, dan sebagainya. Ya, akhirnya aku merasakannya. Bermalam tahun baru di rumah dengan aktivitas yang kusebutkan di atas, ditambah makan malam dengan layanan pesan antar yang delivery man-nya harus beberapa kali memperingatkan kalau pesanan tidak bisa datang tepat waktu karena jalanan macet di mana-mana. Apa menurutmu malam tahun baru seperti itu menyedihkan? Tidak, menurutku. Well, aku memang sedih. Tapi bukan karena pesanan delivery yang datang terlambat atau pun karena bosan menonton televisi. Aku sedih, karena merasakan sepi tidak berkumpul dengan KADICHAREVWAY. Kalau mereka membaca ini, pasti mereka kepedean. Awalnya kukira biasa saja, tapi, walaupun sedikit, ternyata ada juga perasaan sedih dan perasaan ada yang kurang-nya.

Hhhh. Ya, aku sedih saja, kita tidak pernah tahu kan, apakah di malam tahun baru berikutnya masih bisa bersama atau tidak? Mungkin bisa, tapi pasti sulit.

Sudahlah...

Well, selama seminggu ini, alhamdulillah, aku disibukkan dengan pesanan kue ku. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk sebuah niat yang baik. Akan ada banyak rintangan di depan, tapi salah kalau aku terlalu khawatir dan memikirkannya. Pikiran seperti, 'duh, takutnya nanti seperti ini, takutnya nanti seperti itu', dan sebagainya. Aku pernah mendengar nasihat seseorang, beliau bilang, "untuk apa khawatir? Untuk apa bilang nanti takutnya begini, nanti takutnya begitu? Bukankah itu namanya berburuk sangka terhadap takdir Allah?" Aku terdiam, tidak dapat berkata apa-apa. Iya, benar, ternyata tanpa kusadari, aku pernah, bahkan sering berburuk sangka terhadap apa yang akan terjadi di kemudian hari. Astaghfirullah. Padahal, semua yang akan terjadi nanti adalah rahasia Allah. Mungkin kita bisa memperkirakan langkah apa yang seharusnya kita ambil untuk meminimalisir kegagalan atau kesalahan atau hal negatif lainnya, tapi dengan diiringi doa dan prasangka baik terhadap hal tersebut. Mendengar nasihat itu, aku semakin yakin, bahwa doa dan pikiran positif akan apa yang terjadi di depan adalah kekuatan yang tidak ada bandingannya. Bismillah all the way...

December 29, 2015

Combing Back Through: 2015 Lessons

Sebenarnya, 2015 banyak memberiku pelajaran. Tentu saja. Terutama dari pemikiran dan renungan-renunganku.

  1. Terlalu lengah membuatmu kalah.
  2. Nikmati saja hari ini, saat ini.
  3. Menangis tidak selalu tidak ada gunanya. Terlebih saat kau tahu mimpi-mimpimu terwujud di teman-temanmu yang bahkan tidak memimpikan itu. (Kemudian menangis lagi).
  4. Usahakan memberi kabar sedikitpun. Misalnya saat temanmu bertanya tentang kehadiranmu di grup obrolan. Kabarilah walaupun kau tidak bisa datang atau sudah pasti datang. Sesungguhnya mereka hanya butuh kejelasan.
  5. Don't envy someone on a blessing, because you don't know what God took from him.
  6. Menuruti semua keinginanmu kadang tidak terlalu baik. Mungkin dengan mengaturnya sedikit, bisa jadi lebih baik.
  7. Sungguh tidak ada yang sempurna di dunia ini. Saat temanmu mengeluh lelah setiap hari bekerja, kau masih punya waktu untuk melakukan hal yang kau suka.
  8. Memang kita tidak bisa begitu saja menghakimi orang lain. Kita tidak tahu apa saja hal yang telah ia lalui dan korbankan, bukan?
  9. Menata hati lebih bijak lagi.
  10. Uang benar-benar sulit dicari. Penghargaan terhadap uang yang didapat harus lebih ditingkatkan lagi, tapi jangan terlalu dijadikan orientasi.
  11. Environment does make you. You just control it. Berkumpul dengan orang-orang yang tidak baik, sedikit banyak membuatmu jadi tidak baik juga, walaupun kau sebenarnya baik (kalau bisa, kau yang mengubah teman-temanmu untuk jadi lebih baik). Berkumpul dengan orang-orang baik, akan menjadikanmu baik juga. Mind set! Lingkungan dan pergaulan bahkan bisa mengubah cara berpikirmu.
  12. Ibuku selalu mengingatkanku, kalau takdir yang diberikan oleh Allah ke setiap orang itu berbeda. Ada yang memang rezekinya menikah dulu walau pekerjaan belum hebat karena memang jodohnya sudah Allah datangkan, ada yang punya pekerjaan dulu baru menikah karena ternyata jodohnya baru ada saat sudah bekerja, ada yang rezekinya memang harus sekolah tinggi dulu baru menikah, dan sebagainya. Ikuti saja arah yang sudah diberi walaupun awalnya tidak seperti yang kau inginkan. Menyangkalnya hanya membuatmu merasa buruk dan melelahkan serta menjauhkan rezeki baik yang harusnya kau dapatkan waktu itu. Ingat selalu, janji Allah selalu benar.
  13. Lakukan apa yang harus kau lakukan dalam hal kebaikan.
  14. Banyak bersyukur dan sabar. God is Great, remember?

Sepertinya cukup. Entahlah. Terkadang aku merasa banyak hal yang kulalui di 2015 ini, tapi setelah kurangkum, tidak sebanyak yang kukira. Baiklah, semoga tahun berikutnya jadi lebih baik. Bukan hanya aku, tapi juga kau dan bumi ini. Ya, bumi ini. See you on 2016.

December 07, 2015

A Note (A Random Note, Really) Part 3

Mengetahui teman-teman memiliki pekerjaan dengan pendapatan tetap--ditambah kadang liburan gratis memang sedikit menimbulkan rasa iri. Aku pernah menghindari mereka untuk menata hatiku. Tapi, aku tahu, Allah Maha Adil. Don't envy someone on a blessing, because you don't know what God took from him. Aku terdiam lalu tersenyum. Sungguh Allah Maha Adil. Aku hanya perlu sedikit bersabar menunggu giliranku untuk bahagia. Ibuku selalu bilang, rezeki setiap orang tidak akan tertukar. Lagipula, banyak kebahagiaan yang kulalui selama ini. Kalau aku masih tidak bersyukur hanya karena satu hal, manusia macam apa aku? Banyak hal yang telah teman-temanku alami, mengingat itu, aku semakin yakin kalau Allah Maha Adil. Terlebih saat aku menyadari bahwa aku kan tidak tahu bagaimana perjuangan mereka dalam menghadapinya. Perjuangan mereka pasti terbayar, kan? Ya, perjuangan mereka terbayar. Walaupun agak iri, tapi rasa sayangku pada mereka lebih besar dari itu.

Kini giliranku, perlahan tapi pasti. Walaupun belum terlalu kelihatan seperti teman-temanku, tapi aku berusaha menjalaninya. Aku juga manusia. Kuakui aku pernah marah pada keadaan. Tapi saat aku sadar aku terlalu berlebihan, aku tenang kembali. Aku tidak boleh melupakan blessings yang aku dapatkan hanya karena aku tidak mendapatkan satu hal yang aku inginkan. Semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak. Aku memohon ampun akan hal itu, lalu aku tata lagi jalanku.

December 06, 2015

A Note (A Random Note, Really) Part 2

Hanya sekedar memberitahu. Ini kusalin dari notes di ponselku yang sudah kutulis seminggu lalu.

Lanjutan dari postingan sebelumnya...

Aku sadar aku sudah banyak berubah. Anehnya, aku tidak suka dengan perubahan yang dulu pernah aku inginkan ini. Kulihat selembar foto dengan sosok gadis kecil sedang bersandar di belakang mobil ayahnya yang terparkir di tepi jalan. Rasanya aku ingin sekali datang ke waktu foto itu diambil dan menasihati gadis tersebut dengan apa saja yang harusnya dia ambil nanti agar tidak salah jalan, agar tidak bingung. Agar tidak seperti dia yang sekarang ini. Aku pernah menangisi hal itu. Tapi aku tahu, kita semua tahu, itu adalah hal yang klise, hal yang mustahil dilakukan. Walau begitu, bukan berarti menangisinya adalah hal yang tidak ada gunanya. Aku percaya menangis ada gunanya, bahkan untuk hal yang bodoh sekalipun. Menangis membuatku lega, walau aku tahu, menangis tidak mengubah hal yang telah terjadi, tapi, setelah menangis aku tahu aku bisa melakukan perbaikan agar hal tersebut tidak terulang lagi. Atau setidaknya, energi baru timbul setelah menangis. Energi untuk melangkah maju.

December 05, 2015

A Note (A Random Note, Really)

Apa namanya yang dalam suatu waktu dapat mengalami perubahan yang tidak hanya sekali?

Jika menghabiskan waktu di rumah disebut sebagai pengangguran, aku sangat menikmati waktu-waktu menganggurku. Hey, jangan salah paham, bukan maksudku menyenangkan diri sendiri dengan bilang begitu. Memang sebaiknya aku tidak menganggur, kan? Oke, apa yang akan kubahas kali ini? Yaitu tentang apa yang kupelajari selama satu tahun ini. Kalau agak melenceng, setidaknya aku berusaha sesuai dengan topik yang akan kutulis.

Tahun ini merupakan tahunku bebas dari segala hal yang berkaitan dengan kewajiban untuk sekolah. Maksudku, rutinitas seperti bangun pagi, mandi, cepat-cepat berangkat ke kampus/sekolah--saat masih sekolah dan belajar hingga sore lalu pulang, mandi, makan, dan tidur. Berulang seperti itu di tiap harinya. Aku masih ingat, ingat sekali, pada saat aku menjalani itu semua--terutama saat aku rasanya malas sekali bangun pagi untuk siap-siap berangkat sekolah atau ke kampus, aku selalu bertanya-tanya bagaimana rasanya tidak punya kewajiban seperti itu dan hanya menikmati waktu bebas? Aku merasakannya sekarang. Sangat menyenangkan. Sungguh sangat menyenangkan memiliki banyak waktu luang. Aku bisa melakukan apa yang kusuka. Aku bisa menulis atau membaca di tengah malam tanpa khawatir besok akan terlambat ke sekolah atau ke kampus, aku bisa tidur dini hari, aku bisa membuat kerajinan tangan dengan bebas, aku bisa jalan-jalan ke tempat rekreasi tanpa takut mengantri dan ramai, aku bisa melakukan semua hal yang tidak bisa kulakukan saat aku masih sekolah atau kuliah. Kau tahu? Itu sangat menyenangkan.

Setelah wisuda, aku pergi ke luar kota untuk liburan bersama teman-teman sekelasku di kampus. Aku bahkan pergi ke kampung halamanku sebulan setelahnya. Selain itu, aku menikmati waktu luangku di rumah.

Memiliki banyak waktu luang membuatku banyak berpikir. Terdengar keren, bukan, 'banyak berpikir'? Tidak usah salah paham. Karena waktu luang yang terlalu banyak, maka jadi banyak hal yang kupikirkan. Dari yang baik sampai yang buruk. Aku pernah merasa amat sangat terpuruk karena pikiranku sendiri. Pikiran negatif tentunya. Aku pernah berada dalam keadaan dimana aku tidak bisa mengontrol pikiranku. Aku berjalan dengan limbung. Aku merasa semua yang ada di hadapanku samar. Aku tidak bisa melihat dengan jelas mana yang hitam dan mana yang putih. Kadang hitam terlihat putih, putih terlihat hitam. Entahlah. Perkataanku terhadap orang lain bahkan menyakitkan. Aku tidak mengenal diriku sendiri lagi. Aku lebih terpuruk lagi saat menyadari apa yang kulakukan setiap berlaku buruk. Tapi, syukurlah aku bisa melewatinya. Aku tidak tahu, semua berlalu seiring berjalannya waktu. Di saat aku berbuat negatif, ada sesuatu yang membisikkanku. Bisikan masa lalu. Masa aku yang dulu, aku yang bisa mengontrol diriku dan semuanya dengan baik dan tepat. Ya, aku sadar, aku sudah terlalu mengikuti keinginanku. Aku pernah baca di sebuah novel. Di situ tertulis, jika kau terlalu mengikuti keinginanmu kau tidak akan bisa dewasa, kau akan semakin seperti bayi. Kadang, memang batas itu sangat diperlukan untuk mengembalikan kita ke jalan yang benar lagi.