Showing posts with label random. Show all posts
Showing posts with label random. Show all posts

August 02, 2019

Dilema Ibuk

Tahun 2019 sudah berjalan setengahnya. Sejak punya anak, entah kenapa hidup gue terasa cepat banget berputarnya. Waktu terasa cepat berlalu tapi gue tidak merasa live in it. Gue menjalani waktu gue, membiarkannya berputar, tanpa bisa merasakan seutuhnya setiap moment di dalamnya. Contoh sederhananya gue rasakan ketika hari-hari besar, Idul Fitri, Ramadhan, Tahun Baru, entah kenapa sulit untuk bisa gue rasakan esensinya. Kenapa ya?

Akhir-akhir ini pula, gue mulai kepikiran lagi untuk akan-melakukan-apa-agar-gue-tidak-diam-saja-dan-tetap-menghasilkan. Sedikit banyak, gue rindu melakukan uji coba resep, merancang konsep, gue rindu baca buku dengan tenang, rindu ketika gue terinspirasi dan dari inspirasi-inspirasi itu gue bisa membuat sesuatu, entahlah, sebuah karya, mungkin?

Tapi gue juga merasa, berpikir untuk diri sendiri seperti itu untuk sekarang ini, kok, seperinya kurang wise, mengingat gue punya tanggung jawab yang harus banget difokuskan...

Sebenarnya, dari situ sudah jelas banget sih, mana yang harus menjadi prioritas hidup gue untuk saat ini. Tapi melihat sekeliling gue yang sudah mulai 'hidup' lagi, mulai baking lagi, mulai berkreasi lagi, gue jadi ter-trigger lagi untuk, wey gue juga bisa kayak gitu, or even better, maybe. Hal-hal yang bikin gue trigger itu ends up bikin gue ter-distract. Hilang fokus. Ujung-ujungnya membanding-bandingkan, mengeluh, dan jadinya tidak ada satupun yang dikerjakan dengan baik.

Maybe they're toxic. No, they're not, actually. Even toxic sounds so harsh for them yang bahkan ngga melakukan hal yang merugikan gue. But, when I feel distracted, I think it is me yang harus sejenak memberi jarak. Set up my mind. Focus on the most matter and important things.

It's not like I'm not trying. Look, I've been trying. Tapi ujung-ujungnya, yang tumbang adalah gue sendiri. So, YEAH!

I don't go directly with...
It's okay, cha
or
Sabar aja lah
or
Tenang aja, cha

Sebelum itu, gue pasti memaki-maki diri sendiri dulu, galau-galau dulu, nangis-nangis dulu. Karena gue ngga bisa deny kalau gue sedih dan malu dan merasa ketinggalan dan sebagainya dan sebagainya. I took my times for pity-ing myself, then, okay, it's okay. Now close your eyes, heart, and mind from all the things that distracted your focus, then start again.

Life is simpler now, for me, by being focus and be happy with what I have now.

Menurut gue, bukan menyerah namanya untuk sejenak berhenti melakukan apa yang diinginkan. Gue menentukan prioritas. Pun semoga ini bukan pembenaran semata. Dan gue juga selalu berdoa untuk bisa mengikhlaskan semua yang saat ini belum bisa gue lakukan demi agar gue bisa menjadi ibu yang baik dan ngga lalai sama anak dan suami.

Lalu gue memutuskan untuk berhenti sejenak dari instagram...
Lalu gue memutuskan untuk mengatur bermain sosial media jadi seminggu sekali, hanya tiap weekend. Since then, my days feel lighter and lighter...

July 19, 2018

Life Sucks (?)


Akhir-akhir ini gue…

Tunggu, bukan akhir-akhir ini, tapi beberapa tahun terakhir ini, gue merasakan roda kehidupan gue sedang berputar ke bawah. Ya, setidaknya begitulah yang gue rasakan. Dimana semua keadaan gue dulu bisa dibilang baik, seketika semuanya terbalik. Jungkir balik, tapi syukurlah, belum nyungsep.

Gue merasa gamang. Bisa dibilang tidak bisa fokus dan hilang arah. Gue yang dulu yakin bisa melakukan sesuatu dan berhasil, sekarang, seberapa keras pun gue coba, gue selalu terjatuh. You know, kayak waktu Spiderman (yang diperanin Tobey Maguire) ngga yakin sama dirinya sendiri, sampe ngga bisa ngeluarin jaring dan lompat tinggi lagi, meskipun sudah dicoba berkali-kali tetap jatuh, tetap nggak keluar jaringnya. Iya, kayak gitu. Gue ngga tau siapa diri gue. Gue kehilangan faith, kehilangan kekuatan, kehilangan kepercaya-dirian, kehilangan pegangan, walaupun gue terus keep on trying, doing, and having faith. Sementara di luar sana, teman-teman gue sudah menjadi seseorang, punya pegangan, berada jauh di depan. Gue merasa gue sangat menyedihkan.

Akan seperti apa masa depan gue?

Apa yang harus gue lakukan?

Hidup sangat menyebalkan…

Gue, yang selama ini hidupnya lurus-lurus aja, gamang menghadapi fase yang seperti ini. I never think I can be this lame. After all this time, ternyata gue belum bisa apa-apa, ngga ada apa-apanya, sangat lemah.

But to blame anyone or anything…? Sangat tidak bijak, kan?
Belum, gue belum menemukan titik balik dari kehidupan gue. Akan sampai mana diri gue ini? Apa tujuan gue hidup di dunia ini? Gue belum menemukan itu.

Life sucks?

Begini…

Kalau kau merasa hidup ini mengecewakanmu, mungkin bukan kehidupannya yang salah. Mungkin caramu yang payah dalam membuat keputusan? Sehingga kau harus menjalani kehidupan yang seperti sekarang sedang kau jalani ini…

Because, there’s no one or thing deserves to be blamed

But, still life is a choice. You make a decision and you should not regret it whatever the return is. In life, there’s a learning in everything. Everything you do has been written, though. Don’t point your finger, stand tall. You have been won this life since birth.

Yaaaa, kalimat-kalimat di atas memang gue yang bikin dari waktu yang gue habiskan untuk merenung di sela-sela aktivitas gue. Tapi, tetap saja, kadang gue merasa kehilangan semangat kalau ingat-ingat hal yang menyedihkan dan betapa bodoh dan naifnya gue dalam memutuskan sesuatu.

Sounds ungrateful, right?

No worry, walaupun gue sering merasa sedih karena udah ketinggalan jauh banget kayanya dari yang lain, deep inside of my heart, gue amat sangat bersyukur dengan semua yang gue dapatkan di hidup gue.

Keluarga yang sayang banget sama gue

Hubby yang baiiiiiiik banget sama gue, sabar sama omelan-omelan gue, sabar sama ke-nggakjelas-an gue, yang nerima-an banget orangnya.

Saudara-saudara yang baik sama gue

Teman-teman yang baik sama gue

What else for me to not be grateful enough? Lagipula, mungkin ini saatnya buat gue untuk nggak melulu lihat ke atas. Sesekali harus lihat ke bawah. Dengerin omongan orang nggak akan ada habisnya. Harus bisa fokus sama apa yang bisa gue lakukan, dan lakukan itu dengan maksimal. Bukankah harusnya begitu? Gue nggak mau stuck begini-begini aja. Bagaimana dengan mimpi-mimpi tinggi yang gue buat? Gue harus berani.

P.S. Ini adalah catatan dari 13 Juli 2017, dan sepertinya, postingan sebelumnya adalah jawabannya.

March 21, 2018

A Strike From The Past: The Man Who Brave Enough

I had a dream last night. There was this guy that I once adored when in the middle school. I passed by his home, then his wife called me to come in. He saw me, and told his wife, ‘you don’t need to do this’.

What is wrong here?

After that, she asked my name are you Larissa, then she showed me a photograph. It was me and a couple of friends in it. Fast forward, I saw a lot of picture of me in her laptop and I realized that she had been stalking me for quite some time. Then, my friend—the guy I mentioned—told that why didn’t we—me and him—start any talk back later that time?

So maybe, his wife has a feeling that her husband ever has a crush on me and never be brave enough to say it to me. She didn’t want to accept it even after this time they got married and have a kid, because it just distracted her mind, then she stalked me.

Can’t deny that I feel a bit happy to know that he—the guy—liked me too, actually

But then


I said to him and her

To be honest, I once adored you back then. I can’t talk because I was not the type of girl who do the first talk to a guy—especially I liked. But, look at now... you got married, I got too. You just had a kid, a handsome one. Soon, I will have it one too. So just, let it go of the past. Everything has changed. We are moved on.

Then I awake

Look at my husband’s face, asleep

And... I know
I see the man who brave enough to talk to me
The man who brave enough to ask my daddy
The man who brave enough to bring her family to meet mine
The man who brave enough to make a commitment
The man who brave enough to marry me
The man who brave enough to take responsible on me—taking over my daddy’s—which is not an easy thing
The man who brave enough to work hard to fulfill my needs, our little family needs
The man who brave enough to accept me just the way I am

Even though I know that he’s only human in the end—we are only human—an amateur in life, he’s brave enough to do it all, to take risks
With all of his limits and weaknesses

How can I do such thing called cheating or even thinking about my crushes from the past because at the end, they were not brave enough?

Nah, not like that,
I think, they supposed to be brave enough
Only, it was just...
It’s just actually as simple as...
I and all my crushes just weren’t meant to be

Even I try to think about 'did I make a wrong/right decision back then?'
Nah, nothing to lose, though

But hey, by the way,
Kenapa gue sering dapet mimpi dari orang-orang di masa lalu dan bikin gue baper bangun-bangunnya ya??

It’s annoying somehow

August 25, 2017

A Strike From The Past: The Undone Story

Gue dan beberapa orang teman hendak pergi ke sebuah teater kesenian. Kami sangat bersemangat karena ini adalah teater teatrikal Harry Potter. Cara kami masuk ke gedung teater tempat acara berlangsung pun sangat unik dan tidak lazim. Kami masuk melalui celah anak tangga sehingga kami harus agak guling-gulingan. Ajaibnya, setelah melewati itu, gue sudah ada di bagian belakang tempat duduk penonton. Sepertinya acara sudah dimulai, karena ruangan sudah mulai temaram, penonton sudah terlihat memenuhi tempat duduk, dan beberapa atraksi tampaknya sudah dimulai. Gue mengikuti salah satu teman gue karena dia mengajak gue untuk duduk di dekatnya. "Sini, Cha, sini. Biar keliatan." Ajaknya. Di ruangan yg bangku penontonnya berbentuk setengah lingkaran menghadap panggung tersebut, gue berada di sisi depan sebelah kiri. Gue dapat melihat pertunjukan dengan amat jelas. Gue pun mulai menikmati pertunjukan yang disuguhkan. Entah kenapa gue merasa ini bukan pertunjukan teater Harry Potter. Tiba-tiba seorang aktris datang ke arah gue dan duduk di samping gue sambil terus berakting dengan dialog-dialognya. Sepertinya ada lakon dimana dia berinteraksi dengan penonton. Semakin gue perhatikan dengan seksama dialognya, sepertinya gue semakin mengerti ini tentang apa dan siapa. Si aktris terus berbicara dan menatap gue dengan angkuhnya. Gue menatap dia dengan telapak tangan menopang dagu dan tatapan "oh ya?" "Seriously?" "Like I care?" ke dia. Detik berikutnya, dia menyentuh tangan gue dan bilang, "tidak perlu angkuh seperti itu." Kemudian pipi gue direngkuhnya dengan satu tangan dan memutar kepala gue ke arah penonton sembari berkata, "INILAH GAMBARAN WAJAH DARI MASA LALU ITU!" keras-keras. Gue hanya bisa tersenyum seolah ini toh hanya bagian dari teater. Semua penonton bertepuk tangan. Penontonnya. Semua penontonnya terlihat familiar buat gue. Apa ini? Teman-teman sekolah gue?

Sang aktris kembali ke atas panggung. Samar-samar gue melihat bayangan seseorang duduk di sebuah kursi di belakang tirai panggung. Gue mengenali dia. Sorot mata khas dari balik kacamata itu. Seseorang dari masa lalu. Sedetik kemudian matanya menuju ke arah gue. Kami saling melihat. Hanya sedetik, kemudian dia berpaling kembali, tanpa raut yang bisa gue simpulkan maknanya. Tak bisa gue pungkiri gue kaget. Teater ini? Apa maksudnya? Teater ini dia bikin untuk balas dendam tentang sesuatu di masa lalu antara gue dan dia? Memangnya belum selesai? Siapa dia sekarang? Terlalu banyak pertanyaan di kepala gue. Tepuk tangan penonton menjadi suara latar belakang yang menyenangkan sekaligus mengerikan.

Lalu gue terbangun.

Sudah pukul 06.22

Mimpi macam apa itu?
Kenapa tiba-tiba datang?
Mengapa terasa begitu nyata?
Apa maksudnya?

Meh, syukurlah itu cuma mimpi

February 14, 2017

Lack of Inspiration








INSPIRASI, DATANGLAH!!!






March 29, 2016

Ironi

Kau...

Mengapa bersedih?
Setelah kau tulis semua kepasrahan itu, nasihat-nasihat yang kau kutip itu, cerita-cerita yang seolah-olah meyakinkan orang-orang yang membaca akan mengira kau adalah orang yang kuat, yang tegar?
Mengapa hatimu masih gundah?
Mengapa kau masih merasa gelisah?
Mengapa kau masih merasa iri?
Mengapa kau masih memilih untuk kecewa?
Mengapa...?

Kau tahu?
Kau belum cukup ikhlas menerima semuanya
Kau belum cukup ikhlas dengan jalan hidupmu yang sedang berputar ke arah yang tak kau suka

Kau yang menuliskan 'aku yakin segalanya akan jadi lebih baik'

Tapi mengapa kau masih terlihat ragu?

Kau tahu?
Kau belum cukup yakin dengan apa yang kau yakini..

Kau sungguh adalah sebuah ironi

March 08, 2016

February 25th

Jadi postingan ini adalah tentang hari ulang tahunku. Yang sudah lewat. Tanggal 25 Februari lalu. Sebenarnya, aku menulis ini hanya karena aku ingin menulis, bukan karena aku punya sesuatu untuk ditulis. Menurutku, itu hal yang berbeda. Kau mengerti, kan, maksudku? Yaa seperti itu.

Well, tepat di tanggal 25 Februari kemarin, aku disibukkan dengan orderan toko kue online-ku. Sebenarnya hanya tinggal finishing-nya saja, tapi tetap menjadi hal yang banyak memakan waktu. 150 pcs cupcake harus selesai malam itu juga, untuk diantar pagi-pagi sekali keesokan harinya. Itu rekor terbanyak untukku sejauh ini, dan aku tidak boleh melakukan kesalahan, dan aku sangat bersyukur untuk rekor itu, alhamdulillah. Kalau kau ingin tahu, sebenarnya, satu hari itu aku sangat bingung memikirkan, bagaimana kalau malam harinya teman-temanku datang (seperti yang biasa kami lakukan kalau diantara kami ada yang berulang tahun), sedangkan aku masih mengerjakan pekerjaanku? Apa yang harus aku suguhkan, sementara aku tidak punya waktu untuk itu? Lalu, kau tahu? Malam hari tiba, dan alhamdulillah pekerjaanku selesai dengan baik. Teman-temanku, tidak seperti dugaanku, mereka tidak datang. Hah... Syukurlah, sepertinya mereka memahami batinanku ini. Hahaha. Tapi bukan berarti aku senang mereka tidak datang. Ya, memang aku senang, sih, karena pekerjaanku selesai dengan baik. Tapi, malam sebelum tidur, aku merasa sepi sekali. Sungguh, aku merasa seperti nenek-nenek yang kesepian saja kalau sedang merasa seperti itu. Ooof! Hari berikutnya, dugaanku meleset lagi, karena ternyata teman-temanku tidak datang lagi. Aku merasa sedikit lega, karena uang yang kusiapkan untuk mentraktir mereka, aman. Hahaha.

Kukira sudah benar-benar aman. Ternyata, hari berikutnya lagi, pagi-pagi sekali (tapi tidak juga sih), mereka datang dan aku baru bangun. Tadinya aku mau langsung mandi, tapi aku ngga tega kalau harus bikin teman-temanku menunggu. Jadi, ya sudahlah, aku pasrah menemui mereka dengan keadaan belum mandi.


Duh, aku malu sekali, tapi foto ini sayang kalau tidak dipajang.

Ya begitulah. Kemudian, setelah semua berkumpul, kutinggal saja untuk mandi. Kali ini, aku tidak peduli kalau mereka harus menunggu lama. Hahahaha.



To be called as a chef, kadang aku merasa, o my God, it's too much for me. Karena, to be a chef, masih panjang perjalanan yang harus dilalui, masih banyak ilmu yang harus dipelajari. Aku, aku merasa belum pantas untuk itu. You know, bahkan aku masih belum masuk ke tahap junior. Kadang aku merasa bersalah juga bila tidak melanjutkan ataupun menekuninya dengan serius, karena, jadi chef itu keren. Really.

Entahlah, aku sering merasa takut saja.

And by the waaaay, berapa umurku??? Ah, tidak. Aku selalu merasa aku tidak bertambah tua. Hahaha.

Well, aku bersyukur atas kesempatan dan semua hal yang masih Allah berikan untukku. Sesungguhnya, setiap tahunnya, umurku bukanlah bertambah, melainkan berkurang. Banyak sekali doa dan harapan baik akan cita-cita yang dapat terwujud dan berkah, baik untuk saat ini maupun yang akan datang. Dunya wal akhirah.

Semoga semua yang dicita-citakan, yang dijalankan dengan niat baik, dapat terwujud dengan penuh keberkahan. Aamiin.

Big big THANKS ngga lupa, buat KADICHAREVWAY. Hahahaha. 
Teman-teman yang baik juga rezeki, bukan?
Alhamdulillah...

March 03, 2016

Hening...

Apa kabar mimpi-mimpimu?
Apa kau tinggal begitu saja?
Apa kabar angan-anganmu?

Apa kata hati kecilmu?
Mengapa tak kau ikuti saja?
Apa isi dari benakmu?

---
Those lines from Jakarta Ramai by Maudy Ayunda really are dilemmatic
:'(

February 29, 2016

February Ended So Fast

February ended so fast...

Why time flies so fast...?
I don't think I'm ready yet
What have I achieved?
I don't think I've achieved anything yet
Why time flies so fast...?
O, why time flies so fast...?
Is there anything, that can slow it down?
O, why time flies so fast...?

February 07, 2016

Kegagalan Adalah

Pernah menghadapi ketakutan yang dulu pernah kau hindari atau kau gagal menghadapinya dan kini malah menjadi kekuatanmu? Atau, ya, setidaknya, menjadi hal yang justru bisa kau lakukan dengan baik?

Langit yang mendung di bulan Februari ini tak jarang memikatku untuk berlama-lama memandanginya. Setiap kulihat langit, baik mendung ataupun cerah, aku merasa semua yang kucita-citakan rasanya dekat, membuatku semakin yakin. Memandang langit selalu menjadi pegukir senyum dan kenyamanan yang instan, buatku.

Beruang lucu di karpet kamarku mengalihkan pandanganku. Hey, beruang, apa kau ingin aku menceritakan sesuatu? Aku punya cerita darimu.

Flashback ke masa aku sekolah dulu. Hari itu aku ada mata pelajaran Seni Rupa. Ada pekerjaan rumah, membuat karya 3 dimensi menggunakan lilin plastisin. Malam sebelumnya, kukerjakan tugas tersebut dengan beberapa kali aku tidak puas dengan hasilnya. Awalnya kupikir mudah. Hingga aku lelah dan meninggalkannya. Aku berangkat sekolah siang, jadi aku kembali mengerjakannya lagi di pagi hari. Sudah hampir tiba waktu untuk berangkat, dan aku masih mengerjakan tugasku. Aku melihat gambar beruang dengan berbagai pose di karpet kamarku. Bentuknya yang sederhana membuatku ingin membentuk lilin plastisin menyerupai beruang tersebut. Seperti semalam, awalnya kupikir mudah, tapi sepertinya tanganku tidak dapat mencetak sesuai langkah yang tersusun di pikiranku. Berkali-kali kucoba tetap tidak bisa. Aku menangis dan memaki beruang yang bahkan tidak berbentuk 3 dimensi dan tidak hidup itu. Aku menangis terus sambil memanggil ibuku. Aku mengeluh tidak bisa dan sebentar lagi aku harus berangkat. Aku takut kalau terlambat. Mandiku lama, dan sekarang masih mengerjakan tugas. Akhirnya ibuku turun tangan. Akhirnya pula, ibuku yang membuatkan karya 3 dimensi/semi 3D. Akhirnya ibuku yang mengerjakan tugasku. Aku pun berangkat dengan senang hati membawa karyaku--ibuku yang sangat memuaskan. Sederhana, hanya bentuk bunga dengan daun-daunnya, tapi sangat cantik dan bagus untukku, dulu. Sesampainya di sekolah, semua anak dipanggil satu persatu untuk dinilai hasil karyanya. Aku sangat percaya diri sekali akan mendapat nilai bagus, ya setidaknya, 8 atau 95. Hingga tiba giliranku, dan aku mendapat nilai 75. Nilai yang tidak buruk, tapi aku merasa karyaku--ibuku pantas mendapat nilai lebih dari itu. Terlebih, sejak aku sampai sekolah tadi, banyak teman-temanku yang memuji karya 3D yang kubawa. Aku kecewa. Sebelum kembali ke tempat duduk, aku melihat wajah guruku. Aku tidak percaya, wajahnya tidak enak sekali dilihat. Raut wajahnya seperti mengetahui sesuatu. Tanpa bicara apa-apa lagi, beliau menyuruhku duduk. Sepertinya, guruku tahu karya yang kubawa bukan hasil tanganku. Terlalu mencolok dibandingkan hasil karya yang teman-temanku bawa pada waktu itu. Sejak itu, aku selalu mengerjakan semua tugasku sendiri.

Sangat lucu bila mengingat kejadian itu sekarang. Tanganku sudah tidak seburuk waktu itu. Bahkan pekerjaan yang kulakukan sekarang melibatkan pembuatan karya 3D/semi 3D. Ya, aku membuat kue dan kue mangkuk yang hiasannya bisa dibuat sesuai permintaan dengan berbagai macam bentuk menggunakan fondant. Alhamdulillah, kini aku tidak menangis-nangis lagi karena tanganku sudah tahu celahnya. Walaupun kadang masih suka panik dan mata sedikit berkaca-kaca kalau sedang dikejar deadline karena pesanan harus segera diambil. And by the way, kadang aku masih bisa stuck dan benar-benar tidak punya ide untuk melanjutkan kegiatan menghiasnya, dimana tanganku kaku dan tidak bisa bekerja sesuai langkah-langkah yang tersusun di pikiranku. Kalau sudah begitu, kutinggalkan dulu sebentar untuk makan atau minum, karena ternyata aku lapar. Lalu kulanjutkan setelahnya, hehehe. Kalau sudah benar-benar stuck, aku belajar untuk membiarkannya seperti yang aku bisa. Lagipula aku sudah berusaha semampuku, kan? Don't be so hard on yourself.

Well, what is your biggest fear and failure? Did it change into something you do well?

January 25, 2016

Bicara 'Wallflower'

Hmm hmm, seems like I do have nothing to write. What do you want me to write?

Wait...
Berbicara tentang wallflower, aku sempat berpikir untuk mengganti header blog-ku.

You are a wallflower
You see things
You keep quite about them
and you understand

Line di atas memiliki banyak pengertian tergantung dari bagaimana seseorang mengartikannya. Tidak seindah yang terpikirkan, tapi juga tidak seburuk yang dilogikakan. We know that, kalau kita melihat sesuatu yang buruk, tentu saja kita tidak boleh diam, bukan? Tapi, wallflower bukanlah dalam konteks itu. Setidaknya, bukan begitu pandanganku tentang wallflower.

Mengetahui kejanggalan dari tingkah atau perkataan seseorang padahal sudah jelas kau tahu itu tidak benar (tapi ia terus saja bertingkah dan berkata tidak sesuai faktanya) kupikir adalah penglihatan dari seorang wallflower. Seperti line di atas, kau melihat segalanya, kau diam, dan kau mengerti. Yaa... mungkin awalnya kau tidak mengerti mengapa seseorang di hadapanmu memilih untuk mengungkapkan yang tidak sesuai faktanya, tapi kau mencoba untuk mengerti, dan mungkin... akan menjadi sedikit kecewa.

Dan dalam hati kau berkata, 'why are you lying?'
...dengan penuh kekecewaan dan hilang rasa percaya terhadap orang tersebut.

Wallflower. It's fun to see someone's lying when you know the truth. Rather than say they lied directly, I choose to be quite, sit elegantly, and enjoy the show.

Well, mungkin aku akan mengganti header blog-ku kapan-kapan...

January 19, 2016

Everyone Trips, Everyone Falls

I came here with a broken heart that no one else could see
I drew a smile on my face to paper over me
But wounds heal and tears dry and cracks they don't show
So don't be so hard on yourself, no

Let's go back to simplicity
I feel like I've been missing me
Was not who I'm supposed to be
I felt this darkness over me
We all get there eventually
I never knew where I belonged
But I was right and you were wrong
Been telling myself all along

Don't be so hard on yourself, no
Learn to forgive, learn to let go
Everyone trips, everyone falls
So don't be so hard on yourself, no
'Cause I'm just tired of marching on my own
Kind of frail, I feel it in my bones
Won't let my heart, my heart turn into stone
So don't be so hard on yourself, no

I'm standin' on top of the world, right where I wanna be
So how can this dark cloud be raining over me
But hearts break and hells a place that everyone knows
So don't be so hard on yourself, no

Let's go back to simplicity
I feel like I've been missing me
Was not who I'm supposed to be
I felt this darkness over me
We all get there eventually
I never knew where I belonged
But I was right and you were wrong
Been telling myself all along

Oh, Oh, Oh, I
I learned to wave goodbye
How not to see my life
Through someone else's eyes
It's not an easy road
But no I'm not alone
So I, I won't be so hard on myself no more

Don't be so hard on yourself, no
Learn to forgive, learn to let go
Everyone trips, everyone falls
So don't be so hard on yourself, no
'Cause I'm just tired of marching on my own
Kind of frail, I feel it in my bones
Won't let my heart, my heart turn into stone
So don't be so hard on yourself, no

'Cause I'm just tired of marching on my own
Kind of frail, I feel it in my bones
Won't let my heart, my heart turn into stone
So don't be so hard on yourself, no

Don't Be So Hard On Yourself - Jess Glynne

Di line pertama lirik lagu saja, aku sudah merasakan mataku menghangat. Lalu selanjutnya, aku bisa merasakan pipiku basah...

January 15, 2016

Pray For The Earth

Di akhir tahun kemarin, baru saja aku menuliskan doa agar bumi ini menjadi lebih baik.

Siang itu aku sedang bermain permainan online di kamar dengan televisi menyala. Sayup-sayup aku mendengar penyiar berita menyebutkan ledakan. Telah terjadi ledakan di Jakarta. Aku yang sedang asyik dengan permainan online-ku, tidak terlalu memperhatikan tayangan televisi itu. Beberapa waktu kemudian ponselku berisik. Semua grup diskusi di Whatsapp membicarakan perihal ledakan di Jakarta yang kudengar sayup-sayup dari tv tadi. Setelah kuhentikan permainanku, aku mulai menyimak televisi dan kabar-kabar yang tersebar di grup Whatsapp.

This, is insane. Apa lagi ini? Baru saja kita memulai lagi semuanya. Awal tahun. Hampir seluruh penduduk bumi berharap dapat memulai kehidupan yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Tapi mereka? Apa ini 'hidup lebih baik' yang mereka inginkan? Dengan merusak ketenangan hidup orang lain? Gila!

Aku sama sekali tidak mengerti apa yang ada di pikiran mereka sebelum memutuskan melakukan tindakan terkutuk itu. Tidak, aku tidak mau mengerti mereka. Jihad? Apa itu yang disebut jihad? Klasik! Tidak ada ajaran apapun yang mengajarkan untuk menebarkan keresahan, kebencian, kemarahan, keburukan, kebatilan, kejahatan, tidak ada! Aku yakin itu.

Melihat peristiwa ledakan yang terjadi di ibu kota negaraku tercinta itu memang membuatku sedikit takut dan resah. Tapi, mengetahui dan melihat mereka senang karena ketakutanku? Aku tidak sudi.

Astaghfirullah...

January 09, 2016

Welcome 2016?

Hi, 2016! Well, actually, 9 January 2016. Baru saja di postingan yang terakhir, aku bilang akan rutin memposting tulisan di blog.

Ya, jadi malam tahun baru dan memasuki akhir pekan tahun baru kemarin, aku benar-benar sibuk mengurus pesanan. Memang tidak banyak, tapi cukup menyita waktu. Aku jadi tidak bisa bermalam tahun baru bersama teman-temanku. Sedih. Tapi, kalau aku tidak menyelesaikan kue pesanan, habislah aku.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya kalau tidak bermalam tahun baru bersama KADICHAREVWAY, tidak terlalu masalah. Beberapa malam tahun baru terakhir kami selalu menghabiskan waktu bersama. Sudah biasa. Terkadang malah ingin tahu, bagaimana rasanya bermalam tahun baru di rumah. Menonton film-film layar lebar yang banyak ditayangkan di televisi, melihat berita tentang betapa ramainya orang-orang menyambut tahun baru, dan sebagainya. Ya, akhirnya aku merasakannya. Bermalam tahun baru di rumah dengan aktivitas yang kusebutkan di atas, ditambah makan malam dengan layanan pesan antar yang delivery man-nya harus beberapa kali memperingatkan kalau pesanan tidak bisa datang tepat waktu karena jalanan macet di mana-mana. Apa menurutmu malam tahun baru seperti itu menyedihkan? Tidak, menurutku. Well, aku memang sedih. Tapi bukan karena pesanan delivery yang datang terlambat atau pun karena bosan menonton televisi. Aku sedih, karena merasakan sepi tidak berkumpul dengan KADICHAREVWAY. Kalau mereka membaca ini, pasti mereka kepedean. Awalnya kukira biasa saja, tapi, walaupun sedikit, ternyata ada juga perasaan sedih dan perasaan ada yang kurang-nya.

Hhhh. Ya, aku sedih saja, kita tidak pernah tahu kan, apakah di malam tahun baru berikutnya masih bisa bersama atau tidak? Mungkin bisa, tapi pasti sulit.

Sudahlah...

Well, selama seminggu ini, alhamdulillah, aku disibukkan dengan pesanan kue ku. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk sebuah niat yang baik. Akan ada banyak rintangan di depan, tapi salah kalau aku terlalu khawatir dan memikirkannya. Pikiran seperti, 'duh, takutnya nanti seperti ini, takutnya nanti seperti itu', dan sebagainya. Aku pernah mendengar nasihat seseorang, beliau bilang, "untuk apa khawatir? Untuk apa bilang nanti takutnya begini, nanti takutnya begitu? Bukankah itu namanya berburuk sangka terhadap takdir Allah?" Aku terdiam, tidak dapat berkata apa-apa. Iya, benar, ternyata tanpa kusadari, aku pernah, bahkan sering berburuk sangka terhadap apa yang akan terjadi di kemudian hari. Astaghfirullah. Padahal, semua yang akan terjadi nanti adalah rahasia Allah. Mungkin kita bisa memperkirakan langkah apa yang seharusnya kita ambil untuk meminimalisir kegagalan atau kesalahan atau hal negatif lainnya, tapi dengan diiringi doa dan prasangka baik terhadap hal tersebut. Mendengar nasihat itu, aku semakin yakin, bahwa doa dan pikiran positif akan apa yang terjadi di depan adalah kekuatan yang tidak ada bandingannya. Bismillah all the way...

December 07, 2015

A Note (A Random Note, Really) Part 3

Mengetahui teman-teman memiliki pekerjaan dengan pendapatan tetap--ditambah kadang liburan gratis memang sedikit menimbulkan rasa iri. Aku pernah menghindari mereka untuk menata hatiku. Tapi, aku tahu, Allah Maha Adil. Don't envy someone on a blessing, because you don't know what God took from him. Aku terdiam lalu tersenyum. Sungguh Allah Maha Adil. Aku hanya perlu sedikit bersabar menunggu giliranku untuk bahagia. Ibuku selalu bilang, rezeki setiap orang tidak akan tertukar. Lagipula, banyak kebahagiaan yang kulalui selama ini. Kalau aku masih tidak bersyukur hanya karena satu hal, manusia macam apa aku? Banyak hal yang telah teman-temanku alami, mengingat itu, aku semakin yakin kalau Allah Maha Adil. Terlebih saat aku menyadari bahwa aku kan tidak tahu bagaimana perjuangan mereka dalam menghadapinya. Perjuangan mereka pasti terbayar, kan? Ya, perjuangan mereka terbayar. Walaupun agak iri, tapi rasa sayangku pada mereka lebih besar dari itu.

Kini giliranku, perlahan tapi pasti. Walaupun belum terlalu kelihatan seperti teman-temanku, tapi aku berusaha menjalaninya. Aku juga manusia. Kuakui aku pernah marah pada keadaan. Tapi saat aku sadar aku terlalu berlebihan, aku tenang kembali. Aku tidak boleh melupakan blessings yang aku dapatkan hanya karena aku tidak mendapatkan satu hal yang aku inginkan. Semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak. Aku memohon ampun akan hal itu, lalu aku tata lagi jalanku.

December 06, 2015

A Note (A Random Note, Really) Part 2

Hanya sekedar memberitahu. Ini kusalin dari notes di ponselku yang sudah kutulis seminggu lalu.

Lanjutan dari postingan sebelumnya...

Aku sadar aku sudah banyak berubah. Anehnya, aku tidak suka dengan perubahan yang dulu pernah aku inginkan ini. Kulihat selembar foto dengan sosok gadis kecil sedang bersandar di belakang mobil ayahnya yang terparkir di tepi jalan. Rasanya aku ingin sekali datang ke waktu foto itu diambil dan menasihati gadis tersebut dengan apa saja yang harusnya dia ambil nanti agar tidak salah jalan, agar tidak bingung. Agar tidak seperti dia yang sekarang ini. Aku pernah menangisi hal itu. Tapi aku tahu, kita semua tahu, itu adalah hal yang klise, hal yang mustahil dilakukan. Walau begitu, bukan berarti menangisinya adalah hal yang tidak ada gunanya. Aku percaya menangis ada gunanya, bahkan untuk hal yang bodoh sekalipun. Menangis membuatku lega, walau aku tahu, menangis tidak mengubah hal yang telah terjadi, tapi, setelah menangis aku tahu aku bisa melakukan perbaikan agar hal tersebut tidak terulang lagi. Atau setidaknya, energi baru timbul setelah menangis. Energi untuk melangkah maju.

December 05, 2015

A Note (A Random Note, Really)

Apa namanya yang dalam suatu waktu dapat mengalami perubahan yang tidak hanya sekali?

Jika menghabiskan waktu di rumah disebut sebagai pengangguran, aku sangat menikmati waktu-waktu menganggurku. Hey, jangan salah paham, bukan maksudku menyenangkan diri sendiri dengan bilang begitu. Memang sebaiknya aku tidak menganggur, kan? Oke, apa yang akan kubahas kali ini? Yaitu tentang apa yang kupelajari selama satu tahun ini. Kalau agak melenceng, setidaknya aku berusaha sesuai dengan topik yang akan kutulis.

Tahun ini merupakan tahunku bebas dari segala hal yang berkaitan dengan kewajiban untuk sekolah. Maksudku, rutinitas seperti bangun pagi, mandi, cepat-cepat berangkat ke kampus/sekolah--saat masih sekolah dan belajar hingga sore lalu pulang, mandi, makan, dan tidur. Berulang seperti itu di tiap harinya. Aku masih ingat, ingat sekali, pada saat aku menjalani itu semua--terutama saat aku rasanya malas sekali bangun pagi untuk siap-siap berangkat sekolah atau ke kampus, aku selalu bertanya-tanya bagaimana rasanya tidak punya kewajiban seperti itu dan hanya menikmati waktu bebas? Aku merasakannya sekarang. Sangat menyenangkan. Sungguh sangat menyenangkan memiliki banyak waktu luang. Aku bisa melakukan apa yang kusuka. Aku bisa menulis atau membaca di tengah malam tanpa khawatir besok akan terlambat ke sekolah atau ke kampus, aku bisa tidur dini hari, aku bisa membuat kerajinan tangan dengan bebas, aku bisa jalan-jalan ke tempat rekreasi tanpa takut mengantri dan ramai, aku bisa melakukan semua hal yang tidak bisa kulakukan saat aku masih sekolah atau kuliah. Kau tahu? Itu sangat menyenangkan.

Setelah wisuda, aku pergi ke luar kota untuk liburan bersama teman-teman sekelasku di kampus. Aku bahkan pergi ke kampung halamanku sebulan setelahnya. Selain itu, aku menikmati waktu luangku di rumah.

Memiliki banyak waktu luang membuatku banyak berpikir. Terdengar keren, bukan, 'banyak berpikir'? Tidak usah salah paham. Karena waktu luang yang terlalu banyak, maka jadi banyak hal yang kupikirkan. Dari yang baik sampai yang buruk. Aku pernah merasa amat sangat terpuruk karena pikiranku sendiri. Pikiran negatif tentunya. Aku pernah berada dalam keadaan dimana aku tidak bisa mengontrol pikiranku. Aku berjalan dengan limbung. Aku merasa semua yang ada di hadapanku samar. Aku tidak bisa melihat dengan jelas mana yang hitam dan mana yang putih. Kadang hitam terlihat putih, putih terlihat hitam. Entahlah. Perkataanku terhadap orang lain bahkan menyakitkan. Aku tidak mengenal diriku sendiri lagi. Aku lebih terpuruk lagi saat menyadari apa yang kulakukan setiap berlaku buruk. Tapi, syukurlah aku bisa melewatinya. Aku tidak tahu, semua berlalu seiring berjalannya waktu. Di saat aku berbuat negatif, ada sesuatu yang membisikkanku. Bisikan masa lalu. Masa aku yang dulu, aku yang bisa mengontrol diriku dan semuanya dengan baik dan tepat. Ya, aku sadar, aku sudah terlalu mengikuti keinginanku. Aku pernah baca di sebuah novel. Di situ tertulis, jika kau terlalu mengikuti keinginanmu kau tidak akan bisa dewasa, kau akan semakin seperti bayi. Kadang, memang batas itu sangat diperlukan untuk mengembalikan kita ke jalan yang benar lagi.

December 01, 2015

A Note

Apa yang akan terjadi di 2016 nanti?

Hey, 2015 hanya tersisa satu bulan lagi. Seperti 2014, tahun ini terasa cepat sekali bagiku. Kalau 2014 kuhabiskan dengan menyelesaikan skripsi--sehingga aku benar-benar merasa 2014 begitu cepat berlalu, 2015 sepertinya menjadi tahun yang agak santai bagiku. Aku benar-benar menikmati kebebasan pasca kuliahku. Dan, oh ya, aku juga memulai bisnisku di tahun ini--akhir tahun tepatnya.

Ya, beberapa bulan sebelum aku membuka bisnis kueku, aku melamar ke berbagai tempat dan perusahaan untuk mendapat kerja. Tapi sepertinya hal tersebut hanya bertujuan untuk membuatku semakin yakin membuka bisnis kue. Jadi aku memulainya, benar-benar dari nol. Aku harap teman-temanku tidak mengasihaniku karena tidak memiliki pekerjaan tetap seperti mereka. Mereka masih mendorongku untuk mencari pekerjaan dengan pendapatan tetap. Kuaminkan itu. Tapi jangankan teman-temanku, orangtuaku--ibuku, walaupun sangat mendukung bisnisku, aku masih bisa merasakan kegelisahannya terhadap masa depan anaknya. Tentu saja. Tapi, aku bilang pada ibu untuk mendoakanku yang terbaik. Aku yakin doa ibu memiliki intensitas terkabul yang sangat tinggi.

Hingga sampai ke penghujung akhir tahun ini, aku merasa sangat santai. Ya Allah, semoga tidak terjadi hal yang buruk di kemudian hari. Aku selalu memikirkan itu. Tapi aku menikmatinya. Menikmati kesantaianku. Bukankah hal yang membuatmu menikmatinya adalah bukan hal yang sia-sia? Untuk mengatasi kegundahan akan apa yang akan terjadi nanti, aku hanya bisa berdoa.

Aku menulis ini karena aku banyak waktu luang sekarang. Banyak tulisan yang masih kusimpan dalam draft. Setelah kulihat, blog ini sungguh random sekali. Ya, karena aku masih menuliskannya--atau membaginya berdasarkan mood. Aku tidak bisa berjanji untuk rutin memposting, tapi kalau aku merasa ingin dan cukup bagus untuk dipost, insya Allah aku akan mempostingnya.

Kembali tentang tahun yang berlalu..
Sungguh cepat atau lambat itu sangat relatif. Aku merasa 2014 terlalu cepat karena banyak hal yang kulakukan--menyelesaikan skripsi, sedangkan 2015 juga kurasakan berlalu sangat cepat karena aku menikmatinya. Aku tersadar akan bagaimana suatu hal yang tidak menyenangkan dan sebaliknya--menyenangkan dapat membuat waktu berlalu begitu cepat. Jika merasa waktu yg menyenangkan dirasa berlalu begitu cepat, bukankah berarti akan menghadapi sesuatu yang kurang menyenangkan setelahnya. Ya, maksudku, masuk sekolah kembali setelah liburan misalnya? Atau hari Senin yang ada di depan mata padahal kau rasanya baru saja bermalam minggu. Entahlah. Yang pasti aku bersyukur atas apa yang aku dapatkan dan pelajari di tahun ini.

Bagaimana 2015 menurutmu?

August 21, 2015

Disappointed

why disappointed?
because you expect too much...

so, stop

August 19, 2015

Wonder

We're not alone, we're a lotSeems like a togetherness, whenever we're around
Those laughs and tears
And smiles and silences
And conversations

I can see you lie
Yes, you do
Between your words, I can see
I keep stare at you
Even when you stop your story
Before you realize
Before you catch me
No one see, but me

I stare at you
And wondering
Why are you lying?
Why lie?

I stare at you
And make sure
Hope it's not a lie
But it is

I stare at you
Then you see me back
You got that look
You know you trapped

I stare at you
Give you that look
Smile and smirk
Then gaze into something else
Pretend it's nothing

I know you know that I know you lie
I know you know that I see it
But why?
why lie?

Then I understand that it doesn't matter
I know, if you lie, it means like I, We, don't deserve to know,
or too hard to explain, or it's embarrassing for you, 
or something else
I know you've been thinking of it
to not tell to anybody
to us
to me

But I can see you lie
And it's okay...


(This is a writing from March 2015 I just re-read from my 'sacred' book, and I think it's worth to post in here...)