Showing posts with label friends. Show all posts
Showing posts with label friends. Show all posts

January 09, 2016

KADICHAREVWAY: Happy Birthday, Dian!

Dian adalah yang pertama dari KADICHAREVWAY memasuki usia 24 tahun. 24 tahun! Lalu memangnya kenapa?

Setiap bertambah umur, baik itu aku atau pun teman-temanku, khususnya yang seumur, aku tidak pernah merasa kami bertambah tua. Jujur saja, aku merasa kami sama saja. Sama seperti dulu. Masih suka bermain, tidak serius, bercanda, dan melakukan banyak hal bodoh. Tapi, kalau disadari, semua hal sebenarnya sudah tidak bisa sama lagi. Banyak hal yang seharusnya sudah tidak kita lakukan di usia yang semakin bertambah. Kadang aku sedih memikirkannya. Aku lebih senang kalau tidak menyadarinya. Bagaimana menurutmu? :p

Anyway!




Happy Birthday, Dian!!!
Semoga semua niat baikmu terlaksana dengan baik dan lancar. Aamiin
Have a blessed year!

December 10, 2015

KADICHAREVWAY: Ika's 23rd Birthday

Paling akhir. Ika baru saja berulang tahun yang ke-23--tanggal 9 Desember kemarin--di saat yang lain sudah mau 24. Selang sebulan kemudian, Dian yang lebih dulu tambah usia ke 24. Haha.


Sayang sekali personilnya tidak lengkap. Dian sedang berada di Lampung sehingga kami melakukan video call agar tetap bisa 'berkumpul'. Wahyu harus absen karena ada acara mendadak.


Anyway! Happy Birthday Ika!
Have a wonderful and blessful year around!

August 19, 2015

Wonder

We're not alone, we're a lotSeems like a togetherness, whenever we're around
Those laughs and tears
And smiles and silences
And conversations

I can see you lie
Yes, you do
Between your words, I can see
I keep stare at you
Even when you stop your story
Before you realize
Before you catch me
No one see, but me

I stare at you
And wondering
Why are you lying?
Why lie?

I stare at you
And make sure
Hope it's not a lie
But it is

I stare at you
Then you see me back
You got that look
You know you trapped

I stare at you
Give you that look
Smile and smirk
Then gaze into something else
Pretend it's nothing

I know you know that I know you lie
I know you know that I see it
But why?
why lie?

Then I understand that it doesn't matter
I know, if you lie, it means like I, We, don't deserve to know,
or too hard to explain, or it's embarrassing for you, 
or something else
I know you've been thinking of it
to not tell to anybody
to us
to me

But I can see you lie
And it's okay...


(This is a writing from March 2015 I just re-read from my 'sacred' book, and I think it's worth to post in here...)

March 26, 2015

Hello Graduate!

Alhamdulillah...
Akhirnya wisuda
Wis, udah...


Lega rasanya kalau mengingat kembali perjuangan selama kuliah, skripsi. Bolak-balik konsultasi materi dan produk ke dosen pembimbing dan dosen penguji, revisi, yang rasanya pengen banget bikin chip buat dosen-dosen biar kedeteksi GPS karena susah dicari, atau pinjem peta perampoknya George dan Fred Weasley. Haha. Lalu kuat-kuatan iman menghalau magernya nulis dan berangkat ke kampus, karena kalau mager terus skripsinya nggak selesai-selesai. Hingga akhirnya seminar proposal dan sidang skripsi terlewati sampai akhirnya wisuda. Ih, seneng banget...



Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang. Akhirnya bisa pakai baju itu. toga. I feel like a wizard student in this cape...


Para Pejuang Skripsi
and beacuse we're blue, it's Ravenclaw!!!



It's so warm inside my heart to see their excitements in seeing me graduate. They did not even mind to attend the ceremony 'til the end and wait quite long for me taking photos with my friends. This is from you and to you mom and dad..


Time flies but memory lasts. Hard times passed but real life awaits. However, this deserves to be celebrated! Thanks guys for all your company and supports and presents and everything. Gonna miss ya!


...and there were you too
Thanks for coming


We officially graduate! Ika from Kadicharevway

Not all from Kadicharevway can come. It's because they're working. So Revi represented Wahyu and Dian.

Ika, Icha, Dian, Revi, Wahyu. So happy that we all finally graduate. Yeay!


Alhamdulillah tahap ini selesai. Gue nggak henti-hentinya berucap syukur. Gue juga terimakasih banget buat ibu dan bapak dosen pembimbing couple gue yang unyu-unyu, yang bikin gue ngerasa kayak anaknya, yang super duper triple baik banget, yang selalu nerima kesalahan dan membantu gue memperbaikinya sampai tuntas, yang bikin surprise sekaligus terharu dengan kiriman ucapan selamat wisuda lewat LINE pas upacara wisuda >.<, makasih bu, pak, semoga Allah SWT selalu memberkahi dan melindungi ibu dan bapak sekeluarga. Aamiin.

Teman-teman? Ah, tidak perlu disebutkan lagi. Sudah otomatis. Mereka lah yang lumayan banyak direpotin karena seringnya bareng mereka kalo di kampus. Hahaha. Makasih guys!

It was really a long and tiring journey. It was also a new experience for me to meet kind of human like you guys. Really you guys gave me new perspective in seeing life, in friendship, in many things either good or bad (walau banyakan bad nya sih, hahaha), but it's okay. I learned about how to not care about uncertain things but also care about it at the same time and always laugh at many things. You guys did not even mind to do crazy-stupid things, that's what I like XD. You guys are spontaneous, over-confident, easy-going, silly, and... what can I say? absurd? Wow, cool, finally I can learn something from you and find the goodness part of you guys, hahaha.

Abis wisuda, langsung inget masa-masa kuliah. Inget masa-masa orientasi, inget gimana rusuhnya FT waktu orientasi karena massanya banyak dan susah dikumpulin, orientasi pas lagi bulan puasa panas-panasan. Inget praktek di kampus yang nggak jarang bikin capek, haha. Inget magang, terus jadi guru trainee di SMK. Inget jalan-jalan bareng Gengges, LM Corp Group, Tukang Makan, Anak Etan hahahhahahahahaha XD

February 17, 2013

Tidung is All About - Day 5 (When Blue Turns Brown)

Time to go home...
Alarm yang berbunyi dari ponsel masing-masing membangunkan kami. Pukul 4 pagi. Oh, masih jam 4? Kami tidur lagi. Kebluk memang. Jam setengah lima, kami benar-benar bangun. Mandi, beres-beres, persiapan untuk pulang, kembali ke Jakarta. Nasi uduk pagi itu adalah sarapan terakhir kami di pulau Tidung.

Setelah semua rapi, termasuk rumah yang akan ditinggalkan sudah rapi dan bersih, kami berangkat pulang.






















Hey Tidung, thank you for every beautiful piece of experience, memories, and friendship you gave us. You are our inspiration to make another whatever our plans or dreams come true.

Setibanya di Jakarta...

I: "bokap gue ngga bisa jemput. Jalan masuk ke Angke tuh masih banjir."
L: "bokap gue juga ngga bisa ke sini. Kata bokap gue, kita disuruh nyari pos polisi biar bisa dievakuasi."

Bingung gimana caranya pulang. Kami terjebak banjir di Angke. Dermaganya sih, ngga banjir ya, tapi jalan masuknya banjir, bikin kita ngga bisa dijemput siapa-siapa dari rumah. Di sana ngga cuma kami yang kebingungan. Banyak orang yang baru sampai dermaga bingung gimana pulangnya. Bahkan turis asing. Gue diam ngeliatin mereka. Sorry, for the uncomfortable, I hope you guys think about it as a fun experience, kata gue dalam hati. Gue berlalu.

Gue dan teman-teman memutuskan naik odong-odong...
Iya, odong-odong namanya (motor yang belakangnya pake bak, bukan wahana yang biasa dinaikin anak-anak), karena cuma itu yang ada di sana waktu itu, awalnya cuma untuk keluar dari Angke.

Sesampainya di luar, masih belum banyak kendaraan yang melintas, terutama kendaraan umum. Penumpang lain yang dari Angke barengan sama rombongan kami, turun duluan. Kami ragu, antara turun atau nggak. Di sana ngga ada angkutan umum sama sekali. Taksi ada yang lewat beberapa, tapi... ya pasti mahal lah! Apalagi pas denger kabar banjir masih tinggi di daerah sana. Jadi kami terusin naik odong-odong, bilang, kalo kita mau dianterin sampe ada halte Transjakarta, posko banjir, atau pilihan terakhir, stasiun Kota.

Bener aja, masuk ke kawasan Pluit, banjir. Jalanan ramai dengan kegiatan evakuasi. Awalnya banjir belum parah, namun, semakin ke sana, banjir semakin keliatan parah. Beuh, terisolasi. Wahyu langsung memainkan kamera. Jepret sana, jepret sini.

Semua ramai. Warga yang lagi ribet mengangkut barang-barangnya, yang lagi sibuk naik ke perahu karet, yang mengungsi, polisi yang sibuk mengevakuasi, dan mobil-mobil media yang siap meliput serta masih banyak lagi. Semua ribet, semua sibuk, semua bad mood kayaknya. Pemandangan yang sangat tidak menyenangkan, sungguh miris mengingat kami baru saja dimanjakan dengan pemandangan tak terelakkan indahnya.

Mau turun ke pos polisi biar dievakuasi, tapi kok kayaknya ragu gitu...

Ini beberapa foto yang kami (sebenernya sih, Wahyu) ambil. Banjir Jakarta (Utara).






Bahkan jalan tol pun dibuka untuk sepeda motor dan odong-odong yang kami naiki


Di Tidung, airnya biru
Sampai di Jakarta, airnya cokelat



Di Tidung, kami banana-boating
Sampai di Jakarta, kami odong-odong-ing dan gerobak-ing





 Ika panik


gue ngeliatin banjir


 Wayu narsis


 Repi ngga keliatan




Di Tidung, kami snorkeling
Sampai di Jakarta, kami banjir-banjiran





lemah, letih, lesu, lunglai





Sesampainya di stasiun Kota, Revi yang masinis langsung nyari tiket KRL buat pulang ke Bekasi. Kami lega karena sebentar lagi sampai ke rumah. Sudah, penderitaan sudah selesai, melewati banjir, naik odong-odong yang jadi mahal banget bayarnya, naik gerobak, dan jalan kaki banjir-banjiran lagi menuju stasiun. Semua bercampur jadi satu, lesu, bete, kesal, capek, laper, semuanya. Then...

R: "waduh, semua KRL di-cancel hari ini, masih belum bisa lewat, masih banjir. Ck."
Semua makin lesu, makin bete, capek, laper, kesal. Hopeless. Gimana kita pulang??
"yah, trus gimana dong?"
"tadi harusnya kita turun pas ada posko biar bisa ikut dievakuasi."
"haduh, gue ngga tau lagi nih."
Penderitaan belum selesai...

Gue juga bingung, ngga tau harus gimana. Ngeliat semuanya udah pada bete dan capek. Itu pasti, gue juga. Gue ngga tau apa yang harus gue lakukan, tapi kaki gue memaksa gue melangkah, pergi meninggalkan temen-temen gue yang terduduk di dalam stasiun. Gue ngga tau apa yang gue pikirin, tapi gue mau keluar dari situ...

Gue lihat keadaan di luar stasiun. Di luar, ngga ada mobil polisi, tim SAR, atau posko banjir dan evakuasi apapun. Yang ada cuma mikrolet (angkutan umum) dan Transjakarta. Transjakarta? Apa bisa? Gue ngga yakin. Waktu itu bus-nya lagi ngga jalan, jadi gue ngga yakin kami memilih naik Transjakarta. Sisanya tinggal mikrolet.

L: "bang, ini mikroletnya sampe (daerah) mana ya?" gue yang tadinya ngga kepikiran buat nanya, akhirnya nanya juga.
Bang mikrolet: "sampe Tanah Abang, neng."
L: "oh, makasih ya bang."
B: "mau naik ngga, neng?"
L: "ntar dulu bang, tanya yang lain dulu." bodohnya, kenapa gue ngga telepon aja salah satu temen gue, biar ngga usah bolak-balik. Tapi gue takut, di situ abang-abang semua. Jadi gue balik lagi ke dalam stasiun. Mungkin kalo dari Tanah Abang, ada kereta yang jalan, pikir gue.

R: "Tanah Abang? Wih, itu mah parah banjirnya! Paling ngga, tuh, dari Senen." gue kaget. Sial, terus kita gimana dong pulangnya?!!
L: "ha? Senen ya?" gue balik lagi ke luar.

L: "kalo ke Senen bisa ngga bang naik ini?"
B: "emang neng mau ke mana?"
L: "mau ke Bekasi, bang. Tapi keretanya ngga jalan semua."
B: "oh ke Bekasi mah bisa naik ini ke Senen."
L: "yang bener bang? Ntar dulu, mau tanya lagi."
Gue balik lagi ke dalam stasiun untuk ngabarin kalo mikroletnya bisa ke Senen. Waktu itu gue ngga kepikiran kalo di Senen ada metromini 47 yang ke Pondok Kopi. Patokannya Pondok Kopi, karena itu yang paling familiar buat kita dan paling dekat Bekasi, yang artinya, dekat rumah. Pas inget, langsung gue cepetin langkah gue sampe hampir kepleset di tangga pintu masuk stasiun.

L: "ayo kita naik mikrolet ke Senen. Di Senen, nanti kita naik 47 ke Pondok Kopi."
Untuk memastikan, Revi dan Wahyu, para cewek cowok, ke luar, ke tempat mikrolet dan nanya-nanya.
W: "bener ke Senen, ayo kita naik mikrolet aja. Tadi ada ibu-ibu juga yang mau ke Bekasi."
Angin segar. Kami jadi lebih tenang. Bete, lesu, kesal, jadi berkurang. Tapi capek masih menyerang.
Ah, yang penting, kami bisa pulang...


I: "sumpah ya, semuanya ini gue baru pertama kali. Pertama kali mati lampu pas ke Tidung, pas baru nyampe lagi! Pertama kali naik kapal pas ombaknya lagi tinggi banget..."
R: "pertama kali banana-boating di Tidung."
I: "itu sih, emang dulu belom ada banana-boat di Tidung."
L: "pertama kali ngga dijemput bokap lo kan, Ka? Hahaha"
I: "iya! Trus pas naik kapal pulang, itu pertama kalinya naik kapal dengan ombak yang setenang itu. Itu ombak tertenang selama gue naik kapal dari Tidung."
D: "pertama kali banjir-banjiran pas pulang."
I: "iya! Sumpah ya kalian bener-bener ngasih sesuatu yang baru."
W: "hahaha iya dong. Seru kan jadinya..."

Thank you Ikaaa!
Thank you for the amazing island!
Hahahaha!! :D

*sorry for late post by the way, and thank you for keep reading and visiting :D

February 05, 2013

Tidung is All About - Day 4 (Our Hidden Beach)

Days gone so fast, mengingat besok udah harus kembali ke Jakarta. Hari ini kami habiskan waktu lagi dengan bersepeda sambil mencari tempat baru. Hari ini juga, kami sepedaan secapek-capeknya dan sejauh-jauhnya. We're gonna leave Tidung... tomorrow.

Tempat pertama di hari ke-4 di-lead oleh Dian. Bersepeda menyusuri jalan dan gang-gang mengikuti Dian yang memimpin di depan. Walaupun jalanannya becek, ngga beraturan, nggak tau juntrungannya, tapi kami tetap ngikutin. Namanya juga jalan-jalan sepedaan. Hingga akhirnya kami sampai di tempat yang mirip pelabuhan/dermaga, tapi bukan pelabuhan atau dermaga umum, cuma buat nelayan-nelayan Tidung yang bermukim di situ aja.

Angin dan matahari menyambut kami setibanya di sana. Hari ini, Tidung terik. Sempat bikin kami ragu untuk pulang besok. Takutnya, setelah seharian terik, hari berikutnya hujan deras. Kadang, galaunya cuaca, bisa nular juga...






gantian Dian yang merem









Tadinya, kami mau langsung lanjut nyari tempat lain abis dari sini. Tapi berhubung hari Jum'at, jadi yang cowok-cowoknya juga males jalan jauh-jauh. Jadi kami di sini sebentar, ber-henpon (di sini dapet sinyal loh!) sambil menunggu waktu solat Jum'at. Meanwhile yang cowok solat Jum'at, para cewek menunggu dengan makan bakso super gede dan nonton tv di rumah.

Lanjut lagi jalan-jalan. Revi yang pengen banget beli oleh-oleh, minta ditemenin dulu nyari tempat jualan oleh-oleh yang bagus. Akhirnya kami menuju ke arah Jembatan Cinta.

Biar ngga usah bayar parkiran, gue, Ika, dan Dian, nunggu sekalian jagain sepeda di luar, di depan gerbang pintu masuk area Jembatan Cinta. Ya nggak persis di depan gerbangnya, sih. Di sana ada SMK yang di depannya ada taman dan tempat duduk, kami bertiga nunggu di situ. Wahyu, ikut nemenin Revi belanja. Ini kok ya kebalik. Cowok yang belanja, cewek yang nungguin. Selama menunggu, ada tontonan menarik yang bisa kami lihat. Anak-anak baru SMK di sana lagi pada dikerjain seniornya haha. Entah orientasi siswa baru, entah orientasi ekstrakurikuler.


 itu tuh yang mau belanja tuh


 di sini para cewek nunggu



 ini nih, anak-anak SMK yang lagi dikerjain
gue ngambil fotonya ngeri-ngeri, kan serem kalo ntar disamperin


Know what? Mereka yang belanja, mereka cowok loh ya, lama bangeeet. Mungkin ada satu jam kami nunggu. Iiiiih! Karena tontonannya udah abis, kami telepon mereka yang lagi belanja itu. Ngga lama, mereka muncul. Ngeliat mereka jalan, kami iseng-iseng ngobrol...
L: "liat deh tuh orang dua."
I: "kenapa emangnya?"
L: "trus coba liat ke anak-anak SMK berseragam itu."
D: "kenapa sih?"
L: "beda banget. Yang satu (anak-anak SMK) tegap, keren, gagah (efek seragam kayaknya), yang satunya lagi (Wahyu dan Revi) cengengesan, selengean. Hahaha."
I: "hah? Oh iya ya! Hahahahaha!"
D: "oh iya! Hahahaha!"
Setelah dua orang itu datang dan keheranan, kami pura-pura diemin mereka gara-gara bete nunggu kelamaan.

Kami lanjutkan lagi perjalanan menuju bagian barat pulau Tidung. Rutenya, ikutin aja jalan lurus dari arah Jembatan Cinta ke barat.


 pantai dengan banyak rumput laut


 ouch, I'm sorry seaweed, for stepping on you


 get ready to another amazing place
 

Foto-foto di atas diambil di sebuah pantai yang tepinya banyak terdapat rumput laut dan dangkal. Di sini, kami mulai benar-benar merasakan panasnya Tidung. Hari-hari sebelumnya, ngga berasa. Ada enaknya juga liburan ke pulau pas musim hujan. Di pulaunya ngga terlalu panas, tapi ngga hujan juga, soalnya, awan mendungnya cuma lewat, langsung ketiup angin dan ya itu, awannya ke Jakarta (pernyataan macam apa ini?!). Haha. Ya, karena seringnya main juga sih, jadi ngga terlalu berasa. Tapi hari ini, di pantai ini, panasnya berasa. Sayang, fotonya cuma sedikit (mungkin) gara-gara memory card-nya corrupt, padahal lumayan banyak foto yang diambil di sini.

Kami lanjutkan perjalanan, cari tempat lagi.

Kami nemuin tempat-tempat bagus yang belum kami datangi kemarin (yang udah kami datangi, kami lewati). Kami melewati rumah penduduk, tepi pantai, hutan, sampe padang ilalang.


 bersepeda di tengah padang ilalang


Semakin ke sana, jalanan semakin padat dengan semak dan tanaman perdu, hingga yang terlihat cuma sebatas garis yang tidak terlalu lebar, tapi bisa dilalui orang, sepeda, atau pun sepeda motor.

Itu sih, namanya jalan setapak, Cha!
Sst, diem ah. Lanjut lagi.

Di jalanan yang menyulitkan kami menggowes sepeda itu, samar-samar kami mendengar deburan ombak. Semakin jauh dan semakin dalam kami berjalan masuk ke pepohonan-semak belukar, semakin jelas suara ombak itu. Zrasss, zrasss... suara ombak makin jelas terdengar. Feeling gue mengatakan, tempat yang akan kami temukan setelah jalanan penuh semak belukar ini akan indah.

R: "Samudera, di atas air." kata Revi pas sampe di pantai.
Semuanya ketawa.
Gue rasanya pengen loncat dari sepeda dan membiarkan sepedanya jatoh, lalu langsung lari menuju pantai. Tapi gue inget, kalo sepedanya rusak, bisa-bisa gue susah pulang.

Another special 'dishes' from Tidung.

This, is our hidden beach...






 'shooting' film "Samudera Di Atas Air 2"
Ika melawan dementor (Revi)









Ini pantai tersembunyi kami karena waktu itu pantai ini sepi, jarang ada orang yang lewat. Jalanan menuju ke sini juga sempit, berkelak-kelok, dan penuh semak belukar.














don't forget to make a sand-mark


Malamnya, alhamdulillah cerah, kami keluar ke dermaga dekat rumah untuk melihat bintang. Nggak terlalu banyak bintang malam itu, tapi ada bulan, dan tentu aja, kami berlima. Yang penting bareng-bareng, berlima, sudah cukup.

A beautiful place with gorgeously amazing friends is..
UNFORGETTABLE, UNCHANGEABLE, IRREPLACEABLE
What a beautiful farewell...